Di tengah gempuran arus globalisasi dan kemajuan teknologi, tantangan terbesar dunia pendidikan bukan lagi sekadar mencapai target akademik, melainkan bagaimana membentuk karakter generasi muda. Fenomena ini nyata terjadi di banyak daerah, termasuk di SMP Negeri 55 Muara Jambi, yang berlokasi di Desa Sekumbung, Kabupaten Muara Jambi.
Ironisnya, desa yang kaya akan nilai-nilai adat ini justru menghadapi masalah di mana murid-muridnya mulai merasa asing dengan budayanya sendiri. Mereka lebih akrab dengan media sosial, game online, dan budaya luar, yang perlahan mengikis nilai-nilai luhur seperti sopan santun, gotong royong, dan tanggung jawab.
Jembatan Budaya: Inovasi Guru BK Turyono
Melihat kondisi ini, Pak Turyono, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMPN 55 Muara Jambi, mengambil langkah transformatif. Ia percaya bahwa kearifan budaya lokal Jambi bisa menjadi jembatan kuat untuk menanamkan karakter pada murid. Inilah yang melahirkan inisiatif praktik baik "Pelita Karakter Budaya Jambi."
Berdasarkan asesmen yang dilakukan bersama guru, murid, dan orang tua, empat nilai karakter utama diidentifikasi dan menjadi fokus layanan informasi, yaitu:
Tanggung Jawab
Disiplin
Gotong Royong
Cinta Budaya
Integrasi Budaya dan Teknologi dalam Pembelajaran
Sebagai Guru BK, Pak Turyono mengintegrasikan nilai-nilai karakter ini dengan dua warisan budaya Jambi yang ikonik:
Candi Muara Jambi: Mengajarkan nilai gotong royong dan cinta budaya
Sungai Batanghari: Mengajarkan nilai tanggung jawab dan disiplin
Dalam pelaksanaannya, ia menggunakan pendekatan Deep Learning (pembelajaran mendalam) dengan alur ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi) .Pendekatan ini memastikan murid tidak hanya sekadar belajar, tetapi juga mengalami dan menginternalisasi nilai secara mendalam.
Tahapan Pembelajaran yang Dilakukan:
Dampak Positif dan Testimoni
Inisiatif ini telah didiseminasikan pada komunitas belajar Sekumbung Learning Community dan mendapatkan dukungan penuh dari kepala sekolah dan rekan guru
Menurut Kepala Sekolah SMPN 55 Muara Jambi, praktik ini berdampak positif, terutama dalam menanamkan nilai-nilai kerja sama, gotong royong, saling menghargai, dan saling menghormati, Contoh konkritnya terlihat dari semangat bergotong royong siswa saat membuat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lingkungan sekolah
Respon dari Murid:
Murid-murid juga menyambut baik metode belajar ini. Mereka merasa:
"Enak belajarnya, dapat pesan moral dari Batanghari: bertanggung jawab menjaga lingkungan dan cinta kepada budaya dan alam."
"Seru dan menyenangkan, bisa mengenal warisan budaya lebih dekat."
"Asik sih bisa belajar sambil seru-seruan. Sering-sering belajarnya, Pak!"
Inisiatif Pelita Karakter Budaya Jambi oleh Pak Turyono membuktikan bahwa budaya lokal bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga modal kuat untuk membangun karakter bangsa di masa depan.
Komentar
Posting Komentar