Langsung ke konten utama

Persepsi Sosial (Tugas Kelompok)

PSIKOLOGI SOSIAL
PERSEPSI SOSIAL


 





                                                                                                   



Dosen Pengampu
Dr. Ekawarna, M.Psi


Di Susun Oleh:
Rediana                      :   ERA 1D08020
Nurhikmah                 :    ERA 1D0 10173
Evana Miftahul J       :   ERA 1D0  10102
Galih Hartono            :    ERA 1D0 10122
Hery Piyanto              :    ERA 1D0  10161
Dani Eka Prasetia     :    ERA 1D0 10164



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS JAMBI
2011



KATA PENGANTAR

Alhamdullilah segala puji dan syukur kami selaku penulis panjatkan khadirat  Allah SWT. Yang telah memberikan kesehatan kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah “pisikologi sosial” ini dengan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Tujuan kami menulis makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi sosial, dan semoga makalah ini dapat membantu kita lebih memahami tentang psikologi sosial terutama tentang persepsi sosial yang akan kami bahas dalam makalah ini.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat di selesaikan tepat waktu. Kami berharap semoga makalah ini  sesuai dengan yang diharapkan, namun bila ada kesalah dalam penyusunan dan penyajian makalah ini kami mohon maaf sebesar-besarnya dan kami mengharapkan kritikan yang membangun.





                                                                                          Jambi,     mei 2011



                                                                                          Tim penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN............................................................................
1.1  Latar belakang.................................................................................
1.2  Permasalahan.................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................
     2.1  Definisi Persepsi………………………………………………….
     2.2  Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Sosial………...
     2.3  Kasus kasus Yang Relevan yang terjadi……………………...
     2.4  Upaya Mengurangi Persepsi Sosial…………………………...
BAB III PENUTUP......................................................................................
     3.1  kesimpulan………………………………………………………...
     3.2  Saran……………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Menurut Brehm dan kassin ( 1989 ), persepsi sosial adalah penilaian-penilaian yang terjadi dalam upaya manusia dalam memahami orang lain. Tentu saja sangat penting, namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk tubuh, warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adalah beberapa hal yang mempengaruhi persepsi sosial.
Melalui perkembangan dan pengalaman, orang membangun konsep kepribadian implicit ( implicit personality theory ), yaitu asumsi asumsi adanya sifat-sifat tertentu yang berkorelasi dengan sifat lain. Orang yang memiliki kecendrungan demikian di sebut Psikologi naïf.
 Persepsi sosial yang memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak dan memporakporandakan persatuan Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar, atau bahkan antarwarga,tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hampir tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan.
Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai orang lain. Tak kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi seketika. Kedua, proses yang dilalui dengan penuh pertimbangan. Orang mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial. Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi sosial sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika. Misalnya pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum persepsi dibentuk. Tetap Perlu Berhati-hatikah?Tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di atas memberikan latar belakang yang layak diyakini betapa persepsi sosial sangat penting dalam konteks hubungan antarmanusia.

1.2      Rumusan Masalah
1. Apa itu Definisi Persepsi sosial ?
2. Factor-faktor yang mempengaruhi perepsi sosial ?
3. Kasus-kasus yang relevan yang terjadi saat ini ?
4. Cara mengatasi masalah tersebut ?








      BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Definisi persepsi
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Drever dalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Banyak ahli yang mencoba membuat definisi dari ‘persepsi’. Beberapa di antaranya adalah:
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1837978-definisi-persepsi/#ixzz1NLGYKHFL
1.    Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito).
2.    Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff).
3.    Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower).
4.    Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson).
5.    Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson).
6.    Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).
7.    Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.  
Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.
    Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk menilai sesuatu.                  
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
1.) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.)   Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour. 
              Dalam usaha menginterpretasikan orang lain, sering di gunakan dimensi-dimensi tertentu. Wrightman ( 1981 ) mengemukakan ada enam dimensi pokok, yaitu:
1.    Dapat di percaya-tidak dapat di percaya
2.    Rasional-tidak rasional
3.    Altruis-orientasi diri ( selfness )
4.    Independen-conform dengan kelompok
5.    Fariatif-kesamaan
6.    Kompleksitas-kesederhanaan
Persepsi sosial merupakan respon sebagai bentuk penilaian  terhadap individu maupun kelompok yang di hasilkan dari stimulus-stimulus yang berasal dari individu atau kelompok itu sendiri.

2.1.1  proses persepsi dan sifat persepsi
              
            Alport (dalam Mar’at, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada.
              Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
1) Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau                proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2) Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.
3) Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
4) Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:
1) Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2) Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
3) Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.
Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:
1)  Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2)   Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
3)  Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.
           Persepsi sosial terdiri atas tiga elemen yang merupakan petunjuk-petunjuk tidak langsung ketika seseorang menilai orang lain. Tiga elemen tersebut bersumber pada:
v  pribadi (person)
v  situasi (situation) dan
v  perilaku (behavior).
            Proses pembentukan persepsi sosial berdasarkan penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan fisik seseorang. Termasuk didalamnya jenis kelamin, usia, ras, latar belakang etnik, dan beberapa aspek demografi lain.
            Sebagaimana kita percaya manusia terbagi dalam beberapa tipe, demikian pula kita memiliki konsep awal tentang beragam situasi berdasarkan pengalaman terdahulu. Situasi sering dianggap sebagai naskah kehidupan. Semakin Banyak pengalaman yang orang miliki dalam satu situasi, maka semakin terperinci isi naskah yang disusunnya mengenai situasi tersebut. Ketika seseorang merasa sangat akrab dengan tipe situasi tertentu, maka peristiwa-peristiwa akan terletak tepat pada tempatnya, bagaikan potongan-potongan puzzle yang tersusun rapi. Hal ini berarti, semakin kaya pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi sosial yang dibentuknya dari situasi. Elemen perilaku adalah mengidentifikasi perilaku yang diproduksi oleh aktivitas seseorang. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati. Ketajaman pengamatan seseorang menentukan persepsi sosial yang dibentuknya berdasarkan gejala-gejala perilaku orang lain. Orang mengandalkan Perilaku nonverbal untuk menguatkan penilaiannya, namun sering kali hasilnya Kurang akurat. Masalahnya terletak pada terlalu banyak perhatian yang ditujukan pada kata-kata dan ekspresi wajah. Tombol komunikasi sepenuhnya berada dibawah kendali orang yang dinilai, sehingga ia dapat mengatur kata-kata dan ekspresinya. Namun isyarat bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara adalah petunjuk yang sangat berharga dalam proses persepsi sosial bersumber pada elemen perilaku. Penelitian membuktikan persepsi sosial yang kita lakukan dalam upaya membangun relasi interpersonal sering cukup akurat, namun tidak selalu demikian. Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai orang lain.
           Tak kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi se- ketika. Kedua, proses yang dilalui dengan penuh pertimbangan.
           Orang mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial. Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi sosial sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika.  Misalnya Pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum  persepsi dibentuk. Tetap Perlu Berhati -hatikah? Tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di atas  memberikan latar belakang yang layak diyakini betapa persepsi sosial  sangat penting dalam konteks hubungan antarmanusia. persepsi sosial yang memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak dan memporakporandakan persatuan. Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar, atau bahkan antarwarga, tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hamper tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan. Citra manusia sejati adalah manusia yang membangun persepsi sosial positif, tidak mudah menilai buku hanya dari sampulnya, namun juga waspada dalam bertindak. Artinya, tidak berprasangka buruk, namun juga tidak mudah  terkecoh oleh penampilan. Orangtua sering terdengar memberi nasihat supaya anak-anaknya berhati-hati dalam pergaulan. Kehati-hatian menilai orang lain sangat penting, karena kancah pergaulan sosial adalah situasi yang kompleks. Nasihat yang baik dapat menjadi lebih efektif apabila disertai contoh perilaku dan cara melakukannya. Jangan hanya mengharapkan anak-anak saja yang berhati-hati, sementara orangtua serta orang dewasa lepas kendali dan tanggung jawab mengenai persoalan ini. Berhati-hati berarti waspada, jitu dan bijak membentuk persepsi sosial dalam hubungan antarmanusia.



2.2   Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Sosial
                         
                          Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik. Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari :

1) Pelaku persepsi (perceiver)
2) Objek atau yang dipersepsikan
3) Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan

       Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal orang itu (Robbins, 2003). Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain. Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:

a. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
                   Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural. Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan sesuatu.
                   Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi (perceiver), obyek dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.

2.2.1     Kesan

Kesan menjadi dasar bagi berbagai hubungan interpersonal, misalnya: komunikasi, kerjasama, ketertarikan, cinta, konflik, agresi, sikap, dll. Apa yang ada dalam diri individu akan dipengaruhi dalam individu mengadakan persepsi, ini merupakan factor internal. Di samping itu masih ada factor lain yang dapat mempengaruhi dalam proses persepsi, yaitu factor stimulus dan faktor lingkungan sebagai faktor eksternal. Stimulus dan lingkungan sebagai factor eksternal dan individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam individu mengadakan persepsi. Agar stimulus dapat di persepsi, maka stimulus harus cukup kuat, stimulus harus melewati ambang stimulus, yaitu kekuatan stimulus yang minimal tetapi sudah dapat menimbulkan kesadaran, sudah dapat di persepsi oleh individu. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam persepsi. Stimulus yang kurang jelas, stimulus yang berwujud arti, akan berpengaruh dalam ketepatan persepsi. Bila stimulus itu terwujud benda benda bukan manusia, maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mangadakan persepsi, karena benda-benda yang di persepsi tersebut akan berbeda bila yang di persepsikan itu manusia.
                   Mengenai keadaan individu  yang dapat mempengaruhi hasil persepsi datang dari dua sumber, yaitu yang berhubungan segi kejasmanian, dan yang berhubungan dengan segi psikologis. Bila system fisiologisnya terganggu, hal tersebut akan berpengaruh dalam persepsi seseorang. Sedangkan segi psikologis seperti telah di paparkan di depan, yaitu antara lain mengenei pengalaman, perasaan, kemempuan berikir, kerangka acuan, motifasi akan berpengaruh pada seseorang dalam mengadakan persepsi.
                   Sedangkan lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam presepsi, lebih lebih bila objek presepsi adalah manusia. Objek dan lingkungan yang melatar belakangi objek merupakan kebutuhan atau kesatuan yang sulit di pisahkan. Objek yang sama dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan presepsi yang berbeda.
Pembentukan kesan di pengaruhi oleh:
v  Filsafat tentang hakikat manusia: keyakinan bahwa manusia memiliki karakteristik positif ( carl Rogers : Konstruktif, realistis, tulus ), atau negative (Thomas Hubes : Homo-homoni lupus)
v  Implicit personality theory ( diyakini tetapi tidak di ungkapkan ) :sifat jjur di hubungkan engan murah hati, hangat, rendah hati, lembut. Sifat keras hati di hubungkan dengan ambisius, egois, suka membantah, suka mengkritik. Sifat rapi di kaitkan dengan teratur, didiplin, hangat, ramah.

2.2.2     Stereotip
Adanya prasangka sosial bergandengan pula dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang bercorak negative. Stereotip mengenai orang lain sudah terbentuk pada orang yang berprasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul sewajarnya dengan orang orang lain yang di kenei prasangka itu. Biasanya, stereotip terbentuk padanya berdasarkan keterangan keterangan yang kurang lengkap dan subjektif. Sebuah contoh mengenei stereotip itu adalah gambaran orang Amerika serikat berkulit putih di bagian selatan mengenai sifat dan watak orang negro di mana antara lain terdapat anggapan bahwa semua orang negro itu bodoh, kurang ajar, dan tidak berkesusilaan. Peranan stereotip pada orang yang berprasangka itu sangat besar daam pergaulan sisialnya dengan orang negro itu. Sementara itu, stereotip menentukan sikapnya terhadap semua orang negro, terlepas dari tingkat tingkat pendidikan, sosial-ekonomi, atau tingkat kebudayaannya pada umumnya. Gambaran stereotif tidak mudah berubah serta cendrung untuk di perhatikan oleh orang berprasangka, juga apabila mereka pernah bergaul dengan orang negro yang inteligen, berwatak tinggi, terdidik, dan maju dalam perkembangannya. Dalam hal itu, mereka yang berprasangka menganggap orang negro yang maju itu sebagai suatu pengecualian dari orang negro Amerika pada umumnya yang mempunyai sifat sifat seperti yang tercantum dalam stereotip itu.
                   Meskipun demikian, stereotip dan prasangka sosial dapat pula berubah, yaitu dengan usaha usaha intensif secara langsung atau karena perubahan keadaan masyarakat pada umumnya, misalnya karena peperangan dan revolusi.
                   Prasangka sosial selain menyatakan diri dalam tindakan-tindakan diskriminatif terhadap golongan-golongan tertentu dan dalam stereotip-stereotip tertentu juga dapat kita temukan dengan cara-cara risert yang khusus. Untuk itu, dapat digunakan berbagai macam teknik risert seperti wawancara, angket, dan skala-skala attitude.
                   Ada beberapa teori yang menjelaskan seperti yang dikemukan oleh Leon Festinger yang menyebutkan, bila individu memiliki dua kognisi yang inkonsisten, ia akan berada dalam keadaan disonan dan emrasa tidak sejahtera. Oleh sebab itu, individu akan selalu terdorong untuk mengurangi disonasi :
v   Mengubah salah satu kognisi.
v   Menambah kognisi baru yang membuat dua kognisi semula berkurang     inkonsistensinya.
    
Ada dua macam perubahan attitude yaitu:
v  Perubahan Inkongruen, yaitu perubahan attitude dari positif ke negatif, atau penurunan derajat kepositifan atau kenegatifan attitude.
v  Perubahan kongruen, yaitu peningkatan derajat kepositifan atau kenegatifan attitude.
                   Perubahan attitude tergantung pada karakteristik-karakteristik system attitude, kepribadian individu, dan keanggortaan individu dalam kelompok.
                 Ciri-ciri attitude dan kemudahan berubahnya. Kemudahan berubah suatu attitude, antara lain ditentukan oleh:
1.     Keekstriman attitude. Attitude yang ekstrim lebih sulit berubah inkongruen ketimbang attitude yang tidak ekstrim. Pada attitude yang tidak ekstrim, kemudahan perubahan konruen dan inkongruen tidak begitu banyak berbeda.
2.     Multipleksitas. Attitude yang simpleks relatif lebih mudah berubah inkongruen ktimbang attitude yang multipleks. Attitude yang tinggi derajat multipleksitasnya relatif lebih mudah bergerak kearah kongruen ketimbang attitude yang simplks.
3.     Kosistansi. System attitude yang konsisten cendrung lebih stabil, komponen-komponenya saling mendukung. Sebaliknya, system attitude yang inkonsisten relative tidak setabil karena disonansi diantara komponen-komponennya; karena itu lebih mudah berubah menuju kearah peningkatan konsistensi. Hal ini khususnya terjadi pada perubahan yang inkongruen.
4.     Kesalingberjalinan. Disatu pihak, attitude yang saling berjalinan dengan attitudes lain dengan bobot efektifitas yang tinggi relatif lebih tahan terhadap daya-daya yang mengarahkan perubahan inkongruen. Dipihak lain, attitudes yang saling berjalinan relatif lebih mudah menerima pengaruh-pengaruh yang mengarahkan kepada perubahan kongruen, ketimbang attitudes yang terisolasi.
5.     Konsonansi. Attitudes yang konsonansinya tinggi cendrung imun terhadap daya-daya yang mengarahkan kepada perubahan inkongruen. Sebaliknya, attitudes yang konsonansinya rendah, relatif yang lebih mudah bergerak kearah perubahan inkongruen.
6.     Kekuatan dan jumlah keinginan yang dilayani attitude. Attitude yang didasarkan pada berbagai keinginan yang kuat relatif imun terhadap peubahan inkongruen. Attitude tersebut relatif lebih mudah bergerak kearah perubahan kongruen.
7.     Sentralitas nilai yang bekaitan.

2.2.3       Metode penilaian
                 Skala-skala attitude bermacam macam kontruksinya, seperti metode likert, Thurstone dan Guttman yang tidak kami bicaraka di sini, tetapi yang dapat di pelajari dalam sebagian besar buku psikologi sosial. Ketiga metode ini agak mendalam dan memerlukan waktu dan upaya untuk memperoleh hasil yang cukup baik. Akan tetapi di antara metode skala attitude itu terdapat salah satu yang relative mudah di laksanakan, walaupun kemampuannya untuk menunjukkan adanya presepsi sosial hanyalah dalam garis garis besarnya. Yaitu, metode dari Bogardus yang telahmerumuskan sebuah tekhnik untuk mengukur social distance atau jarak sosial yang terdapat  di antara golongan-golongan tertentu. Makin jauh jarak yang di rasakan di antara orang-orang dari dua golongan yang berlainan, makin mendalam presepsi sosialnya di antara golongan-golongan itu, yang mungkin berbeda pada taraf yang sadar, mungkin pula pada taraf yang tak sadar.

                 Skala Bogardus terdiri dari tujuh pokok pertanyan yang di ajukan kepada responden dengan permintaan agar jawaban-jawabannya di isi dengan sejujur-jujurnya. Tujuh pertanyaan itu berkisar pada taraf kesediaan orang untuk bergaul rapat dengan salah seorang dari golongan yang ain sebagai berikut. Orang-orang harus menjawab dengan iya atau tidak.
1.    Kesediaannya untuk menikah dengan orang dari golongan lain.
2.    Kesediaanya untuk bergaul rapat dengan kawan anggota klubnya.
3.    Kesediaanya untuk menerimanya sebagai tetangga.
4.    Kesediaanya untuk menerimanya sebagai rekan sejabatannya
5.    Keseiaannya untuk menerimanya sebagai warga negaranya.
6.     Kesediaanya untuk menerimanya sebagai pengunjung negaranya
7.    Tidak ingin menerimanya di dalam negaranya
         
   Berdasarkan jawaban-jawaban dari responden yang berasal dari golongan tertentu, dapatlah di susun sebuah daftar urutan mengenai kesediaan golongan tersebut untuk menerima dan bergaul dengan orang-orang dari golongan lainya. Sebagai contoh, kami kutip sebagian dari hasil suau penelitian yang di lakukan terhadap 178 orang yahudi yang lahir di Amerika serikat mengenai sikapnya terhadap 18 ras lainnya. Dalam table 1.1, kami memuatkan jawaban-jawaban responden terhadap pertanyaan pertama, ketiga, dan ketujuh dari sekala Bogardus. Angka-angka dalam table menunjukkan presentase responden yang menyetujui pernyataan itu.

Apabila di pelajari, jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan ( yang di contohkan di sini hanyalah jawaban pada tiga pertanyaan ), dapat di ambil kesimpulan bahwa terdapat jarak sosial yang sangat besar antara orang-orang Yahudi dan Negro. Sedangkan jarak antara orang-orang Yahudi dan orang Inggris hampir tidak ada, semuanya di lihat dari sudut golongan Yahudi. Demikian halnya apabila kita pelajari jawaban-jawabanya pada pertanyaan pertama. Sedangkan apabila kita tinjau dari hasil pertanyaan ketujuh, maka yang paling tidak di sukai orang Yahudi yang di teliti bukanlah orang negro, melainkan orang Cina dak berikunya orang Jepang. Hal ini mungkin di sebabkan mereka di anggap sebagai pesaing terbesar dalam lapangan keahlian sebagai golongan, yaitu dalam hal Money making. Begitulah terhadap urutan-urutan yang agag berlainan apabila dipelajari jawaban-jawaban pada pertanyaan-pertanyaan lainnya. Akan tetapi, apabila daftar urutan jarak sosial yang tersimpul dalam jawaban-jawaban setiap pertanyaan di kombinasikan, maka dapat diperoleh suatu daftar urutan umum yang menunjukkan adanya prasangka sosial yang relatif besar atau kecil dari golongan Yahudi terhadap golongan ras dan lainnya.




TABEL 1.1
Hasil jawaban 178 orang Yahudi terhadap skala Bogardus ( dari Dr. A.M.J. Chorus [3] )   
            
Ras                                          1                                  3                                  7
Yahudi Jerman                       94,3%                         97,1%                         1,4%
Yahudi Rusia                          84,3%                         91,4%                         0,0%
Inggris                                      80,0%                         98,5%                         0,0%
Prancis                                     54,3%                         94,3%                         0,0%
Jerman                                     52,8%                         92,8%                         0,0%
Irlandia                                     34,8%                         87,1%                         2,8%
Skotlandia                               34,4%                         88,5%                         2,8%
Spanyol                                                24,3%                         64,3%                         1,4%  
Armenia                                   14,3%                         45,9%                         1,4%
Italia                                          11,4%                         55,7%                         1,4%
Meksiko                                    4,3%                           28,5%                         19,1%
Jepang                                     2,8%                           21,4%                         28,5%
Turki                                          -                                   -                                   -
Yunani                                     2,1%                           34,3%                         1,4%
Cina                                          1,4%                           21,4%                         32,8%
Hindu                                       1,4%                           21,4%                         14,3%
Filiphina                                   0,0%                           27,1%                         7,1%
Negro                                        0,0%                           27,1%                         10,0%
             
              Skala Bogardus merupakan salah satu cara riset yang relative mudah untuk sekedar mengetahui adanya prasanga atau presepsi sosial di antara golongan golongan tertentu yang dapat melahirkan stereotip-stereotip dan yang pada akhirny6a dapat menimbulkan tindakan-tindakan diskriminatif yang sangat merugikan masyarakat.

2.3  Kasus-Kasus Yang relevan yang Terjadi
Posted:January 13, 2010 by nardykomunikasi in makalah
            
                   Persepsi sosial masyarakat Aceh terhadap kemenangan Partai Lokal Pada Pemilu Tahun 2009.
Pada tanggal 9 April 2009 seluruh rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum untuk Calon Legislatif di daerah masing-masing dan untuk DPR-RI. Pesta demokrasi tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena ada 38 partai politik plus 6 partai lokal yang ikut serta. Sejarah Indonesia mencatat tiga kali pemilu dilaksanakan selama masa reformasi. Namun, pemilu 2009 adalah tonggak sejarah bagi demokrasi, untuk kali pertamanya rakyat memilih sosok calon wakilnya di parlemen secara langsung pada Kamis 9 April 2009 mulai pukul 07.00 sampai pukul 12.00. Sebanyak 38 partai nasional dan enam partai lokal berebut posisi di dewan dalam pemilu kali ini, belum lagi 1.109 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berebut kursi senator.
          Sebanyak 560 kursi di DPR diperebutkan 11.219 calon, demikian pula 1.998 kursi dewan di propinsi yang diperebutkan 32.263 caleg. Tak kalah hebat persaingan di dewan kabupaten atau kota, sebanyak 16.270 kursi diidam-idamkan 246.588 calon.
2.3.1     Sejarah Kemunculan Partai Lokal
        Salah satu kesepakatan yang dihasilkan dalam perundingan antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, ada pemberian amnesti kepada anggota GAM berikut pemulihan hak-hak politik, ekonomi, dan sosial. Salah satu bentuk pemulihan hak politik yang begitu ramai dibicarakan adalah keinginan GAM membentuk partai politik lokal di Nanggroe Aceh Darussalam. Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah RI dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, mengarah kepada kesediaan pihak GAM melepaskan tuntutan merdeka, yang berarti pengakuan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hanya saja, kelompok GAM menuntut dibukanya peluang pembentukan partai lokal di Naggroe Aceh Darussalam (NAD). Kini pemerintah sudah mengeluarkan peraturan tentang partai lokal dan ramailah panggung demokrasi di Aceh.
           Terwujudnya penandatanganan kesepakatan damai antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia memberikan harapan baru bagi seluruh masyarakat Aceh akan kehidupan yang lebih baik, damai dan indah. Konflik yang telah berlangsung hampir 30 tahun telah menelan puluhan ribu jiwa dan harta benda yang tidak sedikit. Yang lebih parah adalah dampak psikologis yang ditimbulkan oleh konflik dari anak-anak dan generasi muda Aceh yang tidak mudah untuk dipulihkan.
              Terkait dengan pembentukan partai politik lokal dan partisipasi politik perlu klarifikasi bersama untuk menyatukan persepsi. Butir 1.2.1 MoU menyatakan bahwa “………… Pemerintah RI menyepakati dan akan memfasilitasi pembentukan partai-partai politik yang berbasis di Aceh yang memenuhi persyaratan nasional. Memahami aspirasi rakyat Aceh untuk partai-partai lokal, pemerintah RI dalam tempo satu tahun atau paling lambat 18 bulan sejak penandatanganan Nota Kesepahaman ini, akan menciptakan kondisi politik dan hukum untuk pendirian partai lokal di Aceh dengan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.”Untuk mewujudkan kesepakatan tersebut perlu disusun payung hukum.
              Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan beberapa faktor yang menjadi kemenanganan partai lokal di Aceh yang kami kutip dari berbagai media dan melihat realita di lapangan, antara lain :
             Soal figur terbukti masih menentukan. Parnas di Aceh kelihatannya tidak lagi memiliki satu pun figur yang populis di mata publik. Tak ada tokoh parpol yang selama ini memberi pencerahan-pencerahan kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah, tidak ada juga yang dijadikan referensi atau panutan. Rakyat harus menjerit-jerit sendiri misalnya terhadap kondisi infrastruktur dipedesaan, deraan kemiskinan, modal kerja dan sebagainya. Menurut masyarakat kemenangan partai lokal akan menjadi cermin kebebasan politik yang matang.
 Faktor lain yang menjadi penentu kemenangan partai lokal antara lain symbol-simbol yang digunakan dalam alat kampanye yang begitu dekat dengan masyarakat. “Hampir 100% caleg-caleg partai lokal memakai baju Aceh dalam posternya ataupun simbol-simbol ke Acehan lainnya sehingga masyarakat merasa dekat dengan mereka. Partai lokal merupakah amanah dari MoU Helsinky.
2.3.2   Persepsi masyarakat terhadap kemenangan Partai lokal
a. Persepsi Sosial
Pemilihan umum sudah menjadi agenda lumrah dan biasa di seluruh dunia, tapi bagi rakyat Aceh pemilihan umum kali ini yang di sebut-sebut akan di laksanakan pada 9 April 2009 mendatang adalah hal yang luar biasa, dan istimewa sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Di Aceh terdapat partai lokal dan ada juga partai Nasional, jarang ada di negeri lain. Pemilihan umum ala Aceh merupakan contoh kekinian sebuah model demokrasi, dan pelaksanaannya menjadi pantauan umum dunia, karena diharap bisa memberi pelajaran baru buat daerah-daerah lain sebagai satu model akhir dari konflik. Partai lokal sebenarnya bisa saja di artikulasi sebagai sebuah formula untuk menciptakan kemajuan langkah penyelesaian yang aman dan damai. Rakyat Aceh berusaha mencari keadilan mencari jalan keluar untuk bisa mengurus diri sendiri. Maka dengan itu keberadaan partai lokal dan kemenanganya dalam pemilu akan memberi nuansa baru khususnya buat masa depan Aceh yang beradap dan bermartabat, bahkan lebih jauh dari itu kemenangan Partai Lokal nantinya akan turut memberi motivasi baru buat generasi Aceh kedepan, untuk menentukan arah tujuan yang lebih mandiri, tanpa harus bergantung banyak pada Jakarta sesuai dengan apa yang telah di dapati di Helsinki, Finlandia. Kemenangkan Partai Lokal di Aceh dalam pemilu yang pertama dalam ruang perdamaian ini sebenarnya memilki makna tersendiri yang cukup kusus kepada seluruh rakyat Aceh, antaranya termasuk untuk memperkuat berbagai tahapan pelaksanaan butir-butir MoU (Memorendum of Understanding), serta menjadi momen dalam mempercepat upaya pembangunan Aceh, apalagi perjanjian damai antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Indonesia telah membatasi hubungan Indonesia dengan Aceh.
b. Persepsi Negatif
Adanya kecurigaan pemerintah pusat akan isu memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada lagi kepercayaan pada Partai Nasional.
3     Harapan Masyarakat terhadap Partai dan Caleg yang Terpilih Di tengah minimnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja parlemen, kita tetap berharap agar para calon legislatif (caleg) yang kelak terpilih mampu mengemban amanah sebaik-baiknya. Wajah bangsa dan negara ini ke depan sedikit banyak ditentukan mereka yang kelak duduk di parlemen. Maka, kita senantiasa membentangkan optimisme bahwa harapan itu masih ada. Harapan agar tercipta wajah parlemen yang lebih baik, bersih, kontributif, dan bermartabat. Harapan itu dapat menjadi modal perubahan. Harapan itu tentunya harus berlanjut pada dua titik: komitmen caleg dan kecerdasan pemilih. Dua hal ini perlu dilakukan untuk menciptakan parlemen yang bersih, mampu bekerja maksimal, dan bertanggung jawab. Caleg yang terpilih harus menjadikan setiap janji perubahan sebagai pengikat komitmen. Jika selama kampanye selalu berteriak peduli masyarakat, maka perlu dibuktikan ketika duduk di parlemen.
Kemenangkan Partai Lokal di Aceh dalam pemilu yang pertama dalam ruang perdamaian ini sebenarnya memilki makna tersendiri yang cukup kusus kepada seluruh rakyat Aceh, antaranya termasuk untuk memperkuat berbagai tahapan pelaksanaan butir-butir MoU (Memorendum of Understanding), serta menjadi momen dalam mempercepat upaya pembangunan Aceh, apalagi perjanjian damai antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Pemerintah Indonesia telah membatasi hubungan Indonesia dengan Aceh. Caleg yang terpilih harus menjadikan setiap janji perubahan sebagai pengikat komitmen. Jika selama kampanye selalu berteriak peduli masyarakat, maka perlu dibuktikan ketika duduk di parlemen.
2.4   Upaya Mengurangi Persepsi Sosial
     Upaya mengurangi persepsi sosial antar golongan itu kiranya jelas harus di mulai pada pendidikan anak d rumah dan di sekolah oleh orang tua dan gurunya. Sementara itu, sebaiknya menghindari pengajaran-pengajaran yang dapat menimbulkan persepsi atau prasangka sosial. Akan tetapi demikian juga informasi-informasi melalui media masa berperan besar, terutama informasi yang memberikan pengertian dan kesadaran mengenai sebab terjadinya, diertahankannya dan  mengenai kerugian prasangka sosial bagi masyarakat secara keseluruhan dan bagi para anggotanya.
Selain itu, puluhan eksperimen dengan kelompok kecil telah menyatakan bahwa interaksi antar golongan yang cukup intensif mampu sekali melenyapkan stereotip dan prasangka sosial antar golongan itu.
     Khusus bagi bangsa kita yang sejak kemerdekaan yang telah mengalami pahitnya beberapa pemberontakan yang sebagian besar di sebabkan oleh-bahkan mungkin satu-satunya penyebab-adanya prasangka sosial karea masih terdapat akar-akar prasangka sosial antar golongan akibat zaman kolonial. Bangsa kita yang yang menghadapi masa depan apabila seluruh potensi masyarakat dapat berkembang tanpa prasangka sosial antar golongan kiranya patut lebih memahami gejala-gejala prasangka sosial berikut penyebab-penyebabnya







BAB III
PENUTUP

3.1   kesimpulan
Pelaku orang lain dan menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut atribusi dapat terjadi bila:
  :1). Suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang,
  2). Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat personal
, 3). Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang lain (Shaver,     1981; Lestari, 1999).
Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial
memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang
untuk meniiai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan
mengenai proses persepsi, yaitu:
1.) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang  membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.) Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).
persepsi sosial sering diartikan sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa sosial individu untuk mencoba memahami apa yang tampak dan tidak tampak pada alat inderanya. Persepsi sosial melibatkan proses mempersepsi orang lain, penampilan fisik, aspek-aspek psikologi serta perilakunya
• Persepsi yang dihasilkan oleh individu sangat subjektif karena dipengaruhi oleh perasaan, nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki oleh individu. Sehingga tidak heran jika ada suatu objek dipersepsikan berbeda oleh masing-masing orang yang mengamatinya.

• Baron&Byrne (1991) menyampaikan bahwa terdapat dua aspek utama dalam usaha kita untuk memahami orang orang lain. Pertama, kita selalu berusaha untuk memahami perasaan, mood dan emosi orang lain – bagaimana perasaan mereka pada tempat dan waktu tertentu, informasi tersebut sering diperoleh melalui pengamatan pada aspek-aspek non verbal individu lain. Kedua, kita kemudian berusaha untuk memahami penyebab mendasar yang mempunyai efek lebih lama bagi perilaku seseorang seperti traits, motif dan intensi. Informasi seperti ini sering diperoleh melalui suatu proses yang dinamakan atribusi.

• FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI SOSIAL
• Faktor Internal/Personal
• Meliputi motivasi, kebutuhan, emosi dan pengalaman masa lalu yang dimiliki individu.                  Pengaruh faktor personal dalam persepsi sosial biasanya akan lebih menyulitkan daripada membantu proses persepsi yang dilakukan oleh individu. Misal: faktor kepribadian, orang yang mempunyai kepribadian positif cenderung menilai positif orang lain.
• Faktor Eksternal/Situasional
• Menurut Thompson&Debolt (1971) faktor ini meliputi kejadian-kejadian eksternal serta nilai/norma yang ada di sekitar individu (masyarakat).
Pengaruh faktor situasional pada persepsi sosial dapat dilihat dari dua faktor yaitu, deskripsi verbal dan pesan non-verbal.
• Deskripsi verbal yaitu, proses untuk menggambarkan objek dengan kata-kata akan sangat mempengaruhi persepsi yang dihasilkan. Misal: Paijo adalah anak yang rajin, ramah, cerdas dan kleptomania; atau Paijo adalah anak yang kleptomania, rajin, ramah dan cerdas. Makna yang dihasilkan dari dua contoh akan berbeda karena ada hukum yang dinamakan primacy effect, keadaan dimana kata yang digunakan pertama kali untuk mendefinisikan objek akan menutupi sifat/makna kata selanjutnya.
• Pesan non-verbal mempunyai fungsi untuk: repetisi, pengganti kata-kata, kontradiksi, komplemen dan memperkaya pesan non verbal, aksentuasi, menentukan makna komunikasi sosial, ekspresi cermat dari perasaan dan emosi serta sebagai alat sugesti yang efektif.
• Namun komunikasi non-verbal biasanya dapat diketahui bila individu sudah mengenal lama orang lain.
• Jenis Pesan Non-Verbal
• Petunjuk Proksemik
Penggunaan jarak dan ruang. Jarak biasanya menunjukkan keakraban seseorang sedang ruang berkaitan dengan penggunaan lingkungan fisik disekitar individu, misal: rumah yang sering tertutup biasanya pemiliknya juga cenderung tertutup.
• Petunjuk Facial
Berkaitan dengan mimik wajah dan rona muka. Misal: mimik wajah ketika orang merasa senang.
• Petunjuk Gestural
Penggunaan sebagian anggota tubuh dalam komunikasi. Misal: tangan menengadah dimaknai sebagai tanda meminta.
• Petunjuk Postural
Penggunaan seluruh tubuh.
• Petunjuk Paralinguistik
Berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti aksen, nada dan jeda.
• Petunjuk Artifaktual
Petunjuk ini berkaitan dengan petunjuk yang diberikan kepada orang lain yang terkait dengan penampilan. Misal: make up, atau warna baju.








3.2.  Saran
                  Kami selaku penulis  sadar bahwa di dalam karya tulis ini masih banyak kekurangan di sana sini, baik dari segi tulisan maupun dari segi penyajian. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kontribusi atau keikutsertaan pembaca untuk memberikan penilaian berupa kritik dan saran, yang mana demi kesempurnaan dari pada karya tulis ini sendiri.













DAFTAR PUSTAKA
http:wiki.feureu.com/wiki/psikologi sosial
Arindita, S. 2003. Hubungan antara persepsi kualitas pelayanan dan citra Bank dengan Loyalitas Nasabah. Skripsi ( tidak di terbitkan ). Surakarta: Fakultas Psikologi UMS.
Gerungan, W.A. 1996. Psikologi Sosial. ( Edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama
Chorus, Dr. A.M.J., Grondslagen der sociale psychologie, stenfertkroese, Leiden, 1953


Sign Up Privacy policy Spinner_mac_white
You will receive email notifications regarding your account activity. You can manage these notifications in your account settings. We promise to respect your privacy.

Why Sign up?









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Kebersamaan MGBK Muaro Jambi Menuju Sungai Bahar: Membangun Praktik Baik Layanan BK di Sekolah

  Semangat Kebersamaan MGBK Muaro Jambi Menuju Sungai Bahar: Membangun Praktik Baik Layanan BK di Sekolah Muaro Jambi – Suasana penuh semangat dan keakraban mewarnai kegiatan rutin Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Muaro Jambi pada hari Kamis, 6 November 2025 . Kali ini, pertemuan istimewa tersebut diselenggarakan di SMPN 35 Muaro Jambi, Sungai Bahar , yang lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Jambi. Untuk mencapai lokasi, seluruh anggota MGBK menunjukkan kekompakan luar biasa dengan menyewa satu unit bus untuk perjalanan bersama dari Kota Jambi menuju Sungai Bahar. Penuh Energi dan Inspirasi Acara MGBK kali ini mengangkat tema sentral yang sangat relevan, yaitu "Praktik Baik Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah" dan sesi "Sharing Session tentang Pelaksanaan Layanan BK di Sekolah" . Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, menyamakan persepsi, dan saling berbagi pengalaman positif di antara Guru BK se-Kabupaten Muaro Jam...

TUGAS MEMBUAT BLOG

Untuk siswa kelas 9A, 9B, 9C yang sudah membuat blog diharapkan mengirimkan komentar pada post berikut. dengan contoh Nama : Kelas : Nama Blog Silahkan dikirim pada kolom komentar. paling lambat untuk kelas 9C tanggal 16 Januari 2017 kelas 9A, 9B pada tanggal 18 Januari 2017

🌳 MGBK Muaro Jambi Go Green: Mendalami '7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat' di Hutan Kota Muhammad Sabki

  MGBK Muaro Jambi Go Green: Mendalami '7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat' di Hutan Kota Muhammad Sabki Oleh: Tim Konten MGBK Muaro Jambi Jambi – Pada hari Kamis, 30 Oktober 2025 , Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Jambi sukses menggelar kegiatan rutin bulanan dengan nuansa yang berbeda. Bertempat di tengah kesegaran Hutan Kota Muhammad Sabki , para Guru BK berkumpul untuk mendalami materi vital: 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) . Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 13.00 WIB ini menjadi bukti komitmen MGBK Jambi dalam meningkatkan profesionalisme dan kontribusi nyata pada pembentukan karakter siswa. 📢 Semangat Pembukaan di Bawah Rindangnya Pepohonan Suasana Hutan Kota yang asri menjadi latar belakang yang sempurna untuk memulai sesi ini. Rangkaian pembukaan berjalan lancar dan penuh makna: Pembukaan Resmi dan Visi MGBK: Acara dibuka langsung oleh Ketua MGBK, Bapak Turyono, S.Pd . Beliau menyoroti pentingnya kebiasaan positif sebagai fonda...