PSIKOLOGI SOSIAL
PERSEPSI
SOSIAL
Dosen Pengampu
Dr. Ekawarna, M.Psi
Di Susun Oleh:
Rediana : ERA 1D08020
Nurhikmah : ERA 1D0 10173
Evana Miftahul J : ERA 1D0
10102
Galih Hartono : ERA
1D0 10122
Hery Piyanto : ERA
1D0 10161
Dani Eka Prasetia : ERA
1D0 10164
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS
JAMBI
2011
KATA
PENGANTAR
Alhamdullilah
segala puji dan syukur kami selaku penulis panjatkan khadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kesehatan
kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah “pisikologi sosial” ini dengan tepat waktu sesuai dengan jadwal
yang telah ditetapkan.
Tujuan
kami menulis makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi sosial, dan semoga makalah ini dapat membantu kita lebih
memahami tentang psikologi sosial
terutama tentang persepsi sosial yang
akan kami bahas dalam makalah ini.
Tak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat di selesaikan tepat waktu.
Kami berharap semoga makalah ini sesuai
dengan yang diharapkan, namun bila ada kesalah dalam penyusunan dan penyajian
makalah ini kami mohon maaf sebesar-besarnya dan kami mengharapkan kritikan
yang membangun.
Jambi, mei 2011
Tim
penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA PENGANTAR..................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................
1.1 Latar
belakang.................................................................................
1.2 Permasalahan.................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................
2.1
Definisi Persepsi………………………………………………….
2.2
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Sosial………...
2.3
Kasus kasus Yang Relevan yang terjadi……………………...
2.4
Upaya Mengurangi Persepsi Sosial…………………………...
BAB III PENUTUP......................................................................................
3.1
kesimpulan………………………………………………………...
3.2
Saran……………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Menurut
Brehm dan kassin ( 1989 ), persepsi sosial adalah penilaian-penilaian yang
terjadi dalam upaya manusia dalam memahami orang lain. Tentu saja sangat
penting, namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk
tubuh, warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adalah beberapa hal
yang mempengaruhi persepsi sosial.
Melalui perkembangan
dan pengalaman, orang membangun konsep kepribadian implicit ( implicit
personality theory ), yaitu asumsi asumsi adanya sifat-sifat tertentu yang
berkorelasi dengan sifat lain. Orang yang memiliki kecendrungan demikian di
sebut Psikologi naïf.
Persepsi sosial yang
memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan
tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak
dan memporakporandakan persatuan Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar,
atau bahkan antarwarga,tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang
semakin tidak sadar, bahkan hampir tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial
negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok
lain, berkekuatan memicu perpecahan.
Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar
kita dapat lebih tajam menilai orang lain. Tak kalah penting untuk dipahami
adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses
yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang,
berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan
fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan
hasil pengamatan perilaku yang terjadi seketika. Kedua, proses yang dilalui
dengan penuh pertimbangan. Orang mengamati orang lain secara seksama dan
menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan
ketiga elemen persepsi sosial. Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam
membentuk persepsi sosial sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat
seketika. Misalnya pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain
diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum persepsi
dibentuk.
Tetap Perlu Berhati-hatikah?Tentu
saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di atas memberikan latar
belakang yang layak diyakini betapa persepsi sosial sangat penting dalam
konteks hubungan antarmanusia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Definisi Persepsi sosial ?
2. Factor-faktor yang mempengaruhi perepsi sosial ?
3. Kasus-kasus yang relevan yang terjadi saat ini ?
4. Cara mengatasi masalah tersebut ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi persepsi
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi
sesuatu dengan menggunakan panca indera (Drever dalam Sasanti, 2003). Kesan
yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah
diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor
yang berasal dari dalam diri individu. Banyak
ahli yang mencoba membuat definisi dari ‘persepsi’.
Beberapa di antaranya adalah:
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1837978-definisi-persepsi/#ixzz1NLGYKHFL
1. Persepsi merupakan proses yang
terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai
rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat
mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito).
2. Persepsi merupakan proses
pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau
individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang
terintegrasi dalam diri individu (Davidoff).
3. Persepsi ialah interpretasi tentang
apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower).
4. Persepsi merupakan suatu proses
pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu
(Gibson).
5. Persepsi juga mencakup konteks
kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan
suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui,
menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai
sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang
dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek
persepsi tersebut (Lindzey & Aronson).
6. Persepsi merupakan proses pemberian
arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).
7. Persepsi merupakan suatu proses yang
dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri
individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya
melalui indera-indera yang dimilikinya.
Mar’at (1981)
mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang
yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi
oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat
penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang
kemudian ditafsirkan.
Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999)
mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai
orang lain.
b.
Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk menilai
sesuatu.
c.
Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai
proses persepsi, yaitu:
1.)
Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang
membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik
dan perhatian sekilas.
2.)
Persepsi
sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain
dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person,
situasional, dan behaviour.
Dalam
usaha menginterpretasikan orang lain, sering di gunakan dimensi-dimensi
tertentu. Wrightman ( 1981 ) mengemukakan ada enam dimensi pokok, yaitu:
1. Dapat di percaya-tidak dapat di
percaya
2. Rasional-tidak rasional
3. Altruis-orientasi diri ( selfness )
4. Independen-conform dengan kelompok
5. Fariatif-kesamaan
6. Kompleksitas-kesederhanaan
Persepsi
sosial merupakan respon sebagai bentuk penilaian terhadap individu maupun kelompok yang di
hasilkan dari stimulus-stimulus yang berasal dari individu atau kelompok itu sendiri.
2.1.1
proses persepsi dan sifat persepsi
Alport (dalam Mar’at, 1991) proses
persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman,
cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan
bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan
pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap
individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan
tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek
yang ada.
Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
1)
Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman
atau proses fisik,
merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2)
Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan
proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui
saraf-saraf sensoris.
3)
Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik,
merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima
reseptor.
4) Tahap
ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa
tanggapan dan perilaku.
Berdasarkan
pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga
tahap, yaitu:
1)
Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui
alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan
pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2)
Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian
informasi.
3)
Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan
melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta
pengetahuan individu.
Menurut
Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses
persepsi, yaitu:
1) Konstansi
(menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri
walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2) Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan
psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang
bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap
informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan
diserap.
3) Proses
organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun
ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.
Persepsi
sosial terdiri atas tiga elemen yang merupakan petunjuk-petunjuk tidak langsung
ketika seseorang menilai orang lain. Tiga elemen tersebut bersumber pada:
v pribadi (person)
v situasi (situation) dan
v perilaku (behavior).
Proses pembentukan persepsi sosial berdasarkan
penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan
fisik seseorang. Termasuk didalamnya jenis kelamin, usia, ras, latar belakang etnik,
dan beberapa aspek demografi lain.
Sebagaimana kita percaya manusia terbagi dalam
beberapa tipe, demikian pula kita memiliki konsep awal tentang beragam situasi
berdasarkan pengalaman terdahulu. Situasi sering dianggap sebagai naskah
kehidupan. Semakin Banyak pengalaman yang orang miliki dalam satu situasi, maka
semakin terperinci isi naskah yang disusunnya mengenai situasi tersebut. Ketika
seseorang merasa sangat akrab dengan tipe situasi tertentu, maka
peristiwa-peristiwa akan terletak tepat pada tempatnya, bagaikan
potongan-potongan puzzle yang tersusun rapi. Hal ini berarti, semakin kaya
pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi sosial yang dibentuknya dari
situasi. Elemen perilaku adalah mengidentifikasi perilaku yang diproduksi oleh aktivitas
seseorang. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati. Ketajaman
pengamatan seseorang menentukan persepsi sosial yang dibentuknya berdasarkan
gejala-gejala perilaku orang lain. Orang mengandalkan Perilaku nonverbal untuk
menguatkan penilaiannya, namun sering kali hasilnya Kurang akurat. Masalahnya
terletak pada terlalu banyak perhatian yang ditujukan pada kata-kata dan
ekspresi wajah. Tombol komunikasi sepenuhnya berada dibawah kendali orang yang
dinilai, sehingga ia dapat mengatur kata-kata dan ekspresinya. Namun isyarat
bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara adalah petunjuk yang sangat berharga
dalam proses persepsi sosial bersumber pada elemen perilaku. Penelitian
membuktikan persepsi sosial yang kita lakukan dalam upaya membangun relasi
interpersonal sering cukup akurat, namun tidak selalu demikian. Dalam hal
inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai
orang lain.
Tak
kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi
sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir,
menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan
penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal
situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi se- ketika. Kedua, proses
yang dilalui dengan penuh pertimbangan.
Orang
mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai
menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial. Pada
dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi sosial sah-sah saja
dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika. Misalnya Pada perjumpaan yang singkat. Namun
pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang
sebelum persepsi dibentuk. Tetap Perlu
Berhati -hatikah? Tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di
atas memberikan latar belakang yang
layak diyakini betapa persepsi sosial
sangat penting dalam konteks hubungan antarmanusia. persepsi sosial yang
memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan
tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak
dan memporakporandakan persatuan. Bagaimana mungkin muncul tawuran
antarpelajar, atau bahkan antarwarga, tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya
saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hamper tidak mau tahu, bahwa
persepsi sosial negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang
atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan. Citra manusia sejati adalah
manusia yang membangun persepsi sosial positif, tidak mudah menilai buku hanya
dari sampulnya, namun juga waspada dalam bertindak. Artinya, tidak berprasangka
buruk, namun juga tidak mudah terkecoh
oleh penampilan. Orangtua sering terdengar memberi nasihat supaya anak-anaknya
berhati-hati dalam pergaulan. Kehati-hatian menilai orang lain sangat penting,
karena kancah pergaulan sosial adalah situasi yang kompleks. Nasihat yang baik dapat
menjadi lebih efektif apabila disertai contoh perilaku dan cara melakukannya. Jangan
hanya mengharapkan anak-anak saja yang berhati-hati, sementara orangtua serta
orang dewasa lepas kendali dan tanggung jawab mengenai persoalan ini.
Berhati-hati berarti waspada, jitu dan bijak membentuk persepsi sosial dalam
hubungan antarmanusia.
2.2 Faktor
Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Sosial
Thoha
(1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri
individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal
adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu
sendiri, baik sosial maupun fisik. Dijelaskan
oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda
yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor
yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi.
Faktor-faktor ini dari :
1)
Pelaku persepsi (perceiver)
2)
Objek atau yang dipersepsikan
3)
Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Berbeda dengan persepsi terhadap benda
mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah
kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup
dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud
seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan
penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh
karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup
banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan
internal orang itu (Robbins, 2003). Gilmer
(dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai
faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau
pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang
bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh
masing-masing individu akan berbeda satu sama lain. Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting
dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:
a.
Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b.
Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c.
Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d.
Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor
fungsional dan struktural. Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat
personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu,
kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor
struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan
norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan
sesuatu.
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan,
bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu
faktor pemersepsi (perceiver), obyek dipersepsi
dan konteks situasi persepsi dilakukan.
2.2.1
Kesan
Kesan
menjadi dasar bagi berbagai hubungan interpersonal, misalnya: komunikasi,
kerjasama, ketertarikan, cinta, konflik, agresi, sikap, dll. Apa yang ada dalam
diri individu akan dipengaruhi dalam individu mengadakan persepsi, ini
merupakan factor internal. Di samping itu masih ada factor lain yang dapat
mempengaruhi dalam proses persepsi, yaitu factor stimulus dan faktor lingkungan
sebagai faktor eksternal. Stimulus dan lingkungan sebagai factor eksternal dan
individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam individu mengadakan
persepsi. Agar stimulus dapat di persepsi, maka stimulus harus cukup kuat,
stimulus harus melewati ambang stimulus, yaitu kekuatan stimulus yang minimal
tetapi sudah dapat menimbulkan kesadaran, sudah dapat di persepsi oleh
individu. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam persepsi. Stimulus
yang kurang jelas, stimulus yang berwujud arti, akan berpengaruh dalam
ketepatan persepsi. Bila stimulus itu terwujud benda benda bukan manusia, maka
ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mangadakan persepsi,
karena benda-benda yang di persepsi tersebut akan berbeda bila yang di
persepsikan itu manusia.
Mengenai keadaan individu yang dapat mempengaruhi hasil persepsi datang
dari dua sumber, yaitu yang berhubungan segi kejasmanian, dan yang berhubungan
dengan segi psikologis. Bila system fisiologisnya terganggu, hal tersebut akan
berpengaruh dalam persepsi seseorang. Sedangkan segi psikologis seperti telah
di paparkan di depan, yaitu antara lain mengenei pengalaman, perasaan,
kemempuan berikir, kerangka acuan, motifasi akan berpengaruh pada seseorang
dalam mengadakan persepsi.
Sedangkan lingkungan atau situasi khususnya yang
melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam presepsi, lebih lebih
bila objek presepsi adalah manusia. Objek dan lingkungan yang melatar belakangi
objek merupakan kebutuhan atau kesatuan yang sulit di pisahkan. Objek yang sama
dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan presepsi yang berbeda.
Pembentukan kesan di
pengaruhi oleh:
v Filsafat
tentang hakikat manusia: keyakinan bahwa manusia memiliki karakteristik positif
( carl Rogers : Konstruktif, realistis, tulus ), atau negative (Thomas Hubes :
Homo-homoni lupus)
v Implicit
personality theory ( diyakini tetapi tidak di ungkapkan ) :sifat jjur di
hubungkan engan murah hati, hangat, rendah hati, lembut. Sifat keras hati di
hubungkan dengan ambisius, egois, suka membantah, suka mengkritik. Sifat rapi
di kaitkan dengan teratur, didiplin, hangat, ramah.
2.2.2
Stereotip
Adanya prasangka sosial
bergandengan pula dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan
tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang
bercorak negative. Stereotip mengenai orang lain sudah terbentuk pada orang
yang berprasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul sewajarnya
dengan orang orang lain yang di kenei prasangka itu. Biasanya, stereotip
terbentuk padanya berdasarkan keterangan keterangan yang kurang lengkap dan
subjektif. Sebuah contoh mengenei stereotip itu adalah gambaran orang Amerika
serikat berkulit putih di bagian selatan mengenai sifat dan watak orang negro
di mana antara lain terdapat anggapan bahwa semua orang negro itu bodoh, kurang
ajar, dan tidak berkesusilaan. Peranan stereotip pada orang yang berprasangka
itu sangat besar daam pergaulan sisialnya dengan orang negro itu. Sementara
itu, stereotip menentukan sikapnya terhadap semua orang negro, terlepas dari
tingkat tingkat pendidikan, sosial-ekonomi, atau tingkat kebudayaannya pada
umumnya. Gambaran stereotif tidak mudah berubah serta cendrung untuk di
perhatikan oleh orang berprasangka, juga apabila mereka pernah bergaul dengan
orang negro yang inteligen, berwatak tinggi, terdidik, dan maju dalam
perkembangannya. Dalam hal itu, mereka yang berprasangka menganggap orang negro
yang maju itu sebagai suatu pengecualian dari orang negro Amerika pada umumnya
yang mempunyai sifat sifat seperti yang tercantum dalam stereotip itu.
Meskipun demikian, stereotip
dan prasangka sosial dapat pula berubah, yaitu dengan usaha usaha intensif
secara langsung atau karena perubahan keadaan masyarakat pada umumnya, misalnya
karena peperangan dan revolusi.
Prasangka sosial selain
menyatakan diri dalam tindakan-tindakan diskriminatif terhadap
golongan-golongan tertentu dan dalam stereotip-stereotip tertentu juga dapat
kita temukan dengan cara-cara risert yang khusus. Untuk itu, dapat digunakan
berbagai macam teknik risert seperti wawancara, angket, dan skala-skala
attitude.
Ada beberapa teori yang
menjelaskan seperti yang dikemukan oleh Leon Festinger yang menyebutkan, bila
individu memiliki dua kognisi yang inkonsisten, ia akan berada dalam keadaan
disonan dan emrasa tidak sejahtera. Oleh sebab itu, individu akan selalu
terdorong untuk mengurangi disonasi :
v Mengubah
salah satu kognisi.
v Menambah
kognisi baru yang membuat dua kognisi semula berkurang inkonsistensinya.
Ada
dua macam perubahan attitude yaitu:
v Perubahan
Inkongruen, yaitu perubahan attitude dari positif ke negatif, atau penurunan
derajat kepositifan atau kenegatifan attitude.
v Perubahan
kongruen, yaitu peningkatan derajat kepositifan atau kenegatifan attitude.
Perubahan attitude tergantung pada
karakteristik-karakteristik system attitude, kepribadian individu, dan
keanggortaan individu dalam kelompok.
Ciri-ciri attitude dan kemudahan
berubahnya. Kemudahan berubah suatu attitude, antara lain ditentukan oleh:
1.
Keekstriman attitude. Attitude yang ekstrim
lebih sulit berubah inkongruen ketimbang attitude yang tidak ekstrim. Pada
attitude yang tidak ekstrim, kemudahan perubahan konruen dan inkongruen tidak
begitu banyak berbeda.
2.
Multipleksitas. Attitude yang simpleks
relatif lebih mudah berubah inkongruen ktimbang attitude yang multipleks.
Attitude yang tinggi derajat multipleksitasnya relatif lebih mudah bergerak
kearah kongruen ketimbang attitude yang simplks.
3.
Kosistansi. System attitude yang konsisten
cendrung lebih stabil, komponen-komponenya saling mendukung. Sebaliknya, system
attitude yang inkonsisten relative tidak setabil karena disonansi diantara
komponen-komponennya; karena itu lebih mudah berubah menuju kearah peningkatan
konsistensi. Hal ini khususnya terjadi pada perubahan yang inkongruen.
4.
Kesalingberjalinan. Disatu pihak, attitude
yang saling berjalinan dengan attitudes lain dengan bobot efektifitas yang
tinggi relatif lebih tahan terhadap daya-daya yang mengarahkan perubahan
inkongruen. Dipihak lain, attitudes yang saling berjalinan relatif lebih mudah
menerima pengaruh-pengaruh yang mengarahkan kepada perubahan kongruen,
ketimbang attitudes yang terisolasi.
5.
Konsonansi. Attitudes yang konsonansinya
tinggi cendrung imun terhadap daya-daya yang mengarahkan kepada perubahan
inkongruen. Sebaliknya, attitudes yang konsonansinya rendah, relatif yang lebih
mudah bergerak kearah perubahan inkongruen.
6.
Kekuatan dan jumlah keinginan yang dilayani
attitude. Attitude yang didasarkan pada berbagai keinginan yang kuat relatif
imun terhadap peubahan inkongruen. Attitude tersebut relatif lebih mudah
bergerak kearah perubahan kongruen.
7.
Sentralitas nilai yang bekaitan.
2.2.3
Metode penilaian
Skala-skala attitude bermacam
macam kontruksinya, seperti metode likert, Thurstone dan Guttman yang tidak
kami bicaraka di sini, tetapi yang dapat di pelajari dalam sebagian besar buku
psikologi sosial. Ketiga metode ini agak mendalam dan memerlukan waktu dan
upaya untuk memperoleh hasil yang cukup baik. Akan tetapi di antara metode
skala attitude itu terdapat salah satu yang relative mudah di laksanakan,
walaupun kemampuannya untuk menunjukkan adanya presepsi sosial hanyalah dalam
garis garis besarnya. Yaitu, metode dari Bogardus yang telahmerumuskan sebuah
tekhnik untuk mengukur social distance
atau jarak sosial yang terdapat di
antara golongan-golongan tertentu. Makin jauh jarak yang di rasakan di antara
orang-orang dari dua golongan yang berlainan, makin mendalam presepsi sosialnya
di antara golongan-golongan itu, yang mungkin berbeda pada taraf yang sadar,
mungkin pula pada taraf yang tak sadar.
Skala Bogardus terdiri dari tujuh pokok pertanyan
yang di ajukan kepada responden dengan permintaan agar jawaban-jawabannya di
isi dengan sejujur-jujurnya. Tujuh pertanyaan itu berkisar pada taraf kesediaan
orang untuk bergaul rapat dengan salah seorang dari golongan yang ain sebagai
berikut. Orang-orang harus menjawab dengan iya atau tidak.
1.
Kesediaannya untuk menikah dengan orang dari
golongan lain.
2.
Kesediaanya untuk bergaul rapat dengan kawan
anggota klubnya.
3.
Kesediaanya untuk menerimanya sebagai
tetangga.
4.
Kesediaanya untuk menerimanya sebagai rekan
sejabatannya
5.
Keseiaannya untuk menerimanya sebagai warga
negaranya.
6.
Kesediaanya untuk menerimanya sebagai
pengunjung negaranya
7.
Tidak ingin menerimanya di dalam negaranya
Berdasarkan jawaban-jawaban dari responden
yang berasal dari golongan tertentu, dapatlah di susun sebuah daftar urutan
mengenai kesediaan golongan tersebut untuk menerima dan bergaul dengan orang-orang
dari golongan lainya. Sebagai contoh, kami kutip sebagian dari hasil suau
penelitian yang di lakukan terhadap 178 orang yahudi yang lahir di Amerika
serikat mengenai sikapnya terhadap 18 ras lainnya. Dalam table 1.1, kami memuatkan jawaban-jawaban
responden terhadap pertanyaan pertama, ketiga, dan ketujuh dari sekala
Bogardus. Angka-angka dalam table menunjukkan presentase responden yang
menyetujui pernyataan itu.
Apabila di pelajari, jawaban-jawaban dari
setiap pertanyaan ( yang di contohkan di sini hanyalah jawaban pada tiga
pertanyaan ), dapat di ambil kesimpulan bahwa terdapat jarak sosial yang sangat
besar antara orang-orang Yahudi dan Negro. Sedangkan jarak antara orang-orang
Yahudi dan orang Inggris hampir tidak ada, semuanya di lihat dari sudut
golongan Yahudi. Demikian halnya apabila kita pelajari jawaban-jawabanya pada
pertanyaan pertama. Sedangkan apabila kita tinjau dari hasil pertanyaan
ketujuh, maka yang paling tidak di sukai orang Yahudi yang di teliti bukanlah
orang negro, melainkan orang Cina dak berikunya orang Jepang. Hal ini mungkin
di sebabkan mereka di anggap sebagai pesaing terbesar dalam lapangan keahlian
sebagai golongan, yaitu dalam hal Money making. Begitulah terhadap
urutan-urutan yang agag berlainan apabila dipelajari jawaban-jawaban pada
pertanyaan-pertanyaan lainnya. Akan tetapi, apabila daftar urutan jarak sosial
yang tersimpul dalam jawaban-jawaban setiap pertanyaan di kombinasikan, maka
dapat diperoleh suatu daftar urutan umum yang menunjukkan adanya prasangka
sosial yang relatif besar atau kecil dari golongan Yahudi terhadap golongan ras
dan lainnya.
TABEL
1.1
Hasil jawaban 178
orang Yahudi terhadap skala Bogardus ( dari Dr. A.M.J. Chorus [3] )
Ras 1 3 7
Yahudi
Jerman 94,3% 97,1% 1,4%
Yahudi
Rusia 84,3% 91,4% 0,0%
Inggris 80,0% 98,5% 0,0%
Prancis 54,3% 94,3% 0,0%
Jerman 52,8% 92,8% 0,0%
Irlandia 34,8% 87,1% 2,8%
Skotlandia 34,4% 88,5% 2,8%
Spanyol 24,3% 64,3% 1,4%
Armenia 14,3% 45,9% 1,4%
Italia 11,4% 55,7% 1,4%
Meksiko 4,3% 28,5% 19,1%
Jepang 2,8% 21,4% 28,5%
Turki - - -
Yunani 2,1% 34,3% 1,4%
Cina 1,4% 21,4% 32,8%
Hindu 1,4% 21,4% 14,3%
Filiphina 0,0% 27,1% 7,1%
Skala
Bogardus merupakan salah satu cara riset yang relative mudah untuk sekedar
mengetahui adanya prasanga atau presepsi sosial di antara golongan golongan
tertentu yang dapat melahirkan stereotip-stereotip dan yang pada akhirny6a
dapat menimbulkan tindakan-tindakan diskriminatif yang sangat merugikan
masyarakat.
2.3 Kasus-Kasus Yang relevan yang Terjadi
Posted:January 13, 2010 by
nardykomunikasi in makalah
Persepsi
sosial masyarakat Aceh terhadap kemenangan Partai Lokal Pada Pemilu Tahun 2009.
Pada
tanggal 9 April 2009 seluruh rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya dalam
Pemilihan Umum untuk Calon Legislatif di daerah masing-masing dan untuk DPR-RI.
Pesta demokrasi tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena ada
38 partai politik plus 6 partai lokal yang ikut serta. Sejarah Indonesia
mencatat tiga kali pemilu dilaksanakan selama masa reformasi. Namun, pemilu
2009 adalah tonggak sejarah bagi demokrasi, untuk kali pertamanya rakyat
memilih sosok calon wakilnya di parlemen secara langsung pada Kamis 9 April
2009 mulai pukul 07.00 sampai pukul 12.00. Sebanyak 38 partai nasional dan enam
partai lokal berebut posisi di dewan dalam pemilu kali ini, belum lagi 1.109
calon anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berebut kursi senator.
Sebanyak 560 kursi di DPR
diperebutkan 11.219 calon, demikian pula 1.998 kursi dewan di propinsi yang
diperebutkan 32.263 caleg. Tak kalah hebat persaingan di dewan kabupaten atau
kota, sebanyak 16.270 kursi diidam-idamkan 246.588 calon.
2.3.1
Sejarah Kemunculan Partai Lokal
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan dalam perundingan antara
pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki,
Finlandia, ada pemberian amnesti kepada anggota GAM berikut pemulihan hak-hak
politik, ekonomi, dan sosial. Salah satu bentuk pemulihan hak politik yang
begitu ramai dibicarakan adalah keinginan GAM membentuk partai politik lokal di
Nanggroe Aceh Darussalam. Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah
RI dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, mengarah
kepada kesediaan pihak GAM melepaskan tuntutan merdeka, yang berarti pengakuan
terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hanya saja, kelompok GAM
menuntut dibukanya peluang pembentukan partai lokal di Naggroe Aceh Darussalam
(NAD). Kini pemerintah sudah mengeluarkan peraturan tentang partai lokal dan
ramailah panggung demokrasi di Aceh.
Terwujudnya penandatanganan
kesepakatan damai antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal
15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia memberikan harapan baru bagi seluruh
masyarakat Aceh akan kehidupan yang lebih baik, damai dan indah. Konflik yang
telah berlangsung hampir 30 tahun telah menelan puluhan ribu jiwa dan harta
benda yang tidak sedikit. Yang lebih parah adalah dampak psikologis yang
ditimbulkan oleh konflik dari anak-anak dan generasi muda Aceh yang tidak mudah
untuk dipulihkan.
Terkait dengan pembentukan partai politik lokal dan partisipasi politik perlu klarifikasi bersama untuk menyatukan persepsi. Butir 1.2.1 MoU menyatakan bahwa “………… Pemerintah RI menyepakati dan akan memfasilitasi pembentukan partai-partai politik yang berbasis di Aceh yang memenuhi persyaratan nasional. Memahami aspirasi rakyat Aceh untuk partai-partai lokal, pemerintah RI dalam tempo satu tahun atau paling lambat 18 bulan sejak penandatanganan Nota Kesepahaman ini, akan menciptakan kondisi politik dan hukum untuk pendirian partai lokal di Aceh dengan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.”Untuk mewujudkan kesepakatan tersebut perlu disusun payung hukum.
Terkait dengan pembentukan partai politik lokal dan partisipasi politik perlu klarifikasi bersama untuk menyatukan persepsi. Butir 1.2.1 MoU menyatakan bahwa “………… Pemerintah RI menyepakati dan akan memfasilitasi pembentukan partai-partai politik yang berbasis di Aceh yang memenuhi persyaratan nasional. Memahami aspirasi rakyat Aceh untuk partai-partai lokal, pemerintah RI dalam tempo satu tahun atau paling lambat 18 bulan sejak penandatanganan Nota Kesepahaman ini, akan menciptakan kondisi politik dan hukum untuk pendirian partai lokal di Aceh dengan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.”Untuk mewujudkan kesepakatan tersebut perlu disusun payung hukum.
Dalam makalah ini kami mencoba
memaparkan beberapa faktor yang menjadi kemenanganan partai lokal di Aceh yang
kami kutip dari berbagai media dan melihat realita di lapangan, antara lain :
Soal figur terbukti masih
menentukan. Parnas di Aceh kelihatannya tidak lagi memiliki satu pun figur yang
populis di mata publik. Tak ada tokoh parpol yang selama ini memberi
pencerahan-pencerahan kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah,
tidak ada juga yang dijadikan referensi atau panutan. Rakyat harus
menjerit-jerit sendiri misalnya terhadap kondisi infrastruktur dipedesaan,
deraan kemiskinan, modal kerja dan sebagainya. Menurut masyarakat kemenangan
partai lokal akan menjadi cermin kebebasan politik yang matang.
Faktor lain yang menjadi penentu kemenangan partai lokal antara lain symbol-simbol yang digunakan dalam alat kampanye yang begitu dekat dengan masyarakat. “Hampir 100% caleg-caleg partai lokal memakai baju Aceh dalam posternya ataupun simbol-simbol ke Acehan lainnya sehingga masyarakat merasa dekat dengan mereka. Partai lokal merupakah amanah dari MoU Helsinky.
Faktor lain yang menjadi penentu kemenangan partai lokal antara lain symbol-simbol yang digunakan dalam alat kampanye yang begitu dekat dengan masyarakat. “Hampir 100% caleg-caleg partai lokal memakai baju Aceh dalam posternya ataupun simbol-simbol ke Acehan lainnya sehingga masyarakat merasa dekat dengan mereka. Partai lokal merupakah amanah dari MoU Helsinky.
2.3.2
Persepsi masyarakat terhadap kemenangan Partai
lokal
a. Persepsi Sosial
Pemilihan umum sudah
menjadi agenda lumrah dan biasa di seluruh dunia, tapi bagi rakyat Aceh
pemilihan umum kali ini yang di sebut-sebut akan di laksanakan pada 9 April
2009 mendatang adalah hal yang luar biasa, dan istimewa sepanjang sejarah
demokrasi Indonesia. Di Aceh terdapat partai lokal dan ada juga partai Nasional,
jarang ada di negeri lain. Pemilihan umum ala Aceh merupakan contoh kekinian
sebuah model demokrasi, dan pelaksanaannya menjadi pantauan umum dunia, karena
diharap bisa memberi pelajaran baru buat daerah-daerah lain sebagai satu model
akhir dari konflik. Partai lokal sebenarnya bisa saja di artikulasi sebagai
sebuah formula untuk menciptakan kemajuan langkah penyelesaian yang aman dan
damai. Rakyat Aceh berusaha mencari keadilan mencari jalan keluar untuk bisa
mengurus diri sendiri. Maka dengan itu keberadaan partai lokal dan kemenanganya
dalam pemilu akan memberi nuansa baru khususnya buat masa depan Aceh yang
beradap dan bermartabat, bahkan lebih jauh dari itu kemenangan Partai Lokal nantinya
akan turut memberi motivasi baru buat generasi Aceh kedepan, untuk menentukan
arah tujuan yang lebih mandiri, tanpa harus bergantung banyak pada Jakarta
sesuai dengan apa yang telah di dapati di Helsinki, Finlandia. Kemenangkan
Partai Lokal di Aceh dalam pemilu yang pertama dalam ruang perdamaian ini
sebenarnya memilki makna tersendiri yang cukup kusus kepada seluruh rakyat
Aceh, antaranya termasuk untuk memperkuat berbagai tahapan pelaksanaan
butir-butir MoU (Memorendum of Understanding), serta menjadi momen dalam
mempercepat upaya pembangunan Aceh, apalagi perjanjian damai antara GAM
(Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Indonesia telah membatasi hubungan
Indonesia dengan Aceh.
b. Persepsi Negatif
Adanya kecurigaan pemerintah pusat
akan isu memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada
lagi kepercayaan pada Partai Nasional.
3 Harapan Masyarakat terhadap Partai dan
Caleg yang Terpilih Di tengah minimnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja
parlemen, kita tetap berharap agar para calon legislatif (caleg) yang kelak
terpilih mampu mengemban amanah sebaik-baiknya. Wajah bangsa dan negara ini ke
depan sedikit banyak ditentukan mereka yang kelak duduk di parlemen. Maka, kita
senantiasa membentangkan optimisme bahwa harapan itu masih ada. Harapan agar
tercipta wajah parlemen yang lebih baik, bersih, kontributif, dan bermartabat. Harapan
itu dapat menjadi modal perubahan. Harapan itu tentunya harus berlanjut pada
dua titik: komitmen caleg dan kecerdasan pemilih. Dua hal ini perlu dilakukan
untuk menciptakan parlemen yang bersih, mampu bekerja maksimal, dan bertanggung
jawab. Caleg yang terpilih harus menjadikan setiap janji perubahan sebagai
pengikat komitmen. Jika selama kampanye selalu berteriak peduli masyarakat,
maka perlu dibuktikan ketika duduk di parlemen.
Kemenangkan Partai Lokal
di Aceh dalam pemilu yang pertama dalam ruang perdamaian ini sebenarnya memilki
makna tersendiri yang cukup kusus kepada seluruh rakyat Aceh, antaranya
termasuk untuk memperkuat berbagai tahapan pelaksanaan butir-butir MoU
(Memorendum of Understanding), serta menjadi momen dalam mempercepat upaya
pembangunan Aceh, apalagi perjanjian damai antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka)
dan Pemerintah Indonesia telah membatasi hubungan Indonesia dengan Aceh. Caleg yang
terpilih harus menjadikan setiap janji perubahan sebagai pengikat komitmen.
Jika selama kampanye selalu berteriak peduli masyarakat, maka perlu dibuktikan
ketika duduk di parlemen.
2.4 Upaya Mengurangi Persepsi Sosial
Upaya mengurangi persepsi sosial antar golongan itu kiranya
jelas harus di mulai pada pendidikan anak d rumah dan di sekolah oleh orang tua
dan gurunya. Sementara itu, sebaiknya menghindari pengajaran-pengajaran yang
dapat menimbulkan persepsi atau prasangka sosial. Akan tetapi demikian juga
informasi-informasi melalui media masa berperan besar, terutama informasi yang
memberikan pengertian dan kesadaran mengenai sebab terjadinya, diertahankannya
dan mengenai kerugian prasangka sosial
bagi masyarakat secara keseluruhan dan bagi para anggotanya.
Selain itu, puluhan eksperimen dengan kelompok kecil telah
menyatakan bahwa interaksi antar golongan yang cukup intensif mampu sekali
melenyapkan stereotip dan prasangka sosial antar golongan itu.
Khusus bagi bangsa kita yang sejak kemerdekaan yang telah
mengalami pahitnya beberapa pemberontakan yang sebagian besar di sebabkan
oleh-bahkan mungkin satu-satunya penyebab-adanya prasangka sosial karea masih
terdapat akar-akar prasangka sosial antar golongan akibat zaman kolonial.
Bangsa kita yang yang menghadapi masa depan apabila seluruh potensi masyarakat
dapat berkembang tanpa prasangka sosial antar golongan kiranya patut lebih
memahami gejala-gejala prasangka sosial berikut penyebab-penyebabnya
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Pelaku orang lain dan
menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut atribusi
dapat terjadi bila:
:1). Suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang,
2). Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang
bersifat personal
,
3). Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang lain (Shaver, 1981; Lestari, 1999).
Brems
& Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial
memiliki beberapa elemen,
yaitu:
a. Person, yaitu orang yang
menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian
yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang
untuk
meniiai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu
yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan
mengenai
proses persepsi, yaitu:
1.)
Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan
cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.)
Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain
dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap
person, situasional, dan behaviour.
Maka dapat diambil
kesimpulan bahwa persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran
dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal
serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut. Sejumlah
informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan
atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang
kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).
persepsi sosial sering diartikan
sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa sosial individu untuk
mencoba memahami apa yang tampak dan tidak tampak pada alat inderanya. Persepsi
sosial melibatkan proses mempersepsi orang lain, penampilan fisik, aspek-aspek
psikologi serta perilakunya
• Persepsi yang dihasilkan oleh individu sangat subjektif karena dipengaruhi oleh perasaan, nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki oleh individu. Sehingga tidak heran jika ada suatu objek dipersepsikan berbeda oleh masing-masing orang yang mengamatinya.
• Persepsi yang dihasilkan oleh individu sangat subjektif karena dipengaruhi oleh perasaan, nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki oleh individu. Sehingga tidak heran jika ada suatu objek dipersepsikan berbeda oleh masing-masing orang yang mengamatinya.
• Baron&Byrne (1991) menyampaikan
bahwa terdapat dua aspek utama dalam usaha kita untuk memahami orang orang
lain. Pertama, kita selalu berusaha untuk memahami perasaan, mood dan emosi
orang lain – bagaimana perasaan mereka pada tempat dan waktu tertentu,
informasi tersebut sering diperoleh melalui pengamatan pada aspek-aspek non
verbal individu lain. Kedua, kita kemudian berusaha untuk memahami penyebab
mendasar yang mempunyai efek lebih lama bagi perilaku seseorang seperti traits,
motif dan intensi. Informasi seperti ini sering diperoleh melalui suatu proses
yang dinamakan atribusi.
•
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI SOSIAL
• Faktor Internal/Personal
• Meliputi motivasi, kebutuhan, emosi dan pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Pengaruh faktor personal dalam persepsi sosial biasanya akan lebih menyulitkan daripada membantu proses persepsi yang dilakukan oleh individu. Misal: faktor kepribadian, orang yang mempunyai kepribadian positif cenderung menilai positif orang lain.
• Faktor Eksternal/Situasional
• Menurut Thompson&Debolt (1971) faktor ini meliputi kejadian-kejadian eksternal serta nilai/norma yang ada di sekitar individu (masyarakat).
Pengaruh faktor situasional pada persepsi sosial dapat dilihat dari dua faktor yaitu, deskripsi verbal dan pesan non-verbal.
• Deskripsi verbal yaitu, proses untuk menggambarkan objek dengan kata-kata akan sangat mempengaruhi persepsi yang dihasilkan. Misal: Paijo adalah anak yang rajin, ramah, cerdas dan kleptomania; atau Paijo adalah anak yang kleptomania, rajin, ramah dan cerdas. Makna yang dihasilkan dari dua contoh akan berbeda karena ada hukum yang dinamakan primacy effect, keadaan dimana kata yang digunakan pertama kali untuk mendefinisikan objek akan menutupi sifat/makna kata selanjutnya.
• Pesan non-verbal mempunyai fungsi untuk: repetisi, pengganti kata-kata, kontradiksi, komplemen dan memperkaya pesan non verbal, aksentuasi, menentukan makna komunikasi sosial, ekspresi cermat dari perasaan dan emosi serta sebagai alat sugesti yang efektif.
• Namun komunikasi non-verbal biasanya dapat diketahui bila individu sudah mengenal lama orang lain.
• Jenis Pesan Non-Verbal
• Petunjuk Proksemik
Penggunaan jarak dan ruang. Jarak biasanya menunjukkan keakraban seseorang sedang ruang berkaitan dengan penggunaan lingkungan fisik disekitar individu, misal: rumah yang sering tertutup biasanya pemiliknya juga cenderung tertutup.
• Petunjuk Facial
Berkaitan dengan mimik wajah dan rona muka. Misal: mimik wajah ketika orang merasa senang.
• Petunjuk Gestural
Penggunaan sebagian anggota tubuh dalam komunikasi. Misal: tangan menengadah dimaknai sebagai tanda meminta.
• Petunjuk Postural
Penggunaan seluruh tubuh.
• Petunjuk Paralinguistik
Berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti aksen, nada dan jeda.
• Petunjuk Artifaktual
Petunjuk ini berkaitan dengan petunjuk yang diberikan kepada orang lain yang terkait dengan penampilan. Misal: make up, atau warna baju.
• Faktor Internal/Personal
• Meliputi motivasi, kebutuhan, emosi dan pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Pengaruh faktor personal dalam persepsi sosial biasanya akan lebih menyulitkan daripada membantu proses persepsi yang dilakukan oleh individu. Misal: faktor kepribadian, orang yang mempunyai kepribadian positif cenderung menilai positif orang lain.
• Faktor Eksternal/Situasional
• Menurut Thompson&Debolt (1971) faktor ini meliputi kejadian-kejadian eksternal serta nilai/norma yang ada di sekitar individu (masyarakat).
Pengaruh faktor situasional pada persepsi sosial dapat dilihat dari dua faktor yaitu, deskripsi verbal dan pesan non-verbal.
• Deskripsi verbal yaitu, proses untuk menggambarkan objek dengan kata-kata akan sangat mempengaruhi persepsi yang dihasilkan. Misal: Paijo adalah anak yang rajin, ramah, cerdas dan kleptomania; atau Paijo adalah anak yang kleptomania, rajin, ramah dan cerdas. Makna yang dihasilkan dari dua contoh akan berbeda karena ada hukum yang dinamakan primacy effect, keadaan dimana kata yang digunakan pertama kali untuk mendefinisikan objek akan menutupi sifat/makna kata selanjutnya.
• Pesan non-verbal mempunyai fungsi untuk: repetisi, pengganti kata-kata, kontradiksi, komplemen dan memperkaya pesan non verbal, aksentuasi, menentukan makna komunikasi sosial, ekspresi cermat dari perasaan dan emosi serta sebagai alat sugesti yang efektif.
• Namun komunikasi non-verbal biasanya dapat diketahui bila individu sudah mengenal lama orang lain.
• Jenis Pesan Non-Verbal
• Petunjuk Proksemik
Penggunaan jarak dan ruang. Jarak biasanya menunjukkan keakraban seseorang sedang ruang berkaitan dengan penggunaan lingkungan fisik disekitar individu, misal: rumah yang sering tertutup biasanya pemiliknya juga cenderung tertutup.
• Petunjuk Facial
Berkaitan dengan mimik wajah dan rona muka. Misal: mimik wajah ketika orang merasa senang.
• Petunjuk Gestural
Penggunaan sebagian anggota tubuh dalam komunikasi. Misal: tangan menengadah dimaknai sebagai tanda meminta.
• Petunjuk Postural
Penggunaan seluruh tubuh.
• Petunjuk Paralinguistik
Berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti aksen, nada dan jeda.
• Petunjuk Artifaktual
Petunjuk ini berkaitan dengan petunjuk yang diberikan kepada orang lain yang terkait dengan penampilan. Misal: make up, atau warna baju.
3.2. Saran
Kami
selaku penulis sadar bahwa di dalam
karya tulis ini masih banyak kekurangan di sana sini, baik dari segi tulisan
maupun dari segi penyajian. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kontribusi
atau keikutsertaan pembaca untuk memberikan penilaian berupa kritik dan saran,
yang mana demi kesempurnaan dari pada karya tulis ini sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
http:wiki.feureu.com/wiki/psikologi
sosial
Arindita, S. 2003. Hubungan antara
persepsi kualitas pelayanan dan citra Bank dengan Loyalitas Nasabah. Skripsi (
tidak di terbitkan ). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Gerungan, W.A. 1996. Psikologi Sosial.
( Edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama
Chorus, Dr. A.M.J., Grondslagen der sociale psychologie,
stenfertkroese, Leiden, 1953

Komentar
Posting Komentar