PROPOSAL PENELITIAN
Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan Prestasi Belajar
Siswa Kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi
Tahun Pelajaran 2012/2013
Oleh :
TURYONO
NIM : ERA1D010121
Program Ekstensi Bimbingan Konseling
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS JAMBI
2013
KATA PENGANTAR
Dengan
Rahmat Allah Yang Maha Esa, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan proposal ini
dengan baik dimana proposal ini untuk proposal skripsi dengan judul : Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan
Presatasi Belajar Siswa Kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi.
Dalam penulisan proposal ini, penulis
banyak mendapatkan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak yang namanya tidak
dapat dituliskan satu persatu, oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan
ucapan terima kasih, walaupun penulis telah berusaha semaksimal mungkin,
penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan.
Peneliti
menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu apabila ada
kekurangan dalam hal penulisan, peneliti meminta maaf yang sebesar-besarnya karena
peneliti hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Dan dengan
kerendahan hati peneliti mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi
tersempurnakannya proposal penelitian ini.
Jambi, April 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .......................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
DAFTAR
TABEL ..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah ............................................................................
B.
Batasan
Masalah ........................................................................................
C.
Perumusan
Masalah ...................................................................................
D.
Tujuan
Penelitian .......................................................................................
E.
Manfaat
Penelitian .....................................................................................
F.
Anggapan
Dasar ........................................................................................
G.
Hipotesis
Penelitian ...................................................................................
H.
Definisi
Operasional ..................................................................................
I.
Kerangka
Konseptual ................................................................................
BAB II TINJAUAN
KEPUSTAKAAN
A.
Pencapaian
Hasil Belajar di Sekolah .......................................................
1. Pengertian Prestasi Belajar ..................................................................
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ............................
1. Pengertian Prestasi Belajar ..................................................................
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ............................
B.
Keluarga
Sebagai Suatu Sistem ...............................................................
1. Pengertian Keluarga ............................................................................
1. Pengertian Keluarga ............................................................................
2. Pengertian Keluarga Harmonis ...........................................................
C.
Ke........................................... harmonisan
Keluarga dan Prestasi Belajar
1. Keluarga dan Kegiatan Belajar ...........................................................
2. Hubungan Keharmonisan Keluarga dan Prestasi Belajar ...................
3. Hasil Penelitian Tentang Keharmonisan Keluarga dengan
1. Keluarga dan Kegiatan Belajar ...........................................................
2. Hubungan Keharmonisan Keluarga dan Prestasi Belajar ...................
3. Hasil Penelitian Tentang Keharmonisan Keluarga dengan
Prestasi
Belajar ..................................................................................
D. Keterkaitan
Keharmonisan Keluarga dengan Prestasi Belajar dalam
Program
Bimbingan Konseling ...............................................................
BAB III METODE
PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian ...........................................................................................
B.
Populasi
dan Sampel ..................................................................................
C.
Jenis
dan Sumber Data ..............................................................................
D.
Alat
Pengumpul Data ................................................................................
E.
Tehnik
Analisis Data ..................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sebuah
proses dari perjalanan hidup manusia. Melalui pendidikan manusia akan menglami
perubahan tingkah laku dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu tentang
suatu hal. Dalam undang-undang No 02 tahun 2003 tentang system pendidikan
nasional disebutkan bahwa “ Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”
(Anonim:2007).
Berdasarkan pengertian
diatas, maka pendidikan sangatlah penting bagi setiap orang terutama peserta
didik agar mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya melalui proses
pembelajaran ataupun dengan cara lain yang nantinya akan berguna bagi peserta
didik sendiri, keluarga, masyarakat dan Negara. Dalam arti luas, pendidikan
bukan saja mencakup proses pembelajaran tetapi juga mendidik, membimbing,
mengajar dan melatih siswa. Disamping itu juga pendidikan sebagai suatu proses
pembudayaan dan pemberdayaan bagi siswa yang berlangsung sepanjang hayat.
Selain disekolah tempat
utama anak mendapat pendidikan adalah dari keluarga. Sutja (2011:16) dalam buku Memahami Lingkungan Keluarga dan Pendidikan Anak Keluarga
menyatakan bahwa “ Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi oleh anak.
Bagi anak, keluarga adalah lingkungan social pertama yang dimasukinya. Dalam
keluarga anak melewati masa peka sehingga pendidikan yang diterimanya sangat
penting atau utama bagi pendidikan pada masa-masa selanjutnya”. Dari pendapat tersebut terlihat sangat jelas
bahwa anak mendapat pendidikan pertama dari keluarga.
Keluarga merupakan kelompok sosial yang
pertama dalam kehidupan manusia, tempat untuk belajar dan menyatakan diri
sebagai manusia sosial dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Keluarga juga
merupakan lingkungan pendidikan terkecil yang ada pada suatu system
kemasayarakatan. Bahkan rumah atau lingkungan keluarga menjadi tempat yang
sangat penting bagi penentuan kualitas kehidupan setiap anggotanya, baik
sebagai anak atau orang tua. Orang tua mempunyai peranan mendidik anaknya untuk
menciptakan anak yang berguna baik melalui pendidikan formal maupun yang
informal.
Sebagai makhluk sosial, keluarga
merupakan suatu satuan sosial terkecil yang dimiliki manusia, yaitu yang
ditandai adanya kerjasama diantara setiap anggota keluarga. Bagi anggota
keluarga, keluarga merupakan tempat memulai belajar dari setiap pengalaman yang
dilaluinya. Dalam keluarga seorang anak mulai belajar menjadi kakak atau adik
dan orang tua mulai belajar menjadi perannya masing masing yang diantaranya
suami yang belajar menjadi ayah dan seorang istri yang mulai belajar dan
menjalankan tugasnya sebagai ibu. Selain itu keluarga juga merupakan fondasi
primer bagi perkembangan anak, karena sebagian besar waktu dalam kehidupannya
dihabiskan dirumah bersama keluarga.
Dalam lingkungan keluarga sendiri, orang
tua dan anggota keluarga lainnya diharapkan dapat menciptakan suasana yang
kondusif didalam rumah, diantaranya adalah kebersamaan, saling pengertian dan kasih sayang dalam pribadi setiap
anggotanya agar tercipta suatu keluarga yang mempunyai hubungan yang harmonis.
Menurut Subhan (2004:40) “hubungan yang harmonis adalah hubungan yang
dilaksanakan dengan selaras, serasi dan seimbang. Yaitu hubungan yang
diwujudkan melalui jalinan pola sikap dan prilaku antara suami-isteri yang
saling peduli , saling menghormati, saling menghargai, saling membantu, dan
saling mengisi …”.
Keharmonisan dalam
hubungan keluarga sangat dibutuhkan dan berepengaruh positif pada perkembangan
karakter, sikap dan perilaku anak, Mendukung dan menciptakan keharmonisan
hubungan antar kedua orang tua, keharmonisan antar orang tua dan anak maupun
keharmonisan antar anak dan anak. Selain itu harus mampu membangun rasa kasih
sayang antar anggota keluarga, saling pengertian, saling memperhatikan, saling
membantu, saling menghargai atau saling menghormati antar anggota keluarga dan
mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga serta kualitas dan kuantitas
konflik yang minim didalam rumah.
Kebersamaan dan
keharmonisan dalam keluarga, secara langsung mengajarkan anak bagaimana
memahami perasaan orang lain. Dengan adanya situasi dan kondisi keluarga
harmonis yang didalamnya tercipta kehidupan yang saling menghargai dan diwarnai
rasa kasih sayang dapat memungkinkan siswa untuk tumbuh dan berkembang secara
seimbang.
Dengan dukungan kondisi keluarga yang
harmonis juga dapat menstimulus siswa untuk meningkatkan aktifitasnya dalam
belajar agar prestasi belajarnya disekolah akan tercapai dengan baik. Namun jika
kondisi keluarganya tidak harmonis dan kurang mendapat dukungan dari keluarga
bisa saja mengakibatkan siswa kurang
dalam kegiatan belajar dan akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Dengan
demikian kondisi keharmonis keluarga mempunyai peranan penting dalam menunjang
anak untuk mencapai prestasi belajarnya dengan baik.
Sebagian orang tua banyak yang
beranggapan bahwa keadaan didalam rumah dan kondisi keluarga tidak mempunyai
peranan yang begitu besar terhadap proses belajar anak dan hasil belajar
anaknya disekolah. Mereka menganggap bahwa setelah anak mendapatkan pendidikan
disekolah maka lepaslah hak dan kewajiban keluarga atau orang tua untuk
memberikan pendidikan kepada anaknya. Semua tanggung jawab dari keluarga telah
beralih ke pihak sekolah, berhasil atau tidaknya anak dalam belajar , tinggi
atau rendah prestasi belajarnya sudah menjadi tanggung jawab sekolah.
Dilapangan, khususnya di MTs Dharma
Wanita Kota Jambi, keadaan tiap-tiap keluarga yang dimiliki setiap siswa
berbeda-beda pula satu sama lain. Ada keluarga yang kecil dan ada pula keluarga
yang besar (banyak anggota keluarganya). Ada keluarga yang harmonis dan ada
yang tidak/ kurang harmonis. Ada pula keluarga yang selalu gaduh, cecok dan
sebagainya. Dengan sendirinya, keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam
coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan
siswa.
Dengan adanya keadaan keharmonisan
keluarga yang berbeda-beda, ada yang harmonis dan ada yang kurang/tidak
harmonis dan keadaan itu menjadi factor ekstern yang akan mempengaruhi prestasi
belajar siswa serta dibutuhkannya akan informasi apakah terdapat hubungan
antara keharmonisan keluarga dengan prestasi belajar dan apakah hubungan itu
positif dan berarti antara keharmonisan keluarga dan prestasi belajar siswa
disekolah, saat ini pun belum didapat informasi mengenai hal tersebut, maka
peneliti memandang perlu untuk mengadakan penelitian tentang : Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan
Prestasi Belajar Siswa Di Kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi.
B.
Batasan
Masalah
Karena
penelitian ini mengarah kepada sasaran yang ingin dicapai, maka penulis
membatasi permasalahan kepada hubungan keharmonisan keluarga dengan prestasi
belajar siswa kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi dengan batasan sebagai
berikut :
1. Hal-hal
yang akan diteliti hanya menyangkut tentang keharmonisan keluarga siswa yang
akan dihubungkan dengan prestasi belajar.
2. Keharmonisan
keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kondisi keluarga yang
menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga, adanya waktu bersama untuk
berkumpul dan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai
dan kualitas dan kuantitas konflik yang minim serta adanya hubungan dan ikatan
yang erat antar anggota keluarga.
3. Prestasi
belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa kelas IX MTs Dharma Wanita Kota
Jambi yang aktualisasikan dalam angka atau skor dan dapat dilihat dalam buku
raport. Dan dalam penelitian ini tidaklah menguji kembali penguasaan siswa atas
materi-materi pelajaran melainkan penilaian guru atas penguasaan siswa akan
materi pelajaran yang telah tertera pada daftar nilai dan raport siswa kelas IX
MTs Dharma Wanita Kota Jambi pada semester ganjil 2012/2013.
C.
Perumusan
Masalah
Berdasarkan
pembatasan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “ Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara
keharmonisan keluarga dengan prestasi belajar siswa di kelas IX MTs Dharma
Wanita Kota Jambi tahun pelajaran 2012/2013”.
D.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan agar terungkap seberapa besar hubungan antara keharmonisan
keluarga dengan prestasi belajar siswa kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi
tahun pelajaran 2012/2013.
E.
Manfaat
Penelitian
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk :
- Siswa, sebagai gambaran kondisi nyata atau
informasi tentang diri siswa yang bersangkutan dalam hal ini hasil belajar
siswa dan secara langsung dapat menunjang keberhasilan belajar siswa di
MTs Dharma Wanita Kota Jambi.
- Orang Tua, Sebagai bahan informasi bagi orang tua
apakah keadaan keharmonisan keluarga ada hubungannya dengan prestasi
belajar siswa disekolah, dalam hal ini memberikan pemahaman kepada orang
tua untuk menciptakan keluarga yang harmonis.
- Guru pembimbing, Sebagian bahan masukan bagi guru
pembimbing bagaimana ia bertindak dan guru pembimbing diharapkan bekerja sama
dengan guru yang lainnya dalam hal ini memberikan bantuan bimbingan
belajar yang memadai guna meningkatkan presatsi belajar siswa di kelas IX
MTs Dharma Wanita Kota Jambi.
F. Anggapan
Dasar
Anggapan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.
Setiap siswa memiliki keadaan keharmonisan keluarga
yang berbeda-beda.
2.
Keharmonisan keluarga
merupakan faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar siswa.
G. Hipotesis
Penelitiaan
Hipotesis dalam penelitian
ini yaitu terdapat hubungan yang positif antara keharmonisan keluarga dengan
prestasi belajar. Hipotesis ini dapat dirinci sebagai berikut :
H1 : Terdapat hubungan
positif antara keharmonisan keluarga
dengan prestasi belajar.
H2
: Tidak terdapat hubungan positif antara keharmonisan keluarga
dengan prestasi belajar.
H. Definisi Operasional
Untuk
menghilangkan kesalahpahaman pembaca dalam memahami penelitian ini, maka ada
baiknya diuraikan beberapa definisi yang berhubungan dengan penelitian
sebagaimana berikut ini :
1. Keharmonisan keluarga
Keadaan keharmonisan keluarga yang dimaksud
dalam penelitian ini yaitu kondisi keluarga yang menciptakan kehidupan beragama
dalam keluarga, adanya waktu bersama untuk berkumpul, adanya komunikasi dan
hubungan yang baik antar anggota keluarga, kuantitas konflik yang minim antar
anggota keluarga.
2.
Prestasi belajar
Prestasi
belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan seorang siswa dalam menguasai
bahan pelajaran yang telah diberikan oleh guru disekolah. Dan prestasi belajar yang diteliti adalah
nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas IX MTs Dharma Wanita pada semester
ganjil tahun pelajaran 2012/2013 yang tercantum pada rapor.
I.
|
Kerangka
Konseptual
|
|
||||||
BAB II
TINJAUAN
KEPUSTAKAAN
A. Pencapaian
Prestasi Belajar Di
Sekolah
1. Pengertian Prestasi
Belajar
Prestasi belajar menurut Djamarah (1994:24) adalah “penilaian
pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah
yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan/ keterampilan yang dinyatakan
sesudah penilaian”. Purwanto (1978) Menyatakan: “Prestasi belajar adalah
hasil-hasil belajar yang telah diberikan guru kepada murid-murid atau dosen
kepada mahasiswanya dalam jangka tertentu”. (Habsari:2005:75)Sedangkan menurut
Ahmadi dalam Habsari (2005:75) menyatakan: “Prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai dalam suatu usaha (belajar) untuk mengadakan perubahan atau mencapai
tujuan”.
Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana
kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktifitas, tetapi lebih penting
adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik
secara individu maupun kelompok. (Djamarah:1994:24).Beberapa ahli diatas sependapat bahwa prestasi belajar merupakan
penilaian hasil belajar yang dicapai dalam suatu usaha untuk mengadakan
perubahan yang telah diberikan guru kepada murid-murid dalam jangka waktu
tertentu.
Jadi dapat ditarik
kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari suatu proses
kegiatan yang dilakukan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu
sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar yang diberikan dalam jangka waktu
tertentu oleh guru kepada murid-muridnya..
2.
Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Keberhasilan belajar peserta didik
disekolah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor
intern adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor ektern adalah
faktor yang ada dari luar diri peserta didik.
2.1 Faktor Intern
Menurut
Slameto (2010 : 54) dalam membicarakan faktor intern ini, akan dibahas menjadi
tiga faktor yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan.
a. Faktor Jasmani
Dalam
faktor jasmaniah yang dapat mempengaruhi siswa dalam proses belajarnya adalah
kesehatan tentang kondisi tubuhnya, kurang bersemangat ataupun cepat lelah,
selain kondisi kesehatannya keadaan jasmaniah siswa yang juga mempengaruhi
proses belajarnya adalah cacat anggota tubuh misalnya buta, tuli, patah kaki
ataupun patah tangan.
b.
Faktor psikologis
Ada beberapa faktor yang
tergolong dalam faktor psikologis. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1). Intelegensi
Slameto (2010: 56) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan
terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke
dalam situasi yang baru dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep
yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2).Perhatian
Menurut al-Ghazali dalam
Slameto (2010:56) bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa
itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek.
Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian
terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian
siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar
siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan
bakatnya.
3).Bakat
Menurut
Hilgard dalam Slameto (2010:57) bahwa bakat adalah the capacity to learn.
Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan
terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih.
4). Motif
Menurut Slameto (2010:58)
bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam
belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi
untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab
berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
5). Kematangan
Menurut Slameto (2010 : 58) bahwa kematangan adalah sesuatu
tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah
siap melaksanakan kecakapan baru.
Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ
atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang apabila dalam diri makhluk telah
mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu
datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan
lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengkuti proses
belajar mengajar.
6). Kesiapan
Kesiapan
menurut James Drever seperti yang dikutip oleh Slameto (2010:59) adalah
preparedes to respon or react, artinya kesediaan untuk memberikan respon atau
reaksi.
Jadi, dari pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan
siswa dalam proses belajar mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar
siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa dapat berdampak positif bilamana
siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan
baik.
c. Faktor Kelelahan
Ada beberapa faktor
kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (2010:59) sebagai berikut:
“Kelelahan jasmani
terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk
membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa
pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.
Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang berarti
tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat
dan perhatian”.
2.2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar
dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor
sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 2010:60).
a.
Faktor keluarga
Faktor keluarga sangat
berperan aktif bagi siswa. Menurut Slameto dalam buku Belajar dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhinya (2010:60) menyatakan bahwa siswa yang belajar akan menerima
pengaruh dari keluarga berupa : cara orang tua mendidik, relasi antara anggota
keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga,
latar belakang kebudayaan dan suasana rumah.
1).
Cara orang tua mendidik
Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap
prestasi belajar anak, hal ini dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto
(2010:61) mengemukakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama
dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam ukuran kecil,
tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan
bangsa dan negara.
2).
Relasi antar anggota keluarga
Menurut Slameto (2010:62)
bahwa yang penting dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain
itu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut
mempengaruhi belajar anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang
atau kebencian, sikap terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.
3). Suasana
Rumah
Suasana
rumah juga merupakan faktor yang tidak termasuk disengaja. Suasana rumah yang
gaduh/ ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang
belajar (Slameto:2010:63)
Berdasarkan pendapat di atas bahwa suasana rumah tersebut dapat
mengganggu belajar anak dan dapat pula memberi pengaruh yang negative bagi
anak. Agar anak nyaman dan tenang saat belajar, selanjutnya keluarga
diaharapkan dapat menciptakan suasana yang tenang dan tentram agar anak dapat
belajar dengan baik.
4).
Pengertian orang tua
Menurut Slameto (2010 : 64) bahwa anak belajar perlu dorongan
dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan
tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib
memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk mengatasi kesulitan
yang dialaminya.
5).
Keadaan ekonomi keluarga
Menurut
Slameto (2010 : 63) bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan
belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya,
misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan, dan lain-lain, juga
membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan,
alat tulis menulis, dan sebagainya.
6).
Latar belakang kebudayaan
Tingkat
pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik,
agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.(Slameto: 2010:64)
b. Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan
gedung, metode belajar dan tugas rumah. (Slameto:2010:64)
c. Faktor Lingkungan
Masyarakat
Faktor lain yang datang dari luar diri siswa yang juga
berpengaruh terhadap belajar siswa adalah Masyarakat. Pengaruh itu terjadi
karena keberadaan siswa didalam masyarakat. Dalam lingkungan masyarakat yang
menjadi pembahasannya adalah tentang kegiatan siswa didalam masyarakat, mass
media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat, yang semuanya
mempengaruhi belajar (Slameto:2010:70).
B.
Keluarga Sebagai Suatu Sistem
1. Pengertian
Keluarga
Keluarga
merupakan suatu kelompok terkecil yang ada dalam lingkungan masyarakat.
Kelompok ini terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa. Keluarga
merupakan konsep yang bersifat multidimensi. Para ilmuan social bersilang
pendapat mengenai rumusan definisi keluarga yang bersifat universal. Salah satu
ilmuan yang permulaan mengkaji keluarga adalah George Murdock. Dalam bukunya
Social Culture, Murdock menguraikan bahwa “keluarga merupakan kelompok social
yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerjasama ekonomi, dan
terjadi proses reproduksi”. ( Lestari:2012:3 ).
Friedman (1998)
mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup
bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran
masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Suprajitno:2004:1). Semua
ahli tersebut memiliki kesamaan pendapat bahwa keluarga itu adalah kelompok
sosial/ suatu kelompok dua orang atau lebih yang hidup bersama yang
dipersatukan oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi yang didalamnya
terdapat kerjasama ekonomi dan mempunyai peran masing-masing dan membina
kerjasama, dan terjadi proses reproduksi.
Jadi
dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah suatu kelompok sosial dua orang
atau lebih yang memiliki tinggal bersama
dan mempunyai peran masing-masing dalam membina kerjasama yang
dipersatukan oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
1.1 Struktur Keluarga
Sebagai system sosial, keluarga tentu saja memiliki struktur
keluarga yang berbeda beda. Menurut Efendy (1998:33) menunjukkan bahwa struktur
keluarga terjadi dari bermacam-macam, diantaranya :
a. Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang
terdiri dari sanak sedarah dalam beberapa generasi , dimana hubungan itu
disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal : adalah keluarga sedarah yang
terdiri sanak saudara sedarah dalam generasi dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal : adalah sepasang suami istri tang
tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal : adalah adalah sepasang suami istri tang tinggal
bersama keluarga sedarah suami.
e. Keluarga : adalah hubungan suami istri sebagai
dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau isteri.
1.2 Fungsi
Keluarga
Selain memiliki struktur, keluarga sebagai system sosial yang
terkecil didalam masyarakat memiliki fungsi yang penting untuk keberlangsungan
dalam masyarakat dari generasi ke generasi. Menurut Berns dalam Lestari
(2012:22) menyebutkan bahwa keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu:
a. Reproduksi
Fungs keluarga dalam hal
ini memiliki tugas untuk melangsungkan hidup dan mempertahankan populasi yang
ada di dalam masyarakat.
b. Sosialisasi/Edukasi
Keluarga sebagai tempat
yang penting bagi perkembangan anak mempunyai fungsi sebagai sarana untuk
penanaman nilai, keyakinan, sikap dari beberapa generasi. Proses ini melalui
generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda.
c. Penugasan Peran Sosial
Selain berfungsi sebagai
reproduksi dan sosialisai, keluarga juga memiliki fungsi sebagai penugasan peran
sosial yang memberikan identitas untuk para anggota keluarga misalnya mengenai
ras, peran gender ataupun etnik.
d. Dukungan Ekonomi
Sebagai dukungan
ekonomi, keluarga memiliki tugas sebagai tempat berlindung dan jaminan
kehidupan bagi anggota keluarga lainnya.
e. Dukungan Emosi/ Pemeliharaan
Keluarga memberikan
pengalaman interaksi sosial yang pertama bagi anak. Interaksi yang terjadi
bersifat mendalam. Mengasuh dan berdaya tahan sehingga memberikan rasa aman
pada anak (Lestari:2010:22).
2. Pengertian
Keharmonisan Keluarga
Sebagai unit terkecil dari masyarakat,
keluarga tentu saja harus memiliki organisasi tersendiri seperti kepala
keluarga. Kepala keluarga merupakan tokoh penting untuk membina dan mengasuh
anggota keluarga lain dalam melewati perjalanan hidup dan nantinya keluarga yang dibina dapat mencapai
kedalam kehidupan yang harmonis.
Menurut
Habsari (2005:89) mengemukakan bahwa “ Keluarga harmonis adalah situasi
hubungan keluarga diantara suami dan isteri seia sekata, mesra, saling
mengerti, menyayangi dan saling mencintai”.Sedangkan
menurut Daratjat (1994: http://www.Psychology mania.com) bahwa “Keluarga
harmonis adalah keluarga dimana setiap anggotanya menjalankan hak dan kewajiban
masing-masing, terjalin kasih sayang, saling pengertian, komunikasi dan
kerjasama yang baik antara anggota keluarga”. Selanjutnya
Hawari mengungkapkan bahwa “Keharmonisan
keluarga itu akan terwujud apabila masing-masing unsur dalam keluarga itu dapat
berfungsi dan berperan sebagimana mestinya dan tetap berpegang teguh pada
nilai-nilai agama kita, maka interaksi sosial yang harmonis antar unsur dalam
keluarga itu akan dapat diciptakan ”. (Maria,2007: http://www.damandiri.or.id/)
Ketiga Ahli diatas sependapat bahwa di dalam keluarga
harmonis terdapat situasi hubungan keluarga yang saling mengerti, dan
menyayangi dimana setiap anggota keluarga menjalankan hak dan kewajibannya
serta berperan sebagai mestinya.Jadi dari pendapat ketiga ahli diatas dapat di
ambil kesimpulan bahwa keluarga harmonis itu adalah keadaan keluarga yang memiliki
hubungan mesra, saling mengerti dan menyayangi antara anggota keluarga serta
setiap anggota keluarga menjalankan hak dan kewajiban untuk menjalankan perannya
sebagai anggota keluarga dengan menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik
disamping menyayangi dan saling mencintai.
2.1 Ciri – Ciri Keluarga Harmonis
Beberapa ciri-ciri keluarga harmonis
menurut Basri (Musafir:2012: http://ilhamihwan.blogspot.com) antara lain :
a. Rasa
cinta kasih sayang. Tanpa keduanya rumah tangga takkan berjalanharmonis. Karena
keduanya adalah power untuk menjalankan kehidupanrumah tangga.
b. Adaptasi dalam segala jenis interaksi
masing-masing, baik perbedaan ide,tujuan, kesukaan, kemauan, dan semua hal yang
melatar belakangi masalah. Hal itu harus didasarkan pada satu tujuan yaitu
keharmonisan rumah tangga.
c. Pemenuhan nafkah lahir batin dalam keluarga.
Dengan nafkah makaharapan keluarga dan anak dapat terealisasi sehingga terciptakesinambungan
dalam rumah tangga
Sedangkan
menurut Menurut Basri dalam Musafir
(2012:http://ilhamihwan.blogspot.com) untuk meraih
keharmonisan keluarga perlu memiliki sifat-sifat ideal dan menerapkannya dalam
rumah tangga, sifat tersebut adalah:
a. Persyaratan
fisik biologis yang sehat-bugar. Hal ini penting karena: untuk menjalankan
tugasnya keduanya memerlukan tubuh atau anggota badanyang sehat.
b. Psikis rohaniah yang utuh. Kondisi
psikis rohaniah yang utuh sangatdiperlukan dalam menunjang kemampuan seseorang
dalam menghadapi danmenyelesaikan masalah dalam rumah tangga dengan mental yang
sehat akanmampu mengendalikan emosi yang kadang tergoncang karena berbagaimacam
alasan dan situasi. Taraf kepribadian dan rohani yang utuh danteguh sangat
diperlukan, karena dalam perjalanan hidup banyak godaan dancobaan silih
berganti, baik dalam moral kesusilaan, keadilan, kejujuran,tanggung jawab
sosial dan keagamaan.
c. Kondisi
sosial dan ekonomi yang cukup memadai untuk memenuhi hiduprumah tangga. Hal ini
dapat berupa semangat dan etos kerja yang baikdalam memenuhi nafkah,
kreatifitas dan semangat untuk mengusahakannya,sehingga keluarga akan terpenuhi
kebutuhannya.
2.2
Aspek – Aspek Keluarga Harmonis
Untuk
menciptakan keharmonisan hubungan keluarga tentu saja dibutuhkan beberapa aspek
yang perlu diperhatikan oleh setiap anggota keluaraga. Aspek-aspek keharmonisan
keluarga antara lain :
a. Menciptakan
kehidupan beragama dalam keluarga.
Sebuah keluarga
yang harmonis ditandai dengan terciptanya kehidupan beragama dalam rumah
tersebut. Hal ini penting karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan
etika kehidupan. (Maria,2007:http://www.damandiri.or.id/)
b. Mempunyai waktu
bersama keluarga.
Menurut Maria (2007: http://www.damandiri.or.id/) “Keluarga yang harmonis selalu menyediakan waktu untuk
bersama keluarganya, baik itu hanya sekedar berkumpul, makan bersama, menemani
anak bermain dan mendengarkan masalah dan keluhan-keluhan anak,…”.
c. Mempunyai
komunikasi yang baik antar anggota keluarga.
Yang menjadi dasar
dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah Komunikasi, yaitu komunikasi
yang baik antar anggota keluarga. .
d. Saling menghargai antar sesama anggota keluarga.
Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang
memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan yang
terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak dengan lingkungan
yang lebih luas. (Maria,2007:http://www.damandiri.or.id/)
e. Kualitas dan
kuantitas konflik yang minim.
Dalam menciptakan
keharmonisan keluarga, aspek yang tak kalah penting yang perlu diperhatikan adalah
kualitas dan kuantitas konflik yang minim. Suasana rumah akan menjadi tidak
nyaman atau menyenangkan jika didalam rumah sering terjadi pertengkarang
ataupun percecokan.
f. Adanya hubungan
atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.
Aspek yang
terakhir yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keharmonisan keluarga adalah
ubungan yang erat antar anggota keluarga. Rasa saling menghargai dan memiliki
akan hilang jika didalam keluarga tidak terdapat hubungan atau ikatan yang erat
antar anggota keluarga.
Keenam aspek
tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya. Proses tumbuh
kembang anak sangat ditentukan dari berfungsi tidaknya keenam aspek di atas,
untuk menciptakan keluarga harmonis peran dan fungsi orangtua sangat
menentukan, keluarga yang tidak bahagia atau tidak harmonis akan mengakibatkan
persentase anak menjadi nakal semakin tinggi.
2.3 Faktor – Faktor yang
Mempengaruhi Keharmonisan Keluarga
Keluarga harmonis atau
sejahtera merupakan tujuan penting.Olehkarena itu untuk menciptakan perlu
diperhatikan faktor-faktor berikut (Musafir,2012:http://ilhamihwan.blogspot.com), antara lain :
a. Perhatian. Yaitu menaruh hati pada
seluruh anggota keluarga sebagai dasar utama hubungan yang baik antar anggota
keluarga. Baik pada perkembangan keluarga dengan memperhatikan peristiwa dalam
keluarga,dan mencari sebab akibat permasalahan, juga terdapat perubahan pada
setiap anggotanya.
b. Pengetahuan. Perlunya menambah
pengetahuan tanpa henti-hentinya untuk memperluas wawasan sangat dibutuhkan
dalam menjalani kehidupan keluarga. Sangat perlu untuk mengetahui anggota
keluaranya, yaitu setiap perubahan dalam keluarga, dan perubahan dalam anggota
keluarganya, agarkejadian yang kurang diinginkan kelak dapat di antisipasi.
c. Pengenalan terhadap semua anggota
keluarga. Hal ini berarti pengenalan terhadap diri sendiri dan pengenalan diri
sendiri yang baik penting untuk memupuk pengertian-pengertian.
d. Bila
pengenalan diri sendiri telah tercapai maka akan lebih mudah menyoroti semua
kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam keluarga. Masalah akan lebih mudah
diatasi, karena banyaknya latar belakang lebihcepat terungkap dan teratasi,
pengertian yang berkembang akibat pengetahuan tadi akan mengurangi kemelut
dalam keluarga.
e. Sikap
menerima. Langkah lanjutan dari sikap pengertian adalah sikap menerima, yang
berarti dengan segala kelemahan, kekurangan, dan kelebihannya, ia seharusnya
tetap mendapatkan tempat dalam keluarga.Sikap ini akan menghasilkan suasana
positif dan berkembangnya kehangatan yang melandasi tumbuh suburnya potensi dan
minat dari anggota keluarga.
f. Peningkatan usaha. Setelah menerima
keluarga apa adanya maka perlu meningkatkan usaha. Yaitu dengan mengembangkan
setiap dari aspek keluarganya secara optimal, hal ini disesuaikan dengan setiap
kemampuan masing-masing, tujuannya yaitu agar tercipta perubahan-perubahan dan menghilangkan
keadaan bosan.
g. Penyesuaian harus perlu mengikuti
setiap perubahan baik dari fisik orangtua maupun anak.
C.
Keharmonisan Keluarga dan Prestasi
Belajar
1. Keluarga dan Kegiatan Belajar
Sebagai tempat pendidikan yang pertama bagi anak, keluarga tentu
saja merupakan aspek pendukung dalam kegiatan belajar anak. Didalam keluarga
inilah anak mulai mendapatkan pengajaran, pendidikan dan bimbingan. Menurut
Hasbullah (2006:39) “Suasana pendidikan keluarga ini sangat penting
diperhatikan, sebab dari sinilah keseimbangan jiwa didalam perkembangan
individu selanjutnya ditentukan”.
Lingkungan keluarga yang mendukung anak untuk mencapai
perkembangannya yang seimbang, salah satunya adalah keadaan keluarga yang
harmonis. Dari keluarga yang harmonis inilah tercipta suasana yang nyaman dan
tentram bagi anak dalam setiap kegiatan yang dilakukannya terutama kegiatannya
dalam belajar.
Kegiatan belajar merupakan salah satu proses perubahan yang
dilalui setiap anak untuk merubah tingkah dari pengalaman lingkungan. Dalam
buku Psikologi Belajar Djamarah
menyimpulkan bahwa “belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu
dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor”.
(Djamarah:2011:13)
Dalam kegiatan belajar, keluarga sebagai faktor esktern yang
mempengaruhinya mampu mendukung anak dalam kegiatan belajarnya sehingga dari
dukungan keluarga ini diharapkan anak bisa optimal dalam proses belajar yang
nanti akan berdampak pada prestasi belajarnya disekolah. Dukungan dari keluarga
tersebut dapat berupa keadaan keluarga yang harmonis.
2.
Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan Prestasi Belajar
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada latar belakang
masalah penelitian ini, bahwa “Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama
bagi anak. Bagi anak, keluarga adalah lingkungan sosial pertama yang
dimasukinya” (Sutja:2011:16), bisa dipastikan bahwa keluarga mempunyai pengaruh
pada aktifitas belajar anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Slameto (2010)
yang menjelaskan bahwa salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi belajar
siswa adalah faktor keluarga. Slameto (2010:60) menyatkan bahwa “Faktor ekstern
yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi 3 faktor,
yaitu : faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat”.
Berarti jelas sudah bahwa dalam proses belajarnya siswa akan mendapat
pengaruh dari keluarga, dan lingkungan keluarga yang mendukung adalah keadaan
keluarga yang harmonis. Keadaan keluarga yang harmonis dari bagaimana didalam
keluarga terdapat suasana yang penuh cinta dan kasih sayang, saling mengerti
antara ide, pendapat, kesukaan yang melatar belakangi masalah serta terpenuhnya
nafkah lahir dan batin.
Dengan terciptanya kehidupan yang harmonis dalam keluarga
diharapkan dapat membuat anak merasa nyaman dan betah untuk tetap berada
didalam rumah, karena jika saja keadaan keluarga tidak harmonis misalnya sering
terjadi percecokan atau kegaduhan, tidak adanya rasa cinta dan kasih ataupun tidak
adanya rasa saling mengerti dan menghargai tentu saja anak tidak akan betah
didalam rumah dan lebih memilih tempat lain daripada rumahnya sendiri. Keadaan
rumah yang tenang dengan keluarga yang harmonis tanpa adanya percecokan,
kegaduhan ataupun konflik dapat membuat anak merasa tenan dan nyaman untuk
berada didalam rumah.
Suasana didalam rumah yang tenang dan nyaman, yang penuh cinta
dan kasih tentu saja dapat membuat anak juga merasa nyaman dan tentram. Menurut
Slameto (2010:63) “ didalam suasana rumah yang tenang dan tentram selain anak
kerasan/ betah tinggal dirumah, anak juga dapat belajar dengan baik. Hal ini
berarti keluarga yang harmonis dengan suasana rumah yang nyaman dan tentram
dapat menstimulus anak dalam kegiatan belajarnya, yang tentunya jika anak dapat
belajar dengan baik tentu saja dapat membantu memperbaiki keberhasilannya
belajarnya disekolah. Karna dengan cara belajar yang baik akan menghasilkan
hasil belajar yang baik pula.
Untuk itu sesuai dengan adanya faktor ekstern yang datang dari
keluarga yang dapat mempengaruhi belajar anak, dalam penelitian ini peneliti
akan mencari apakah terdapat hubungan antara keharmonisan keluarga dengan
prestasi belajar anak disekolah.
3.
Hasil Penelitian Tentang Keharmonisan
Keluarga dengan Prestasi Belajar
Sejauh
ini belum ada ditemukan hasil penelitian yang benar-benar relevan mengenai
hubungan keharmonisan keluarga dengan prestasi belajar. Saat ini yang bisa
peneliti temukan tentang penelitian yang relevan yaitu penelitian yang
dilakukan oleh Yanda (2011) mengenai “ Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan
Penalaran Moral Pada Remaja Delinkuen” menghasilkan bahwa dari hasil
perhitungan diperoleh bahwa nilai korelasi antara keharmonisan keluarga dengan
penalaran moral adalah sebesar rxy = 0.010
dengan nilai P = 0.467 (tidak signifikan), yang artinya tingginya
tingkat keharmonisan suatu keluarga belum tentu menyebabkan penalaran moral
remaja tinggi.
Sedangkan
Riyanti (2011) yang melakukan penelitian tentang “Hubungan Keharmonisan
Keluarga dengan Kenakalan Remaja Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 2 Geyer
Kabupaten Gerobogan Tahun Pelajaran 2011/2012” menunjukkan bahwa kofisien rxy =
-0.254 dengan p= 0.002 (p>0.05), artinya hipotesis penelitian diterima. Hubungan antara kedua
variabel ini menunjukkan hubungan negative yang berarti bahwa semakin
tinggi tingkat keharmonisan keluarga,
semakin rendah tingkat kenakalan remajanya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat keharmonisan
keluarga, maka semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian
korelasional, karena penelitian ini akan menghubungkan dua variabel yang saling
ketergantungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutja dkk, 2010 (Panduan
Penulisan Skripsi:45) yang menyatakan
bahwa : “Penelitian korelasional maksudnya adalah mencari hubungan atau saling
ketergantungan diantara dua variabel atau lebih”.
Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) yaitu Keharmonisan Keluarga dan variabel terikat (Y) yaitu Prestasi
Belajar.
B. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Menurut
Komaruddin dalam Mardalis (2009:53), yang dimaksudkan dengan populasi adalah;
semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Pada kenyataannya
papulasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu
yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Yang
menjadi Populasi atau subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs
Dharma Wanita Kota Jambi tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 36 orang.
Tabel
1
Perkiraan
Populasi Penelitian
|
No
|
Kelas
|
Jenis Kelamin
|
Keterangan
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|||
|
1.
|
IX
|
16
|
20
|
|
|
Total
|
36
|
|
||
Sumber
: MTs Dharma Wanita Kota Jambi
2.
Sampel
Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan purposive sampel yaitu yang memilih sampel
secara sengaja berdasarkan karakteristik populasi yang telah dikenal
sebelumnya.
Penggunaan
teknik sampel ini mempunyai suatu tujuan atau dilakukan dengan sengaja, cara
penggunaan sampel ini diantara populasi sehingga sampel tersebut dapat mewakili
karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya. Penggunaan teknik ini
senantiasa berdasarkan kepada pengetahuan tentang ciri-ciri tertentu yang telah
didapat dari populasi sebelumnya.
Jadi
sampel yang diambil sebanyak 36 orang sesuai dengan populasi siswa kelas IX MTs
Dharma Wanita Kota jambi.
C. Jenis dan Sumber Data
Adapun
jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer
adalah data yang diambil oleh peneliti langsung dari sumbernya atau dari
responden. Yaitu memberikan angket atau panduan observasi dan wawancara kepada
siswa kelas IX MTs Dharma Wanita Kota Jambi untuk mencari tahu gambaran keadaan
keharmonisan keluarga siswa.
Selain
data primer ada juga data sekunder, yaitu data yang didapat secara tidak
langsung dari responden tetapi melalui dokumentasi, yaitu tentang prestasi
belajar berdasarkan nilai rata-rata prestasi yang tercantum dalam raport siswa
pada semester ganjil.
D. Alat Pengumpul Data
1.
Keharmonisan Keluarga
Data
tentang keharmonisan keluarga siswa dikumpulkan dengan menggunakan alat
pengumpul data, data penelitian ini berupa angket (kuisioner) yang merupakan
suatu daftar yang berisikan rangkaian pernyataan mengenai suatu masalah atau
bidang yang akan diteliti.
Angket
yang digunakan adalah angket tertutup, karena responden hanya memilih jawaban
yang disediakan. Angket dengan skala dikhotonomis dengan alternative jawaban Ya
dan Tidak. Untuk jawaban Ya diberi skor + 1 dan untuk jawaban tidak diberi skor
0 dengan pernyataan positif. Pengembangan angket ini dimulai dengan mempedomani
definisi operasional yang kemudian dijabarkan dalam deskriptor dan indikator,
dari indikator itu dikembangkan item, dan kisi-kisi angket.
Tabel
2
Kisi-kisi
Instrumen Penelitian
|
Variabel
|
Indikator
|
Instrumen Penelitian
|
Item
|
|
Keharmonisan Keluarga
|
1.
Kehidupan beragama dalam keluarga
|
1.1
Menanamkan nilai-nilai moral dan etika kehidupan
kepada keluarga
1.2
Mengarahkan dan mengajak anak untuk beribadah
|
1-2-3
4-5
|
|
|
2.
Waktu bersama keluarga
|
2.1
Maluangkan waktu untuk berkumpul dan makan bersama
2.2
Menemani dan mengawasi anak saat bermain dan
belajar
2.3
Mendengarkan masalah dan keluhan - keluhan anak
|
6-7-8-9
10-11-12
13-14
|
|
|
3.
Komunikasi dan hubungan dalam keluarga
|
3.1
Menanamkan rasa cinta dan kasih sayang sesama
anggota keluarga
3.2
Saling menghargai, pengertian dan percaya antar
anggota keluarga
3.3
Memberikan rasa aman tentram bagi anggota keluarga
3.4
Menjalankan fungsi dan peran keluarga yang sesuai
|
15-16-17-18
19-20-21-22
23-24-25
26-27-28-29
|
|
|
4.
Kualitas dan kuantitas konflik yang minim
|
4.1
Terjadi perselisihan antara ayah dan ibu
4.2
Terjadi perselisihan antara orang tua dan anak
4.3
Terjadi perselisihan dengan anggota keluarga lain
|
30-31-32
33-34-35-36
37-38-39-40
|
2. Prestasi belajar
Data
prestasi belajar dalam penelitian ini diambil dari rata-rata prestasi dari
beberapa mata pelajaran yang tercantum pada raport siswa kelas IX MTs Dharma
Wanita.
E. Tehnik Analisis Data
Setelah
angket dijawab oleh responden maka selanjutnya peneliti akan menganalisa data
berdasarkan jawaban dari responden dengan menggunakan rumus uji kolerasi, dimana
dalam hal ini peneliti akan menentukan ada tidaknya korelasi yang signifikan
antara keharmonisan keluarga dengan prestasi belajar.
Menurut Sutja dkk (2010:118) formula yang digunakan dalam
penelitian korelasional adalah formula product moment, yaitu dengan formula
panjang sebagai berikut :
Keterangan
:
rxy
: Korelasi yang dicari
n : Jumlah
data
∑X : Jumlah
skor yang diperoleh dari variabel X
∑Y : Jumlah
skor yang diperoleh dari variabel Y
∑X2
: Jumal kuadrat setiap skor variabel X
∑Y2 : Jumal
kuadrat setiap skor dari variabel Y
XY : Perkalian
antara X dan Y
Selanjutnya
untuk mengetahui tingkat korelasi antara dua variabel X dan Y digunakan penafsiran korelasi. Baik korelasi positif maupun negative,
maka korelasi dapat diartikan sebagai berikut: (Sutja:2010:101)
Tabel 3
Kriteria Penafsiran Korelasi
|
No
|
Korelasi
|
Penafsiran
|
|
1
|
0,00 – 0,20
|
Korelasi kecil :
Hubungan hampir dapat diabaikan
|
|
2
|
0,21 – 0,40
|
Hubungan rendah :
hubungan jelas tetapi kecil
|
|
3
|
0,41 – 0,70
|
Hubungan sedang : hubungan
memadai
|
|
4
|
0,71 – 0,90
|
Hubungan tinggi :
hubungan besar
|
|
5
|
0,91 – 1,00
|
Hubungan sangat
tinggi : hubungan sangat erat
|
DAFTAR PUSTAKA
.
Anonim,2007.UU No 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas . Jakarta : Departemen Agama RI.
Anonim.20013.Pengertian Keharmonisan Keluarga. (online). http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-keharmonisan-keluarga.html.
Di Akses pada tanggal 23 November 2012
Djamarah,S.B.
1994. Prestasi
Belajar dan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Djamarah,
S.B. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta:
Rineka Cipta
Efendy,N. 1998 . Dasar-Dasar
Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Edisi
Ke2). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Anggota IKAPI
Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa. 2002. Psikologi untuk Membimbing. Jakarta : Gunung Mulia
Habsari,S. 2005. Bimbingan dan
Konseling SMA untuk Kelas XI. Jakarta : PT. Grasindo Anggota IKAPI
Habsari,S. 2005. Bimbingan dan
Konseling SMA untuk Kelas XII. Jakarta : PT. Grasindo Anggota IKAPI
Hasbullah.2006.Dasar Dasar Ilmu
Pendidikan. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada
Lestari,S.2012. Psikologi
Keluarga : Penanaman Nilai Dan Penanganan Dalam Keluaarga ( edisi pertama ).
Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.
Mardalis.2009.Metode Penelitian
: Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : Bumi Aksara.
Maria,U.2007.Peran Persepsi
Keharmonisan Keluarga Dan Konsep Diri Terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja. (online).
http://www.damandiri.or.id/file/Tesis_Ulfah%20Maria.pdf.
Diakses pada tanggal 23 November 2012.
Musafir.2012.Faktor yang Mempengaruhi Keharmonisan (online). http://ilhamihwan.blogspot.com/2012/05/faktor-yang-mempengaruhi-keharmonisan.html.
Diakses pada tanggal 23 November 2012.
Nurihsan,A.J.2009. Bimbingan
Konseling : dalam Berbagai Latar Belakang Kehidupan. Bandung : Refika
Aditama
Riyanti,A.2012. Hubungan Keharmonisan Keluarga dengan Kenakalan Siswa
Kelas VIII di SMP 2 Geyer Kabupaten Grobogan Tahun Pelajaran 2011/2012.
Skripsi. Salatiga : FKIP Bimbingan Konseling Universitas Kristen Satya Wacana.
Slameto.2010. Belajar dan
Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Subhan,S. 2004. Membina Keluarga
Sakinah. Yogjakarta : PT. LKiS Pelangi Aksara
Suprajitno. 2004. Asuhan
Keperawatan Keluarga : Aplikasi dalam Praktik. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC Anggota IKAPI
Sutja, dkk. 2000 . Panduan
Penulisan Skripsi. Program Ekstensi Bimbingan dan Konseling FKIP
Universitas Jambi.
Sutja,A.2011.Memahami
Lingkungan Keluarga dan Pendidikan Anak. Bimbingan Konseling Universitas
Jambi.
Yanda,T.2011.Hubungan
Keharmonisan Keluarga dengan Penalaran Moral Pada Remaja Delinkuen.
Skripsi. Fakultas Psikologi : Universitas Sumatera Utara

Angket dari kisi kisi keharmonisan keluarga
BalasHapus