Koneksi Antarmateri - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Turyono, S.Pd
CGP Angkatan 5 Kabupaten Muaro Jambi
Tujuan Pembelajaran Khusus:
CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Dalam proses pembelajaran, seorang guru tentunya harus bisa menuntun murid dalam mencapai perkembangan yang maksimal dan mengarahkan murid dalam menghadapi kehidupannya. Untuk itu seorang guru bukan hanya mengajarkan muridnya mengenai materi pelajaran saja tapi juga mengajarkan murid bagaimana menjadi individu yang baik dalam kehidupan sehari hari sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang berlaku. Prinsip-prinsip dan nilai–nilai kebajikan yang dipercaya tersebut harus terus dipertahankan karena adakalanya saat dihadapkan dalam sebuah masalah kita akan dihadapkan dengan situasi yang sulit dan perlu mengambil keputusan yang dapat berpengaruh pada kehidupan selanjutnya.
Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Pendidikan secara umum merupakan proses yang dilakukan individu dalam menemukan hakikatnya sebagai manusia seutuhnya dan setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda untuk dapat dikembangkan. Untuk itu pendidikan bisa dikatakan sebagai seni karena dalam prosesnya ada cara yang diterapkan berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan universal. Seperti pembelajaran dalam modul ini, sebagai guru yang menjadi pemimpin pembelajaran kita diberikan materi konsep-konsep ini mengenai cara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin.
Koneksi Antarmateri Modul 3.1 :
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan bagi seseorang sebagai pemimpin pembelajaran khususnya pada ing ngarso sung tuladha yang berarti di depan sebagai teladan, contoh atau panutan. Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan, dan tindakannya. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa guru harus bisa menjadi tauladan dan contoh yang baik kepada muridnya. Seorang guru juga harus dapat memberikan karsa dan usaha keras dalam setiap pengambilan keputusan sebagai perwujudan dari filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa yang berarti seseorang guru ditengah kesibukannya juga harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat murid-muridnya sehingga pada akhirnya guru dapat membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Dan berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantara Pratap Triloka Tut Wuri Handayani Guru hanya sebagai pamong dan mendukung murid serta mengarahkan murid menuju kebahagiaan.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Setiap guru harus memiliki nilai-nilai positif yang diyakini dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang dapat mempengaruhinya untuk menciptakan pembelajaran yang bermanfaat bagi murid dan tentunya berpihak pada murid. Nilai-nilai positif tersebut akan membimbing dan mendorong guru sebagai pendidik untuk mengambil keputusan yang baik dan tepat. Nilai-nilai positif tersebut antara lain mandiri, reflektif, kolaborasi, inovasi, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut juga merupakan prinsip yang dijunjung tinggi ketika kita berada pada posisi yang mengharuskan kita mengambil keputusan dari dua pilihan yang masuk akal, dan yang sama-sama merasa benar, dalam dilema moral (benar versus benar) atau dalam dua pilihan antara benar dan salah (bujukan moral) yang memaksa kita untuk berpikir dengan hati-hati untuk membuat keputusan yang tepat.
Keputusan yang tepat diambil sebagai hasil dari nilai-nilai positif yang kita junjung dan kita pegang teguh. Nilai-nilai positif memandu kita untuk mengambil keputusan dengan risiko paling kecil. Keputusan cenderung sesuai dengan minat dan kepatutan murid serta berpihak pada murid. Nilai-nilai positif mandiri, refleksi, kolaborasi, inovasi dan berpihak pada murid merupakan manifestasi dari latihan kompetensi sosio-emosional, kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, dan keterampilan sosial untuk membuat keputusan sadar untuk mengurangi kesalahan dan akan ada konsekuensinya.
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Ketika melihat masalah yang sebenarnya ada dalam diri kita serta masalah orang lain, coaching adalah keterampilan yang sangat penting dan efektif kita gunakan dalam penyelesaian masalah tersebut. Kita dapat merancang pendekatan metodis untuk pemecahan masalah dengan mengikuti langkah-langkah coachinng dengan model TIRTA. Menggabungkan sembilan langkah konsep pengambilan keputusan dan pengujian sebagai evaluasi atas pilihan yang telah dibuat menjadikan pendekatan coaching model TIRTA ideal digunakan.
Dan tentunya saya dapat berlatih mengevaluasi pengambilan keputusan yang telah saya buat dan memahami banyak konsep-konskonsep tentang coaching dan pengambilan keputusan berkat arahan yang diberikan oleh pengajar praktik pak Ilman Zeid, M.Pd dan fasilitator Pak Ikin, S.Pd, M.Pd. Apakah keputusan yang telah saya buat menguntungkan murid atau berpihak pada murid, sudah sesuai dengan nilai kebajikan universal, dan apakah saya dapat mempertanggungjawabkan keputusan yang telah saya ambil tersebut.
Coaching dengan Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching yang baik, hal tersebut sangat pentingkarena tujuan coaching adalah untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang agar bisa mencapai kesuksesan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini dan dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Di dalam kelas, guru sebagai pendidik dituntut harus mampu menjembatani kesenjangan antara minat dan gaya belajar siswa agar siswa belajar dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan profil belajarnya. agar dapat mengakomodasi semua minat siswa secara tepat. Guru perlu memiliki keterampilan sosial dan emosional agar mereka dapat fokus mengajar dan membuat keputusan yang baik sehingga siswa dapat belajar secara mandiri di kelas dan di sekolah.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Secara sadar, nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik akan berdampak pada seorang pendidik ketika dihadapkan pada kasus-kasus yang berpusat pada masalah moral dan etika. Dalam pengambilan keputusannya ia akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegangnya. Jika nilai yang dipegangnya positif, maka keputusan yang diambilnya akan tepat, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika nilai-nilai yang dipegangnya tidak sejalan dengan moral, agama, atau standar lainnya, maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya menjadi hak pribadinya sendiri. harapannya menyadari bahwa Guru Pemotivasi menganut nilai-nilai refleksi, kemandirian, kreativitas, kolaborasi, dan dukungan bagi murid. Guru akan termotivasi untuk membuat keputusan moral atau etis yang benar, tepat sasaran, dan meminimalkan kemungkinan melakukan kesalahan yang dapat merugikan semua orang, terutama para murid.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman hanya ketika sembilan langkah pengambilan keputusan dan pengujian diikuti, pengambilan keputusan yang tepat mengenai kasus moral atau etika dapat dicapai. Dapat dipastikan bahwa keputusan tersebut akan berdampak pada penciptaan lingkungan yang positif dan kondusif jika dibuat secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan sembilan langkah. Jika keputusan tersebut diyakini dapat mengakomodir semua kepentingan para pihak yang terlibat, nyaman dan terlindungi.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ya memang ada beberapa tantangan yang dihadapi. Masalah pergeseran paradigma dan budaya sekolah yang telah berlangsung bertahun-tahun menimbulkan kesulitan. Salah satunya adalah sistem yang tidak berpihak pada murid dan terkadang memaksa guru untuk membuat pilihan yang salah atau tidak tepat. Kedua, tidak semua warga sekolah sangat antusias melaksanakan keputusan bersama. Namun memang dilingkungan saya dalam pengambilan keputusan biasanya dengan melakukan musyawarah bersama agar mendapatkan keputusan yang tepat sesuai kesepakatan bersama.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekan murid-murid menurut saya, Itu semua tergantung pada keputusan seperti apa yang dibuat. Jika metode guru, media, dan sistem penilaian khusus murid dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan murid, ini akan memungkinkan murid untuk belajar lebih bebas dan, pada akhirnya, memungkinkan mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Kemandirian belajar murid, sebaliknya, tidak ada artinya jika keputusannya tidak berpihak pada murid dalam hal metode, media, penilaian, dan sebagainya. Untuk itu dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk murid yang berbeda-beda tentunya perlu adanya pengambilan keputusan yang tepat sesuai kebutuhan murid agar potensi murid yang berbeda-beda dapat berkembang secara optimal.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan murid-murid menurut saya sudah pasti murid akan belajar menjadi individu yang mandiri, kreatif, dan inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan masa depan mereka sendiri ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran membuat keputusan yang membebaskan dan menguntungkan murid serta berpihak pada murid. Kedepannya murid-murid akan menjadi dewasa, perhatian, dan hati-hati serta mereka dapat membuat keputusan penting tentang kehidupan dan karir mereka di masa depan. Keputusan seorang guru akan seperti pisau yang, jika digunakan dengan benar, di satu sisi akan membawa kesuksesan masa depan murid dan di sisi lain, masa depan siswa dapat sangat dirugikan jika keputusan yang diambil tidak tepat.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya yaitu : Kemampuan seorang guru dalam mengambil keputusan merupakan kompetensi atau keterampilan yang harus didasarkan pada ajaran Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin pembelajaran. Alur BAGJA yang akan menghasilkan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman (well being) harus digunakan dalam pengambilan keputusan. Seorang guru harus benar-benar sadar dengan kesadaran penuh (mindfullness) ketika mengambil keputusan untuk membimbing muridnya menuju profil pelajar Pancasila. Sebuah panduan sembilan langkah untuk membuat dan menguji keputusan diperlukan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah sehingga keputusan tersebut berpihak pada murid untuk terwujudnya pembelajaran mandiri menuju profil pelajar Pancasila.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pemaham saya tentang konsep-konsep yang telah dipelajari pada modul ini yaitu mengenai dilema etika (ethical dilemma) dengan bujukan moral(moral temptation), dimana bahwa dalam pengambilan keputusan itu terkadang sulit, adakalanya masalah yang kita hadapi itu berupa dilema etika atau bujukan moral dalam pengambilan keputusanya. Terkadang kita dihadapkan pada situasi pilihan yang sulit antara untuk mengikuti peraturan yang ada berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata) atau pilihan untuk membuat perkecualian dalam peraturan yang berdasarkan rasa belas kasihan (kebaikan hati). Untuk itu pada modul ini dalam pengambilan keputusan kita harus memperhatikan 4 paradigma yaitu Individu lawan kelompok (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) dan Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).
Selain itu dalam pengambilan keputusan juga ada 3 prinsip yang diperhatikan Berpikir berbasis hasil akhir (End-Based-Thinking), Berpikr Berbasis Peraturan (Rule-Base-Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based-Thinking). Tiga prinsip tersebut digunakan sesuai masalah yang dihadapi dengan menggunakan 9 langkah yaitu :
Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan,
Menentukan siapa yang terlibat dalam kasus,
Mengumpulkan fakta,
Melakukan uji kebenaran,
Melakukan paradigma benar VS benar,
Melakukan prinsip resolusi,
Melakukan investigasi opsi trilema,
Membuat keputusan, dan
Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Dan menurut saya dalam pengambilan keputusan pada sebuah kasus tentu saja banyak hal yang akan terjadi diluar dugaan, tergantung situasi pada saat itu. Alangkah baiknya dalam pengambilan keputusan itu sebagai pemimpin kita harus melakukan musyawarah bersawa dewan guru yang ada disekolah agar pengambilan keputusan mendapat hasil yang efektif dan baik.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini, saya belum pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak mempelajari konsep ini buat saya adalah saya dapat memahami bahwa dalam pengambilan keputusan itu perlu adanya beberapa langkah, karena dalam pengambilan keputusan suatu masalah tentu ada beberapa hal yang dipertimbangkangkan. Sebelumnya saya belum memahami konsep 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan tetapi sesudah mengikuti pembelajaran modul ini selain telah memahami konsep-konsep mengenai pengambilan keputusan saya bisa mempraktikannya dan semoga kedepannya bisa menerapkan hal-hal yang dipelajari pada modul ini ketika dihadapkan pada masalah dilema etikan dan bujukan moral sehingga keputusan yang saya buat adalah keputusan yang tepat dan baik buat bersama.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari modul ini bagi saya pastinya sangat penting baik itu sebagai individu ataupun sebagai pemimpin, karena sebagai pendidik tentunya nanti akan banyak situasi atau masalah yang terjadi, baik itu yang berhubungan dengan guru, murid maupun lingkungan sekitar. Untuk itu dengan konsep-konsep ini dari modul ini sangat penting dipelajari dan tentunya saya terapkan dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan baik itu sebagai individu maupun sebagai pemimpin.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar