1 @Pertemuan Pertama
Pagi ini udara yang keluar masuk dari
jendela kamar terasa sangat dingin. Sinar mentari pagi yang masuk ke kamarku
menjadikan ruangan dan badanku terasa hangat, Aku langsung menuju kekamar
mandi. Setelah selesai mandi dan keluar, mataku tertuju kepada sebuah kertas
putih yang dilipat dan diletakkan diatas meja tepat disamping handphoneku.
“
Kak hari ini Aku pulang kuliah agak telat
karena ada tambahan jam mata kuliah. Oh ya tadi pagi Ayah menelphone katanya
dua minggu ini belum bisa pulang kerumah.”
Secarik
kertas itu ternyata pesan yang ditulis oleh Adikku, Rudi. Ya dia adalah Adik
sepupuku dari desa. Dia adalah anak dari paman Roni dan Bi Ratih. Saat Rudi
masih bayi Bi Ratih meninggal karena terserang penyakit, sedangkan paman Roni
meninggal karena kecelakaan sewaktu Rudi masih duduk dibangku kelas 6 sekolah
dasar. Sejak saat itu Ayahku membawanya ke rumah dan mengangkatnya sebagai
anak. Bagiku walau Aku dan Rudi bukan saudara kandung,tapi ia adalah Adik yang sangat baik untukku. Kami
sering menghabiskan waktu berdua. Karena Aku sendiri adalah anak semata wayang.
Aku senang dengan diangkatnya Rudi menjadi Adikku, karena Aku bisa memiliki
teman bermain, bercanda dan bercerita dirumah.
Walaupun Aku dua tahun lebih tua darinya, tapi Rudi mempunyai sifat
lebih lebih dewasa dariku.
Ayah
dan Ibuku jarang pulang kerumah karena urusan Bisnisnya di Luar Kota, selain Rudi
dirumah ada Bi Darsih dan Bi Minah. Merekalah yang mencuci pakaian dan
menyiapkan kami masakan serta Pak Mahmud yang bertugas sebagai penjaga malam.
Kadang Aku merasa bahwa Ayah dan Ibuku tidak menyayangiku sebagai anak, karena
terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Tapi pendapatku tersebut tidak selamanya
benar, toh mereka bekerja juga demi mencukupi kebutuhanku dan Adikku. Apalagi
sekarang ini, Aku dan Adikku
mengeluarkan banyak biaya untuk
keperluan kuliah.
Waktu
sudah menujukkan pukul delapan pagi, ini hari pertamaku praktek di SMA Harapan
Bangsa. Memang serasa sedikit malas untuk berangkat, lebih lagi hari ini hari
senin. Rasa malas dalam hatiku semakin bertambah. Aku berusaha melepas rasa
malas. Ku ambil Tas Punggungku. Tak lupaku masukkan Laptop, Chargeran
Handphone, Parfum, sisir dan sebotol air mineral. Ya itulah barang pokok yang
harusku bawa setiap pergi keluar ataupun kuliah.
Pulang
dari tempat praktek Aku langsung menuju ke Sanggar Kretifitas Delapan. Selain
kuliah kesibukanku adalah mengajar di sebuah sanggar seni yang ada di Kota ini.
Ada Delapan orang yang mengurus sanggar ini sehingga kami berikan nama
Kreatifitas Delapan. Bang Fey merupakan pencetus, pendiri dan bertindak selaku
ketua. Selain itu ada Mba’ Indah wakil ketua, Bendahara Mba’ Wati ,Sekretaris
Rahmat dan seterusnya anggota, yaitu Aku, Aris, Mawar, dan Hery. Mereka semua
adalah keluarga kedua bagiku. Selain Adikku Rudi, merekalah yang selalu
menghiburku. Terlebih lagi dengan Rahmat dan Mba’ Indah yang begitu konyol dan
kocak.
Belum
sempat masuk kedalam sanggar, Rahmat memanggilku dan sedikit mengajak
berbincang soal Praktek di Sekolah-sekolah yang di berikan kampus.
“
Rei. . . bagaimana prakteknya di SMA
Harapan Bangsa..? lancar-lancar aja kan…?” Tanya Rahmat kepadaku
“Alhamdulilah,
, semua berjalan dengan baik. . kalau
kamu gimana…? “
“
Lancar sih, , tapi di SMA Pelita cukup susah siswa-siswinya, agak nakal-nakal “
jawab Rahmat dengan nada lirih.
“
Hahaha. . coba kemarin kamu gabung saja
denganku , , kamu sih ku ajak bareng di SMA Harapan Bangsa
tidak mau..”
“
Woi, , kamu ini, , malah ngerumpi di luar, “ Bentak Bang Fey dengan nada
tinggi. Mendengar suaranya tersebut, Aku
dan Rahmat serasa terhipnotis, langsung berjalan masuk ke gedung sederhana
tempat kami latihan dan mengajar. Kami semua sudah terbiasa dengan bentakan
bang Fey, yah diantara kami ber delapan Bang Fey lah yang lebih berumur. Dan
kami semua menjulukinya Datuk Seni. Pengalaman Bang Fey di bidang Seni Cukup
banyak terutama theater, band, melukis dan menyanyi.
Sampai
didalam ruangan kulihat kesibukan teman-teman kreatifitas Delapan yang sedang
mengajari anak-anak , mulai siswa SD sampai SMA bahkan ada juga Mahasiswa yang
belajar di Sanggar Kami ini. Terlihat Rahmat dengan postur tubuhnya yang besar sedang mengajari beberapa siswa
membaca puisi dengan baik. Dengan suaranya yang besar dan mimik wajahnya yang
lucu membuat batinku tertawa. Disudut
lain kulihat sibuknya Bang Fey yang sedang mencari naskah theater yang baru.
Aku
masih sedikit letih, jadi Aku duduk di kursi tepat diatasnya ada kipas angin
kecil yang berputar. Sambil menikmati
angin yang berhembus keseluruh tubuh mataku tertuju ke sudut ruangan sanggar
sebelah kanan. Terlihat Mawar dan Mba’ Indah sedang mengajar Tari Tradisional.
Ada tiga perempuan yang sedang diajarinya. Aku terus memandangi salah satu dari
ketiga perempuan itu. Terlihat gerakan tubuhnya begitu lunglai dan indah
dibandingkan dengan yang lain. Gerakan-gerakan tangannya begitu lembut. Mataku
yang tak henti memandanginya. Wajahnya yang begitu manis dan parasnya begitu
cantik. Pakaian yang dikenakan hampir semuanya bewarna ungu. Itu membuat Aku
bertambah senang memandanginya. Sepertinya Aku telah terhipnotis olehnya. Ada
gejolak dalam hati yang membujukku untuk mengetahui siapa gerangan namanya. Tapi
Aku sedikit malu untuk melakukannya. Aku semakin dalam masuk kedalam lamunanku.
“
Woi Rei, , ngelamun saja kamu. . .!”
Tegur Aris sambil menepuk punggungku. Lamunan dan khayalku sontak hilang
karenanya.
“
Tidak apa-apa Ris, , , Cuma lagi malas saja.” Jawabku mengelakkan candaaanya.
“
Ah yang benar. . . daritadi ku
perhatikan kamu memandangi peremuan yang berbaju ungu disana.!” Asyik asyik.
. ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama
ni. . . .!” Gurau Aris kepadaku. Mendengar gurauannya Aku langsung berfikir,
apa benar yang dikatakan Aris itu. Aku memang terpesona olehnya. Tapi apa
mungkin Aku jatuh cinta padanya. Inikan baru pertemuan pertama dengan perempuan
itu, namanya saja Aku tak tahu.
2 @Arvina Namanya
Arvina. Yah perempuan yang Aku pandangi
tadi bernama Arvina. Saat berkenalan dan berjabat tangan suara yang keluar dari
bibir tipisnya begitu lembut. Aku masih terngiang suaranya saat ia menyebutkan
namanya, Arvina. Dia adalah siswa baru yang sedang belajar tari tradisional di
sanggar kreatifitas Delapan. Bersama dua orang temannya. Mereka bertiga adalah
mahasiswa semester dua Di STMIK Dinamika. Sebelumnya Aku terkejut saat dia
mengatakan dan menyebutkan nama kampusnya. Kampus itu adalah tempat Adikku Rudi
menimbang ilmu. Dalam hatiku bertanya-tanya, apa Rudi tau dan mengenal
perempuan itu. Aku semakin penasaran. Penasaran yang cukup besar, Aku ingin
tahu semuanya tentang Arvina.
Sejak
perkenalan di sanggar tadi Aku selalu teringat wajahnya, tutur sapanya yang
terus terbawa hingga aku sampai dirumah. Lagi lagi Aku terjerat dalam
lamunanku. Aku terbayang bayang dirinya. Bayang wajahnya terus merasuk
pikiranku. Ini perasaan tak benar. Aku tak pernah merasakan seperti ini. Apa
Aku jatuh cinta. Apa Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku semakin dalam
merasuk dalam dunia khayalku. Tak lama Aku terdengar suara langkah kaki.
Kemudian suara pintu kamar yang terbuka. Aku tahu suara langkah kaki siapa itu.
Itu pasti Rudi. Yah. . dia baru pulang
dari kuliahnya. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan
keluar kamar dan menuju kekamar Rudi.
“
Rud. . kau sudah pulang ya,,,? Bukakan pintu, ada yang mau Kakak tanyakan…!”
panggilku sambil mengetuk pintu kamar Rudi berulang kali.
“
Ya kak. . masuklah pintunya tidakku
kunci …!” sahut Rudi dari dalam kamar.
Aku
langsung membuka pintu. Kulihat Rudi terbaring diatas kasurnya yang rapi.
Berbeda dengan kamarku yang selalu berantakan. Kalau gak dibereskan oleh bi Minah
pasti kamarku sudah seperti kapal pecah.
“
Ada apa Kak. . ? apa yang mau Kakak tanyakan..?. . .!” Tanya Rudi penasaran.
“
Beh . ada deh, , kamu ini pulang kuliah malam begini bukannya
mandi dulu, ini malah tidur tiduran. Huh. .
liat tuh badan lah kumel ,”
“
Aku lagi malas, , Kak. Pikiranku lagu kacau. Aku bingung harus bagaimana..?” ungkapnya
dengan nada sedih. Mendengar setiap kata yang dilontarkan dari mulutnya Aku
jadi mengurungkan niat untuk menanyakan sesuatu padanya. Aku jadi ingin tahu
apa yang terjadi dengan Adikku ini. Tidak biasanya dia begitu.
“
Ada apa Rud, , ayolah cerita dengan Kakak, siapa tahu Kakak bisa bantu.”
“
Pusing Kak mau cerita dari mana..? Aku bingung apa sih sebenernya mau perempuan
itu, , sampai buat Aku begini. Kakak tau
kan kak perempuan yang Aku pacarin sekarang. Sudah tiga minggu Aku jalani
hubungan dengannya, tapi tak pernah Aku dianggap olehnya. Sekarang hanya
masalah kecil, dia menyalahkan Aku, dia malah mutusin Aku tanpa sebab begini, “
ungkap Rudi dengan nada sedih dan sedikit emosi.
Mendengar
ceritanya Aku pun ikut merasa sedih. Aku tau perasaan Adikku bagaimana. Aku
begitu tau sifatnya bagaimana. Aku mencoba membujuknya, dan menasehatinya agar
ia tak begitu terlarut sedih dengan masalahnya. Selama ini dia pacaran dengan
perempuan manapun Aku tak pernah dikenalkan dengan pacarnya itu. Aku tak tau
sekarang perempuan mana yang dipacarinnya. Kalau Aku tau, Aku pasti bisa
membantunya untuk menjelaskannya kepada pacarnya. Selama ini Aku lihat Rudi
memang sedikit Playboy. Seringkali dia cerita tentang pacar dan mantan –
mantanya. Selama ini Aku tak bisa selalu melarangnya, bahkan untuk pacaran,
biarlah dia yang memilih. Sebagai Kakak angkat Aku hanya bisa menasehati
dirinya.
*****
Setelah
malam tadi, pagi ini Aku lihat Rudi sudah sedikit melupakan masalahnya. Yah
selama ini jika ada masalah sebesar apapun Ia tak pernah menunjukkan
kesedihannya. Ia selalu tersenyum. Sejak kecil ia memang begitu. Aku bangga
mempunyai Adik sepertinya.
Saat
sarapan Aku lihat Rudi begitu lahap makan seperti biasanya. Dibandingkan Aku
yang makan sedikit, ia begitu lahap dan cepat. Mungkin jika dirumah ini diadakan lomba makan
pasti dia yang menang.
“
Oh ya Kak, tadi malam katanya ada yang mau Kakak tanyakan..? kok tadi malam
terbalik Kakak yang malah mendengar cerita ku..?” Tanya Rudi sambil melahap
terus nasi goreng yang dibuatkan oleh Bi Darsih.
“
Iya yah,, Kakak lupa Rud, , memang sih ada. . ! tapi kayaknya gak usah sekarang
lah, kapan-kapan aja yah hehehe, atau nanti malam aja kalau kamu sudah pulang
kuliah”.
“
Ok lah Kak,, , Aku tunggu ceritanya, ,
jangan buat Aku penasaran ya ! ”.
“
Tapi Kakak tidak janji . . hehehe “.
Jelasku sambil menghabiskan nasi goreng yang tinggal beberapa suap lagi.
*****
3 @Semakin Dekat
Sore ini setelah pulang dari SMA
Harapan Bangsa ntah apa yang membujukku, tiba-tiba saja kendaraan yang Aku
naiki kuarahkan menuju sanggar. apa yang merasuki pikiranku ini. Aku hanya
ingat dan terbayang wajah Arvina. Mungkin karena itu yang menuntunku kearah
sanggar. Padahal Aku tau hari ini hari selasa, pasti tak ada orang yang latihan
disana. Tapi ntah mengapa Aku begitu semangat untuk datang kesana.
Sampai
di sanggar Aku langsung masuk kedalam.
Aku berdiri tepat dihadapan kaca besar yang melekat didinding. Aku tak sadar jika Aku sedang
memakai kemeja bewarna ungu. Aku tak tau kenapa Aku begitu suka dengan warna
ungu ini. Aku terus memandangi diri sendiri didepan cermin. Tiba-tiba terdengar
suara merdu yang berasal dari luar sanggar. Suara yang bisa menghipnotisku.
Suara yang indah yang mengucapkan salam.
“
Assalammualaikum. . . !” Sekali lagi suara itu keluar dari mulut seseorang,
seraya mununggu balasan dari orang yang mendengarnya. Aku tau suara ini yah. .
Aku tahu, walau jarang terdengar ditelinga Aku hafal akan suara yang indah ini.
Sambil bergegas menuju keluar Aku mencoba menjawab salam dari suara itu.
“
Waalaikumsalam. . . !”
Sampai
di depan pintu Aku begitu kaget, dua orang peremuan berdiri tepat berada
didepanku. Salah satunya memakai kemeja putih dan celana jeans bewarna hitam.
Di tangan kanannya membawa tas kecil bewarna hitam juga. Perempuan satu lagi
memakai baju dres bewarna ungu yang lagi ngetren sekarang ini. Memakai kacamata
yang tulangnya sedikit bewarna ungu. Tasnya dipakai selempang disebelah kiri
dan tangan kanannya memegang handphone. Aku begitu gugup ketika berada tepat
didepannya. Jantungku yang semula berdenyut tenang kini begitu cepat berdetak,
seperti genderang mau perang. Darahku begitu cepat mengalir, deras seakan
terasa alirannya mengalir keseluruh tubuhku. Suara merdu yang indah tadi
berasal dari dirinya. Yah itu dia. Arvina.
“
Eh kalian, murid baru kemarin yah, Arvina dan Safitri. Ada yang bisa Kakak
bantu?, , hari inikan kita tidak ada latihan “. Tanyaku kepada mereka. Walaupun
terasa gugup untuk berkata, tapi Aku mencoba tidak memperlihatkannya kepada
mereka.
“
Ini kak, , kebetulan tadi lewat sini,
jadi sekalian mampir saja.” Jawab Safitri
“
Oh begitu! tapi maaf, Kakak-kakak yang lain lagi mengurus pekerjaannya, jadi
Cuma Kakak sendiri disini!”
|
11
|
|
12
|
“
Masuk saja yuk, kita bicara didalam saja.”
“
Iya kak. . makasih “ jawab Arvina.
Aduh,
mendengar suaranya Aku jadi salah tingkah sendiri. Rasa gugupku semakin
bertambah. Aku tak tau kenapa Aku jadi begini. Aku sangat mengagumi dirinya.
Benarkah Aku merasakan semua ini. Baru dua hari ini Aku mengenalnya, tapi
kenapa Aku merasa telah bertahun tahun mengenalnya. Sepertinya ada rasa yang
tak biasa dalam hatiku terhadapnya tapi ntah mengapa. Mungkinkah ini pertanda
Aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Waktu
yang berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir dua jam Aku, Arvina dan
Safitri bercerita kesana kemari. Mulai dari hobby sampai pengalaman-pengalaman
yang pernah dialami. Ternyata Arvina memang perempuan yang pemalu. Yang lebih banyak bercerita hanya Safitri.
Suaranya yang besar dan nyerocos seperti burung beo. Tapi Aku senang, berkat
blak-blakannya Safitri Aku jadi tau tentang Arvina. Memang Arvina hanya
bercerita sedikit, tapi kenapa Aku senang mendengar dia bercerita. Mulai dari
dirinya yang sangat menyukai warna ungu. Dalam hati Aku berkata, “kok sama
dengan Aku yang sangat menggandrungi warna yang identik dengan janda atau duda
itu. Jangan jangan jodoh”. Hahaha hati kecilku berkata seperti itu. Hanya
sedikit untuk menyenangkan hati. Selain menyukai warna ungu, ternyata hobbynya
sama juga denganku, yaitu membaca cerpen atau novel. Berarti dengan hobby kami
yang sama ini sepertinya Aku bisa lebih dekat mengenalnya. Akupun mendapat
kesempatan untuk mengantarnya pulang.
*****
4 @Bukan Harapanku
Keesokan harinya setelah pulang dari SMA
Harapan Bangsa Aku menuju Sanggar. Semoga seperti kemarin, ada Arvina. Semenjak
ku antar dia pulang kerumah kemarin Aku selalu mengingatnya. Namanya yang
selalu ingin Aku ucapkan lewat bibirku. Arvina, kenapa Aku bisa begini
karenamu. Sepertinya Aku tergila – gila olehmu. Tapi kali ini Aku tak mau
terlena oleh khayalan dan lamunan semata.
Sampai
di Sanggar Aku disambut oleh celotehan Mba’ Indah. Sambil membawa beberapa Map
yang berisikan kertas-kertas.
“
Rei. . kamu lama banget datangnya
emanglah. . . “ cetus Mba’ Indah sambil
menyusun Map-map kedalam sebuah kardus.
“
Yah Mba’ maaf, tadi dijalan emang Aku sedikit lambat “
“
Aduh, kalau gitu ayo cepat antar Mba’ ke SMA Muhammaddiyah..!”
“
SMA Muhammaddiyah . . !”ujarku heran.
“
Iya, , ini mau mengantar berkas-berkas ini, dari tadi Mba’ nungguin kalian
semua, eh malah gak ada yang datang. Soalnya Mba’ tidak bawa motor sendiri Rei,
, tadi Mbak diantar !”
“
Baiklah Mba’, ayo Aku antar .!” Walau dengan berat hati dan dengan sedikit
terpakasa akhirnya Aku mengantar Mba’ Indah. Padahal kedatanganku ke sanggar
ingin bertemu dengan Arvina. Aduh ternyata tak sesuai dengan yang Aku inginkan.
Tapi ya sudahlah, lagian Mba’ Indah sudah Aku anggap sebagai Saudaraku sendiri.
Setelah Mba’ Indah naik, motorpun aku pacu dengan perlahan.
“
Stop. Stop .Stop. .. !” Cetus Mba’ indah dengan spontan menyuruhku menghentikan
sepeda motor yang baru dikendarain selama 10 Menit.
“
Ada apa Mba’,,,?” tanyaku heran.
“
Sudah Mba’ turun disini aja Rei, , !”
“
Loh kan belum sampai Mba’, , ,!”
“
iya tapi kan gerbang sekolahnya sudah kelihatan tuh !” ucap Mba’ Indah sambil
menunjuk gerbang SMA Muhammadiyah yang bewarna hijau.
“
Iya lah Mba’, , tapi beneran nih tidak apa-apa..?”
“
Iya biar Mba’ jalan aja, lagi pula tadi
Mba’ lupa mengunci Sanggar. Tolong ya kamu balik lagi kesana. Dari tadi Mba’
kepikiran takut ada orang lain yang masuk dan mengambil barang-barang yang ada
di Sanggar !” jelas Mba’ Indah dengan sedikit cemas.
Mendengar penjelasan Mba’ indah Aku langsung
menghidupkan kembali sepeda motor. “Siap Mba”. Aku langsung menuju ke sanggar.
Dengan kecepatan tinggi Aku mengendarainya. Satu, dua kendaraan lain Aku
lewati. Saat melewati sebuah tikungan, kendaraan yangku kendarai mulai oleng
karna jalan aspal yang tidak rata. Tiba-tiba ada anak kecil yang menyebrang
jalan. Aku langsung membelokkan sepeda motorku ke kanan, Naas, ternyata dari
arah berlawanan ada sebuah mobil pick up bewarna putih tepat didepanku. Tak
sempat lagi Aku menghindarinya dan akhirnya.
. . . . Brakk.
Sejak
itu Aku tak tahu lagi apa yang ku rasa. Aku hanya merasa kepala yang pusing dan seluruh tubuh yang terasa
sedikit nyeri dan sakit. Perlahan Aku membuka mata. Sejenakku awasi keadaan
disekitarku. Agak terasa asing. Ku lihat ada selang infuse yang tertancap
ditangan kiriku.
“
Dimana Aku. . ?” dengan suara yang serak, Aku mencoba bertanya dengan orang
yang berada disamping tempat tidurku.
“
Kakak dirumah sakit kak, , !”
Aku
pandangi wajah suara orang itu. Yah ternyata Adikku Rudi.
“
Kakak lagi dimana Rud ?”
“
Kakak lagi dirumah sakit , kemarin Kakak kecelakaan !”
“
Ya allah, , jadi sejak kemarin Kakak tak
sadarkan diri. . !”
“
Iya kak ..!”
Tok
Tok. .
Suara
ketukan pintu menghentikan pembicaraan kami. Terdengar dari luar suara gaduh.
Dan tertawa seseorang yang begitu sangat Aku ingat. Pintu terbuka. Dan ternyata
benar suara tertawa yang Aku tebak tadi. Berasal dari anak-anak Kretifitas
Delapan. Ada Bang Fey, Mba’ Indah, Mba’ Wati, Aris dan Rahmat.
“
Rei, , maafin Mba’ ya, gara gara Mba’
kamu jadi seperti ini”. Ucap Mba’ indah. Dia sangat merasa bersalah.
“
Ya Mba’, Mba’ tidak perlu minta maaf.
Ini semua juga gara-gara Aku yang tidak hati-hati bawa motornya.”
“
Sudah-sudah, ,jangan saling menyalahkan diri sendiri”. Cetus Rahmat seraya
menengahkan kami berdua.
“
Bener tuh kata sih Rahmat, ” tambah Aris.
“
Iya, lagi pula kan semua itu takdir Tuhan, makanya Rei lain kali naik motor itu
hati-hati “ jelas Mba’ Wati sambil meletakkan parcel buah yang mereka bawa di
atas meja.
“
Sudah sekarang kamu istirahat saja Rei, jangan pikirkan dulu soal siapa yang
salah dan siapa yang benar. Tapi semoga jangan lama-lama ya sakitnya nanti di
sanggar sepi tidak ada kamu!” Sahut Bang
Fey
“ Oh ya hampir abang lupa Rei. Tadi Mawar dan
Hery tittip salam. Mereka belum bisa datang hari ini. Katanya ada urusan
sedikit. Mungkin nanti malam atau besok..!” jelas Mba’ Wati.
Yah.
Walau Mawar dan Hery tak datang, tapi Aku sudah cukup terhibur dengan
kedatangan mereka semua. Rasa pusing dan sakit badanku terasa sedikit hilang.
Sudah hampir satu jam mereka menghiburku. Akhirnya, bang Fey dan teman yang lain
berpamitan untuk pulang.
Sambil
mengucap salam bang Fey dan yang lain meninggalkan ruangan. Rudi mengantar
mereka sampai keluar. Setelah itu, ia kembali lagi keruangan tempat Aku
dirawat. Di dalam, ia duduk dikursi yang ia tempati tadi. Lama ia mengamati
wajahku.
“
Astagfirullah,’ gumamnya pelan.
“
Ada apa Rud..?”
“
Aku belum sama sekali mengabari Ayah dan Ibu Kak..!”
“
Tidak usah Rud, Kakak tidak mau Ayah dan Ibu khawatir..!”
“
Tapi Kak, , nanti mereka tambah khawatir kalau kita tidak kasih kabar sedikitpun..!”
“
Iya Rud . tapi sebelum kamu menghubungi Ayah dan Ibu tolong kasih tau Kakak.
Apa kata dokter, apa ada yang parah yang terjadi dengan Kakak…?”
“
Tadi sih dokter agak sedikit heran. Menurut saksi tempat Kakak kecelakaan,
katanya motor yang Kakak bawa melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi kok Kakak tidak
apa-apa.!” jelasnya
“
Iya juga ya..!” sahutku dengan heran. “ trus dokter ngomong apa lagi..?”
“
Katanya sih kalau rasa pusing atau sakitnya sudah hilang Kakak sudah diizinin
untuk pulang. Ya udah kak, Aku keluar dulu mau menghubungi Ayah dan Ibu!”
Selang
beberapa menit Rudi keluar kemudian
kembali lagi masuk menyodorkan HP kepadaku.
“
Ini kak, Ibu mau ngomong!”
“
Hallo Nak,, kamu Tidak apa-apa kan,sejak kemarin perasaan Ibu sungguh khawatir
terhadapmu. Tadi Adikmu sudah jelasin semua pada ibu”. Suara wanita separuh
baya yang membawa sedikit pelita bagiku. Ya itu suara ibuku. Satu-satunya
perempuan yang sangat Aku cinta, untuk saat ini.
“
Ya Bu, , Aku tidak apa-apa. Ibu jangan terlalu khawatir ya, besok juga Aku
sudah bisa pulang”. Jawabku. Semoga Ibu tak terlalu khawatir dengan apa yang
terjadi padaku saat ini.
“
Iya nak, , tapi Ibu sebagai orang tua sungguh sangat mengkhawatirkanmu nak. Ibu
terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga kurang memperhatiaknmu,”
Mendengar kata-kata dari Ibu mataku berkaca-kaca. Tak terasa setetes air mata
mengalir di pipiku.
“
Bu, , Aku bukan anak kecil lagi, Tidak apa-apa kok. Lagi pula disinikan ada Rudi
yang jadi menemaniku!” Aku mencoba tegar mengucapkannya, Karna Aku tahu Ayah
dan Ibuvsibuk dengan pekerjaannya itu semua demi mencukupi kehidupanku. Ya,
mencukupi segalah kebutuhanku juga Rudi.
“
Besok siang Ayah dan Ibu pasti pulang nak, , jangan lupa istirahat ya..?”
“
Baik Bu. Oh ya salam dengan Ayah , nanti kalau pulang ingatkan Ayah unutk menyetir
mobilnya denganhati-hati, jangan terlalu kencang!”
“
Iya nanti Ibu sampaikan. Assalammualaikum”.
“
Waalaikum salam”.
Tut
Tut Tut. Telephone pun segeraku tutup. Sebenarnya Aku sedikit khawatir dengan Ayah
dan Ibu. Biasanya mendengar kabar buruk yang terjadi denganku mereka terlalu
panik. Aku tidak mau terjdi sesuatu dengan mereka. Dulu saja saat mendengar Aku
jatuh dari tangga sewaktu SMP, karna terlalu khawatir dan panik dengan
keadaanku, Ayah sempat jatuh dari motornya. Karna itu Ayah kehilangan jari
kelingking sebelah kirinya. Sejak saat itu Aku menjadi sangat hati-hati. Aku
menjadi merasa sangat bersalah. Dan Aku tak mau kejadian itu terulang lagi.
*****
5 @Asa Yang Hilang
“
Rud, , Kakak sudah mulai bosan, ingin cepat pulang kerumah!” Keluhku pada Rudi
yang sedang asyik membaca majalah remaja mingguan.
“
Tapi kak, , Kakak harus istirahat “.
“
Ah, , Kakak sudah sembuh, , kemarin kamu bilang kalau Kakak sudah tidak merasa
pusing atau sakit, Kakak sudah boleh pulang “.
“
Aduh, , dasar Kakaku yang keras kepala. Oke deh, Aku temui dokter dulu dan mengurus
administrasinya”.
Dengan
terpaksa Rudi berjalan keluar ruangan. Ia langsung menuju keruangan dokter dan
kemudian membayar biaya selama Aku dirawat dirumah sakit ini. Aku terus menatap
pintu. Berharap sebelum Aku pulang kerumah ada seseorang yang sangat Aku tunggu
datang menjenguk yaitu, Arvina.
Tok
Tok Tok “Assalammualaikum”.
Suara
ketukan pintu menghamburkan fikiranku tentang Arvina. Aku pun spontan terkejut
dan menjawab salam itu.
“
Waalaikum salam, silahkan masuk”.
“
Apa kabar Rei..?” sapa perempuan berjilbab putih bersih kepadaku. Mawar.
“
Alhamdulilah lebih baik dari yang kemarin.”
“
Maaf yah, Aku dan Hery baru bisa menjengukmu sekarang, soalnya kemarin ada
urusan !”
“
bener Rei, jadi hari ini kami berdua
bela-belain datang kemari. Biarlah urusan pekerjaan yang belum selesai bisa
nanti saja,” tambah Hery
“
Ah kalian ini, tidak usah terlalu khawatir begitu, lagipula hari ini Aku sudah
diizinin pulang. Tuh Adikku Rudi lagi menemui dokter dan mengurusnya”.
“
Oh bagus deh. Kalau begitu biar kami bantu membereskan barang-barangmu”. Sambut
mawar.
Tak
lama kemudian Rudi bersama dokter dan suster masuk keruangan. Dengan peralatan yang dibawanya dokter itu memeriksa
sementara keadaanku.
“
Jantung sudah sedikit normal, kalau begit tolong lepaskan selang infusnya sus”.
Ujar dokter Andi yang mengobatiku sambil memerintahkan suster untuk melepaskan
selang infuse yang terpasang di tangan kiriku itu.
“
Yah, sepertinya sudah agak baikkan, anda saya izinkan pulang”. Ujar dokter yang
berumur setengah baya itu, rambutnya sedikit botak.
“
Terima kasih dok, atas bantuannya” .
lanjut Rudi
Setelah
semua urusan telah selesai dengan didorong diatas kursi roda oleh Rudi, Aku
menuju rumah dibantu dengan Hery dan Mawar. Menggunakan mobil kijang milik hery.
Badanku masih sedikit lemas. Luka bekas tusukan jarum infus masih terasa sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah jantungku begitu berdetak cepat. Aku langsung
memikirkan Ayah dan Ibu, Aku begitu khawatir dengan keadaan mereka. Niat dalam
hati untuk menghubungi mereka agar tahu bagaimana keadaan mereka.
“
Rudi, pinjam HPmu, Kakak mau menghubungi Ayah…? “ ucapku sambil membangunkan Rudi
yang sedang tertidur dalam mobil. Yah, HPku hilang saat kecelakaan.
“
Hoam, ambil saja ditas Kak…!” jawabnya
dengan nada malas sambil merenggangkan tangan-tangannya.
Beberapa
kali Aku mencoba hubungi nomor Ayah tak ada respon. Yang terdengar hanya suara
operator yang memberi tahu bahwa nomor yang dihubungi tidak aktif.
“Nomor yang anda tuju
sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.”
Berulang kali ku coba tetap sama. Begitu pun nomor Ibuku. Tak ada jawaban,
hanya suara oerator yang menjawabnya.
“Nomor yang anda tuju
sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.”
Hatiku
semakin was-was. Aku semakin memikirkan keadaan Ayah dan Ibuku. Ku coba untuk
terus berfikiran positive. Kemungkinan mereka sedang sibuk atau mungkin sedang
berada dalam perjalanan pulang, jadi handphone di nonaktifkan.
Sampai
di depan rumah ada suasana sedikit aneh. Banyak kerumunan orang. Aku begitu
heran apa yang sedang mereka lihat itu. Dengan di bantu oleh Rudi, Aku berjalan
memasuki rumah. Badanku yang semula terasa lemas kini hilang menjadi semangat
berkat rasa penasaran itu.
“
Ada apa ini..? tanyaku dengan perasaan hati yang tak enak. Aku tidak sabar
untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun orang-orang di sekitar tak ada juga
yang bicara. Akhirnya Aku mendorong Pak RT yang mencoba menghalangiku. Dengan kasar Aku mendorong Pak RT hingga ia
terjatuh. Saat itupun keadaan menjadi begitu jelas.
“
Ayah ,,,,, Ibu,,,,,!” Aku menjerit. Aku memandangi Ayah dan Ibu yang tergeletak
dan tak berdaya dengan balutan kain kafan putih yang bersih. Aku terdiam. Rudi
berlari, menangis dan memeluk jasad Ayah dan Ibu. Tubuhku yang semula
bersemangat kini menjadi lemas tak terasa kembali. Perlahan butiran air yang
keluar dari mataku menetes dan mengalir di pipi.
Ayah…?
Ibu…? Apa yang terjadi dengan kalian? Tidak mungkin ini terjadi. Aku terduduk lemas di lantai. Pak RT mendekatiku.
“ Sabar Rei, sabar ya. Ini cobaan buat kamu dan Adikmu.”
“
Kenapa..? tapi kenapa secepat ini?’
“
Kecelakaan,” ucap Pak RT padaku “ tadi pagi pukul delapan ban mobil sebelah
kanan yang dikendarai oleh Ayahmu pecah, kemudian oleng dan terguling ke dalam
jurang disisi kanan jalan. Kasusnya sudah ditangani polisi.”
“Allah,
ini semua tak adil bagiku, Aku sekarang menjadi yatim piatu. Ayahku , Ibuku…?”.
Ocehku tak jelas
“
Rudi….,” panggilku dengan parau. Meski hatiku begitu sedih tapi Aku enggan
menangis terus. Rudi berdiri sambil mengusap air matanya dan berjalan mendekatiku.
Memelukku dengan erat.
“
Ayah Kak…. Ibu juga Kak…” tangis Rudi pecah.
Ia menangis di pelukkanku. Suara orang-orang yang membaca surat Yasin
membuat suasana menjadi tambah haru.
Aku
melepaskan pelukan Rudi dan berjalan mendekati jasad Ayah dan Ibu.
“
Ayah… Ibu,,, ini Rei .., Aku sudah sembuh. Aku sudah pulang dari rumah sakit.
Ayah dan Ibu mau melihat keadaanku kan? Ayah… bangun Yah…. Ibu… bangun Bu..? “
lihat nih Yah , Bu, Aku sudah sehat. Jangan pergi,, AYAH..IBU BANGUN !, BANGUN
AYAH..BANGUN BU ! raunganku sambil menggoyangkan jasad mereka. Rudi mendekatiku
dan memelukku dengan erat.
|
25
|
|
26
|
Saat
ini Aku tak mengerti dengan istigfar. Aku hanya tau kalau Ayah dan Ibuku telah
meninggal dunia. Jiwaku begitu sedih dan kalut. Ku lepaskan pelukan Rudi. Aku
pandangi sekali lagi wajah Ayah dan Ibuku. Kucoba melukis wajah Ayah dan Ibu
untuk terakhir kalinya dalam otakku.
Aku
tak tau apa jadinya hidupku setelah ini. Tanpa Ayah dan Ibu. Tanpa kasih
sayangnya, tanpa cintanya dan perhatian mereka. Kenapa ini semua begitu cepat.
Kenapa bukan Aku saja yang pergi. Allah begitu tak adil. Aku merasa Allah tak
pernah menyayangiku. Aku belum siap
menerima semua ini.
*****
|
26
|
6 @Tahajjudku
Ucapan
turut berduka cita banyak berdatangan yang ditujukan untuku dan Rudi. Aku hanya
bisa tersenyum saat mereka mengucapkan turut berbelasungkawanya. Walau Aku
tersenyum, tapi sebenarnya Aku menangis dalam hati. Aku tak ingin menunjukkan
kesedihanku ini pada semua orang. Mungkin Aku akan mengalami stres, depresi
ataupun yang sejenisnya dengan musibah ini. Walau sahabat dan teman-temanku
selalu berusaha menghibur.
Seusai
tahlilan Aku mendekati Pak RT, ada sesuatu yang ingin Aku tanyakan.
“
Pak..? boleh Aku menanyakan sesuatu..?”
“
Oh tentu saja boleh Rei, ,!” jawab Pak RT sambil menepuk-nepuk punggungku.
“
Kenapa Allah itu tidak adil ya..? kenapa Allah memanggil Ayah dan Ibuku secara
bersamaan..!”
“
Astagfirullah, kenapa kamu bicara seperti itu.. sesungguhnya Allah Itu Maha
Adil Rei..!”
“
Tidak Pak, kalau Allah adil tak mungkin dia memberikan cobaan ini padaku. Allah
juga tak sayang padaku. Allah begitu jahat…!”
“
Rei,, Allah itu sayang kepada semua umatnya. Makanya Allah memberikan cobaan
dan musibah ini pada kamu dan Adikmu.”
“
Tapi kenapa harus begini pak.?” Bantahku.
“
Ya memang. Tapi dengan Allah memberikan musibah ini berarti Allah masih sayang
pada kamu. Dan sesungguhnya dibalik musibah itu ada anugrah, dan dibalik
anugrah pasti ada hikmahnya.” Jelas Pak RT sambil mengelus-mengelus kepalaku,
kemudian berdiri dan berpamitan pergi.”sudah dulu ya, Bapak mau pulang dulu ,
oh ya pesan Bapak kalau nanti malam kamu
terbangun jangan lupa shalat Tahajjud ya.”
“
Ya Pak, terima kasih.”
Setelah
para tetangga yang ikut tahlilan pulang. Aku langsung masuk kamar. Walau
diruang tamu masih sibuk membereskan dan membersihkan ruangan tapi Aku begitu
malas untuk membantunya. Ada pak Mahmud, Bi Darsih, Bi Minah dan Rudi. Sampai
di kamar, Aku langsung merobohkan tubuhku di atas kasur. Aku masih memikirkan
dan menelaah kata kata dari Pak RT. “ sesungguhnya di balik musibah itu ada
anugrah, dan dibalik anugrah pasti ada hikmahnya.” Apa sih sebenarnya maksud
Pak RT, trus pake menyuruhku untuk Sholat Tahajud. Shalat lima waktu yang wajib
saja sungguh jarang Aku lakukan.
Malam
semakin larut. Tapi mataku sungguh sangat sulit untuk dipejamkan. Kata-kata pak RT masih membenak difikiranku.
Shalat Tahajud?. Memang apa keistimewaanya?. Yang Aku tahu sholat tahajud
adalah sholat yang dilakukan pada malam hari, dan didahului dengan tidur dengan
jumlah raakat minimal dua dan diutamakan dilakukan pada saat sepertiga malam.
Hanya itu yang Aku tau selebihnya tidak ada lagi. Aku memang kurang kalau yang
berhubungan dengan agama. Dari sekolah dasar sampai kuliah tidak ada satu
sekolah yang menjelaskan dan mengajarkan islam dengan rinci. Mungkin kalau Aku
sekolah di Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah Aku bisa mengetahui lebih.
Aku
tertidur. Tapi sepertinya tidurku tidak nyenyak. Sehingga Aku terbangun lagi.
Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Aku teringat tentang shalat tahajjud.
Aku coba saja saran dari Pak RT tadi malam. Semoga saja walau shalat lima waktu
jarang Aku lakukan ,shalat sunah tahajjudku ini diterima oleh Allah. dengan
perasaan yang bercampur aduk Aku mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajjud.
Selesai
shalat Aku menangis. Air mataku mengalir begitu saja di pipi. Di tengah
kesunyian malam yang sepi ini, Aku teringat oleh segala kesalahan yang Aku
perbuat. Aku yang sering membantah dan melawan pada orang tuaku. Pada siapa Aku
harus memohon maaf, sekarang mereka telah tiada. Kenapa penyesalan ini baru
datang sekarang. Kesalahan-kesalahan yang telah Aku perbuat kepada semua orang
baik yang Aku sengaja ataupun yang tak ku sengaja. Aku sungguh menyesalinya.
Sejujurnya
Aku juga malu terhadap Allah yang telah menciptakanku. Aku begitu melupakan
tuhan yang telah menciptakanku. Allah yang maha pemurah, Allah yang maha
penyayang, maha pemaaf dan maha segalanya telah aku lupakan. Bahkan Aku telah
menghinanya. Aku menghakimi Allah itu tak sayang denganku dan Allah itu tak
adil. Sungguh terlalu diriku ini. Aku begitu menyalahkan diriku sendiri. Ya
Allah ampunilah hambanmu ini. Ampuni segala kesalahan dan dosa-dosa yang ku
perbuat.
Tok
Tok “ Assalammualaikum, Kak….” Suara ketukan pintu kamar dan disusul dengan
ucapan salam.
“
Waalaikum salam. Sebentar!” jawabku sambil menyimpan sajadah, dan melepas baju
koko dan menggantinya dengan kaos oblong biasa. Air mata dipipiku juga
buru-buru ku hapus. Aku tahu pasti itu Rudi. Aku tak mau ia tahu kalau Aku lagi shalat dan
menangis. Aku malu.
“
Masuk Rud. . .!”
“
Ada apa kak..? tadi dari kamar Aku dengar kakak bicara sendiri. Dan kenapa
Kakak belum tidur jam segini?” tanyanya heran
“
Ah tidak ada apa-apa. Cuma kakak susah tidur saja. Kamu sendiri kenapa tidak
tidur Rud.?”
“
Oh, Aku baru selesai shalat kak.!”
“
Shalat apa emangnya?. Shalat tahajjud ya?”.
“
Iya kak, shalat tahajjud.! Emang kenapa kak?”
“
Tidak Apa-apa. Sebenarnya shalat tahajjud yang sebenarnya itu apa sih Rud, dan
apa manfaatnya?”
“
Menurut buku yang pernah Aku baca Kak, shalat tahajjud merupakan kehormatan bagi seorang muslim, sebab
mendatangkan kesehatan, menghapus dosa-dosa yang dilakukan siang hari,
menghindarkannya dari kesepian dialam kubur, mengharumkan bau tubuh, menjaminkan
baginya kebutuhan hidup, dan juga menjadi hiasan surga. Masih banyak sih manfaat yang lain”. Rudi
memandangi mataku.
“ Selain itu apa?”
Tambahku.
Rudi menarik nafas
dan menghembuskannya secara perlahan.” Selain itu, salat tahajjud juga
dipercaya memiliki keistimewaan lain Kak, dimana bagi orang yang mendirikan
salat tahajjud diberikan manfaat, keselamatan dan kesenangan di dunia dan akhirat, antara lain wajahnya akan memancarkan cahaya keimanan,
akan dipelihara oleh Allah dirinya
dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung arti dan dituruti
oleh orang lain, trus akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang
yang mengenalinya, dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang bercahaya,
diberi kitab amalnya ditangan kanannya, dimudahkan hisabnya, berjalan diatas shirat bagaikan
kilat. itu sih Kak kalau tidak salah.” Jelas Rudi panjang.
“ Hmm ya sudah,
nanti Kakak cari tau lagi deh heehe. Tidur sana sudah larut ini”. Jawabku
sambil mengajaknya untuk melanjutkan tidur.
*****
7 @Tak Semuanya Indah
Satu bulan setelah meninggalnya Ayah dan
Ibu Aku sudah bisa sedikit lepas dari kesedihan, Aku tak mau terus terpuruk
dalam jurang kesedihan itu. Aku harus menjalani aktifitas ku seperti biasanya.
Ayah dan Ibu pasti lebih bahagia jika anaknya bisa menjadi seperti yang mereka
inginkan dulu. Walau Ayah dan Ibu telah tiada, tapi Aku harus bisa tetap bisa
menjadi seperti yang diinginkan Ayah dan Ibuku.
Sore
itu langit tampak cerah, angin yang bertiup perlahan menghembuskan setiap butir
debu yang berterbangan. Setelah Adzan Ashar Aku menyempatkan diri kerumah
Arvina. Memang sejak pertama Aku sudah terkesan dengannya, dialah perempuan
pertama yang membuat hatiku berdesir. Motor ku pacu dengan perlahan. Beberapa
menit kemudian Aku sampai didepan rumah Arvina, pohon beringin menyambut dengan
menggoyangkan ranting dan daunnya.
“
Assalammualaikum!” sambil ku ketuk beberapa kali pintu rumahnya
“Waalaikumsalam,!”
jawab seseorang dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka. Terlihat
sosok perempuan memakai baju lengan panjang berwarna ungu dipadu dengan rok
hitam panjang yang anggun. “ Silahkan masuk Kak, tumben ada apa ini?” Tanya
Arvina padaku.
“ Tidak ada apa-apa, kebetulan tadi Kakak lewat
sini, jadi Kakak sekalian mampir, tidak apa-apa kan!”
“
Oh ya, Silahkan duduk Kak!” tangannya mengayun mempersilahkanku duduk di sofa.
Hatiku
semakin tak menentu, Aku semakin ragu untuk menyatakan cintaku pada Arvina.
Tapi dengan sedikit keberanian Aku mulai membuka kata padanya. Mencoba
merangkai beberapa kalimat untuknya.
“
Sebenarnya ada yang mau Kakak bicarakan padamu Arvina!”
“
Apa itu Kak?” Tanya nya heran. Sambil menyelipkan tangannya ke bawah rok.
“
Sebenarnya ada perasaan yang tak Kakak mengerti yang Kakak rasakan!” mataku
mencoba menatap mata Arvina. “ Sejak pertama Kakak sudah terkesan dengan dirimu
Arvina, terkesan dengan wajahmu yang cantik, terkesan dengan kedua matamu,
terkesan dengan semua yang ada padamu Arvina!”
Wajah
putih Arvina merona. Ia hanya terdiam dengan beberapa kata yang ku ucapkan.
“
Memang kenapa denganku Kak?” Arvina menundukkan kepalanya.
|
33
|
|
34
|
Mendengar
kata-kataku Arvina hanya diam, tak banyak kata yang diucapkan dari bibirnya.
Aku hanya menunggu balasan dari dirinya. SAYANG, Aku menunggu satu kata itu.
Aku menunggu Arvina mengatakan bahwa ia juga sayang padaku.
Arvina
juga belum merespon sedikitpun kata-kataku. Ia masih sedikit bingung dengan apa
yang telah Aku ungkapkan padanya. Mungkin begitu cepat aku mengatakan ini
semua. Sampai akhirnya Aku memutuskan untuk pulang, tak ada sedikitpun jawaban
yang keluar dari mulutnya. Diam dan hanya diam.
Sampai
dirumah pun Aku masih menunggu jawabannya. Aku ambil handphone disaku celana,
ku coba mengirim pesan kepadanya.
“
Assalammualaikum, Arvina semoga kamu tahu
bahwa Kakak benar-benar sayang denganmu. Kakak begitu terkesan dengan mu sejak
awal kita bertemu!”
Tak
selang berapalama ku kirim pesan kemudian satu pesan balasan dari Arvina masuk.
“
Waalaikumsalam, terima kasih kak telah
menyayangiku. Bagiku Kakak memang pria baik yang mampu membuatku tenang jika
berada disisi Kakak!”
Aku
tersenyum sendiri memebaca sms dari Arvina. Lebih dari lima kali Aku membacanya.
Kemudian Aku kembali menulis dan kukirimkan pada Arvina.
“
Arvina, sebenarnya kamu sayang atau tidak
dengan Kakak?”
Pesan
telah kukirim. Tapi balasan dari Arvina belum juga Aku terima. HP terus ku
timang-timang sambil menunggu sms darinya. Bosan Aku menunggu akhirnya kukirim
lagi satu pesan untuknya.
“
Kamu bingung menjawab pertanyaan Kakak?,
Tak usah begitu kau pikirkan pertanyaan itu, Kakak Cuma mau bilang kalau
bayangmu selalu hadir didalam pelupuk matak Kakak!”
Tak
selang berapa lama baru sms dari Arvina masuk. Gejolak hati semakin bertambah
kuat. Ku baca sms yang masuk.
“
Maaf Kak, sebenarnya ku juga sangat mengagumi
Kakak, ingin rasa hati untuk selalu memandang dan berada disisi Kakak!”
Aku
membalas singkat.
“
Bisakah sekarang kita bertemu? Untuk
membagi rasa yang ada dalam hati kita?”
Spontan
sms dibalas oleh Arvina cepat.
“
Dimana Kak?”
Aku
pun kembali membalas dengan singkat.
“
Dalam mimpi kita!”
Malam
semakin larut. Obrolan kami melalui pesan singkat berhenti. Dalam hatiku
berharap untuk bertemu perempuan yang menggetarkan hatiku, perempuan yang bisa
membuat Aku tenang selama Aku berada disisinya, Arvina.
*****
8 @Cinta Tak Harus Memiliki
Semakin hari hubunganku dan Arvina
semakin dekat. Ada sebuah ikatan yang mengikat antara kami berdua. Ikatan yang
biasa dirasakan oleh sepasang muda-mudi.
Pacaran, walau dalam islam tidak ada kata itu tapi kebanyakan para remaja yang
melakukannya, termasuk Aku. Memang Arvina bukan orang pertama yang pernah
mengisi hatiku. Tapi pada dirinya lah Aku benar-benar merasa berbeda. Aku
sangat menyayanginya.
Pagi
ini Aku tak ada kegiatan. Hari minggu begini biasanya Aku pergi dengan Rudi,
tapi sayangnya ia lagi pergi dengan teman kuliahnya. Biasanya setiap akhir
pekan Aku selalu dengannya tapi kali ini beda, akhir pekan menjadi sangat
membosankan.
Aku
duduk didepan teras rumah. Angin yang bertiup begitu sejuk, pohon-pohon menari
mengayunkan setiap dahannya mengikuti hembusan angin. Tiba-tiba seorang
perempuan datang menghampiriku, wajahnya agak oval, hidungnya tidak terlalu
pesek, Aku mengenali perempuan itu. Safitri, ya perempuan yang menghampiriku
itu Safitri teman baik Arvina.
“
Assalammualaikum” Safitri menjulurkan tangan kanannya.
Aku
menyambut tangannya, menyalami. “ Waalaikumsalam.”
|
37
|
|
38
|
Aku
terdiam,” selagi Kakak mampu, insyaAllah akan Kakak lakukan.” Aku berusaha
bernafas lancar walaupun hati sedikit berdetak.
“
Kami mohon kak jangan sakiti Adik Kakak sendiri!”
Aku
terperanjat, terkejut, sedikit bergerak memperbaiki tempat dudukku,” memang
salah Kakak apa Safitri? Terus kenapa dengan Adik Kakak?”
“
Kakak memang tidak salah, tapi Kakak jangan terus menyakiti hati teman saya
yang juga Adik Kakak!”
“
Rudi maksudmu?” Aku sedikit heran.
“
iya Kak, mungkin Kakak tidak tahu, sebenarnya Arvina itu adalah kekasih Adik
Kakak, Rudi. Mereka memang sudah putus, tapi asal Kakak tahu Adik Kakak masih
sangat menyayangi Arvina. Sebelum Kakak dan Arvina dekat, sebenarnya Rudi sudah
mengajaknya untuk kembali menerima Rudi menjadi kekasihnya.” Terang Safitri
jelas.
Aku
terdiam. Sedikit tak percaya. Tanpa sadar Aku telah menyakiti dan melukai hati
Adikku sendiri. Aku meremas genggaman. Aku tertunduk tak bisa untuk mengangkat.
Mataku menjadi berkaca-kaca, sedikit berair. Aku memejamkan mata, haruskah Aku
menjauh dari orang yang telah sangat kusayangi. Aku sedikitpun tak menduga,
terbesitpun tak ada dalam pikirannya jika Rudi juga menyayangi Arvina. Hatiku
menjadi tak menentu, sakitpun seolah tak tergambar, terlebih jika Aku mengingat
nama Rudi yang telah menjadi Adik sekaligus sahabat yang begitu dekat denganku.
“
Maaf Kak jika Aku telah membuat Kakak bingung, Aku melakukan ini demi kebaikan
Kakak dan juga Rudi!” Safitri meninggalkanku. Berjalan lurus sampai hilang
menyisakan bayangan.
Langit
tampak cerah. Awan bergumpal-gumpal berjalan beriringan mengikuti setiap
hembusan angin. Rudi baru pulang. Ia melangkah kearah kamar, Aku menghadang
didepannya.
“
Boleh Kakak minta tolong Rud?”
“
Boleh kak!”
Aku
membuang pandangan sesaat, kuhirup nafas kuat-kuat,” bisa antarkan Kakak
kerumah Arvina teman kuliahmu ?”
Wajah
Rudi berubah menjadi mengkerut. Tangannya menggaruk-garukkan kepala.
“
Apa yang mau kita lakukan disana kak, Aku kan juga baru pulang!”
“
Kakak cuma ingin main kerumahnya!” jawabku pelan.
“
Apa maksud Kakak agar Aku mengantar Kakak kesana?”
“
Kakak ingin tahu bagaimana kedua matamu itu melihatnya,”
“
Hanya itu kak!” Rudi mengeras.
“
Ya.”
|
40
|
|
39
|
“
Jangan bersamaku Kak!”
“
Kenapa?”
“
Terserah Aku Kak!” Rudi kembali mengeras.
“
Baiklah, tapi Kakak tidak mau menyakitimu Rud,” Aku berpaling, kaki
kulangkahkan untuk pergi.
“
Tunggu Kak!” Rudi mencegah. Sepertinya ia berubah pikiran. “ Baiklah Kak, ayo
kuantar sekarang,”
Aku
dan Rudi berangkat berboncengan menuju rumah Arvina. Tak lama motor dipacu kami
berdua sampai didepan rumah berwarna hijau dengan pohon beringin didepannya.
Pintu tampak terbuka, satu jendela menganga, Aku mengetuk pintu,”
Assalammualaikum!”
“
Waalaikumsalam,,,” tak selang berapa lama salam tersahut, Arvina keluar,
kerudungnya berwarna biru sama dengan baju yang dipakainya, senyum manis
terpancar dari wajahnya,” Mari masuk!”
Saat
melihat Rudi bersamaku paras Arvina menciut, wajah Rudi juga mengkerut. Dua
insan saling menatap dimuka pintu. Arvina menjulurkan tangan,” Silahkan duduk Kak
Rei, Rud,”
“
Ada apa Kak?” Tanya Arvina heran.
“
Kalian berdua tidak apa-apakan?” Aku tak sadar mengucap.
“
Maksud Kakak apa?” sahut Rudi.
“
Jangan bohong Rud, Kakak tahu.Maaf kalau selama ini Kakak tidak tahu Arvina
adalah perempuan yang dulu kau cinta, dan sebenarnya kamu masih menyimpan rasa sayangmu
pada Arvina. Kalau kau memang sayang katakana Rud,” nada bicaraku sediktit
tinggi.” kamu juga Arvina, kalau kamu memang masih sayang dengan Rudi
katakanlah, sekarang Rudi ada dihadapanmu.” Aku sedikti memaksa.
“
Kakak!!!” Rudi mencegah.
Arvina
menundukkan kepala, kedua tangan menutupi wajahnya.
“
Aku ikhlas kak dengan semua ini, Aku juga sudah menganggap Arvina sebagai Kakak
perempuanku, seperti Aku menganggapmu sebagai Kakak!” tambah Rudi.
Aku
tersentak. Arvina hanya diam, matanya berkaca.
“
Aku tahu kedatangan Kakak dan Rudi kesini, tapi mohon sekarang tinggalkan Aku
sendiri. Untuk sekarang Aku mau sendiri,” ucap Arvina, matanya masih berkaca,
dipipinya dibasahi oleh air matanya.
“
Kita harus bicara Kak!” Rudi menghampiriku yang duduk di sudut sofa.
“
Apa ?”
Rudi
tak menjawab, ia melangkah keluar rumah. Aku mengekor dibelakang.
Motor
dipacu kencang oleh Rudi, menyelip diantara kendaraan yang lewat. Rem dipijak, ban mendesit di aspal. Rudi
turun, Aku masih duduk diatas motor.
“
Sekarang Kakak katakan apa sebenarnya maksud Kakak?”
Aku
turun dari motor, melangkah mendekati Rudi.
“
Sebagai Kakak Aku tidak mau terus-terusan menyakitimu Rud! Kakak tahu kalau
kamu masih sayang dengan Arvina. Kalau memang kalian berdua masih saling
sayang, kembalilah, rajutlah cinta kalian yang dulu.”
“
Kakak salah kak!” Rudi mengelak.
“
kenapa?”
“
Kalau memang benar Aku masih sayang dengan Arvina tak perlu Aku harus
bersamanya. Karna sekarang ia sudah bersama Kakak. Aku bahagia jika bisa
melihat Arvina bahagia dengan Kakak. Lagi pula cinta itu tak harus memiliki.
Cinta juga harus bisa mengikhlaskan jika orang yang kita cinta itu telah
mendapatkan pengganti yang lain.” Jelas Rudi panjang.
Aku
terdiam mendengar penjelasan darinya. Aku tahu sifatnya memang dia tak pernah
terlalu memikirkan apa yang terjadi. Tapi walaupun memang dirinya mengikhlaskan
Arvina untukku, tapi Aku begitu berat menjalaninya. Tak mungkin Aku bisa
tertawa jika ada hati yang terluka, tak mungkin juga Aku tersenyum jika disuatu
sisi ada hati yang tersakiti.
*****
9 @Rasa Tak Percaya
Waktu berjalan begitu cepat, siang
berganti malam, panas berganti dingin, musim hujan sudah berganti menjadi musim
kemarau. Tak kusangka hubunganku dan Arvina sudah berjalan selama tiga bulan.
Tapi hatiku masih begitu merasa bersalah dengan Rudi. Tapi semakin lama Aku
menjalani hubungan dengan Arvina rasa sayang yang tumbuh dihatiku semakin
bertambah. Benih – benih cinta yang telah tumbuh sudah berkembang. Semakin hari
rasa itu semakin terasa sangat dalam. Cinta memang yang sedang kurasakan ini
adalah cinta. Aku merasa sedang dimabuk cinta.
Hari
ini sepulang dari kuliah Aku menyempatkan diri datang ke sanggar kreatifitas
delapan. Sudah lama Aku memang tidak bertemu dengan teman-teman disana. Sampai
disanggar sanggar terlihat seperti biasa. Banyak kendaraan yang diparkirkan
diluar. Sebelum masuk, Aku duduk dikursi panjang yang ada didepan sanggar,
tepat berada dibawah pohon mangga yang rindang. Udara yang terhirup begitu
segar.
Tas
kuletakkan dibawah kursi, saat Aku mengambil handphone di tas, tiba-tiba tiga
orang perempuan menghampiriku, mereka duduk mengumpul disampingku, berjejer,
ditangan mereka tergenggam selendang. Walau tak begitu hafal nama mereka satu
persatu tapi Aku tahu mereka bertiga adalah siswa yang belajar tari di
kreatifitas delapan.
“
Kakak, kok sekarang jarang datang kesini?” salah satu dari mereka bertanya padaku,
lesung pipinya terlihat saat ia tersenyum.
“
Iya, maaf ya, soalnya Kakak juga lagi sibuk membuat laporan praktek!” jawab ku
sambil membalas senyumannya.
“
Oh ya kak, boleh kan kami bertanya sesuatu!” salah satu dari mereka menambah,
paling muda rambutnya panjang terurai.
“
Iya boleh, selagi pertanyaannya tidak aneh-aneh!”
“
Kak Arvina itu pacaar Kakak kan? Itu yang siswa yang paling cantik disini Kak?”
Aku
memperbaiki tempat dudukku. Keningku mengerut, Aku sedikit heran dengan
pertanyaan mereka. Aku pun menjawab singkat,” Iya benar, memang kenapa?”.
“
Tapi Kakak jangan marah ya!” perempuan berlesung pipi dalam meyakinkan.
“
Iya Kakak tidak marah kok!”
“
Kemarin siang kami bertiga lihat kak Arvina berduaan kak dengan laki-laki
lain!”
Aku
memejamkan mata. Berusaha tak menanggapi kata-kata dari mereka.
“
Iya Kak benar tuh, laki-laki itu juga sering Kak datang kerumah kak Arvina,
soalnya rumahku kan dekat dengan rumah Kak Arvina!” tambah perempuan yang
berhidung pesek yang sejak tadi hanya diam.
Hatiku
semakin merasa tak tenang. Benarkah apa yang barusan Aku dengar dari tiga orang
perempuan ini. Apakah harus kupercaya atau tidak. Aku menjadi tak bisa berkata,
hanya sedikit saja yang kuucapkan.
“
Boleh Kakak tahu siapa laki-laki itu?”
Tiga
perempuan itu saling pandang, perempuan yang berambut panjang menjawab.
“
Kak Rudi !”
Aku
seketika terhempas mendengar nama Rudi. Laki-laki yang pergi dengan Arvina itu Rudi.
Lagi-lagi Aku tak begitu menduga sedikit rasa tak percaya dengan apa yang baru
Aku dengar. Memang Rudi lebih awal menyimpan hati untuk Arvina. Tapi apakah
mungkin dia mau kembali lagi menundukkan hati Arvina. Bukankah ia juga pernah
bilang kalau telah ikhlas dengan semua yang terjadi. Perasaanku semakin
bercampur aduk tak menentu. Semua rasa hadir dalam hatiku, cemburu, galau,
marah semua menjadi satu.
“
Maaf ya Kak, kami tidak bermaksud membuat….” Belum selesai perempuan itu bicara
Aku langsung memotongnya.
“
Tidak apa-apa, makasih yah!” ujarku dengan lirih.
“
Soalnya kami semua heran, kan yang pacaran dengan Arvina itu Kakak, tapi kenapa
kok Kak Rudi yang sering jalan dan kerumahnya. Sekali lagi mohon maaf Kak,” Tambah
perempuan berambut panjang, ucapannya sedikit merasa bersalah. Lalu mereka
bertiga meninggalkanku, kembali bersama yang lain latihan menari.
|
46
|
10
@Kejujuran Yang menyakitkan
Matahari yang tinggi semakin terik.
Burung gereja berterbangan dari pohon ke atap membawa sejarik rumput untuk
membuat sangkar. Angin berhembus dari utara keselatan. Tas ransel kembali ku
letakkan dibelakang punggung, tak ada lagi semangat untuk melihat keadaan
sanggar dan seisinya. Kulangkahkan kaki kearah sepeda motor. Tiba – tiba dengan
tergesa-gesa Safitri menghampiriku, sambil membawa sebuah novel.
“
Tunggu Kak, ini ada titipan dari Arvina. Ia mau mengembalikan novel yang Kakak
pinjamkan.” Ucap Safitri dengan nafas yang terbata-bata.
“
Oh iya terima kasih yah. Arvinanya mana Fit?” tanyaku sambil mengambil novel
yang diberikan oleh Saafitri.
“
Aku tidak tahu kak, dia tadi cuma pesan untuk mengembalikan novel ini ke Kakak,
kalau begitu Aku masuk lagi ya Kak!” jawab Safitri sambil mengarahkan
langkahnya kembali masuk kedalam sanggar.
Sejenak
Aku terdiam. Kemudian ku buka novel yang diberikan oleh Safitri, tanpa sengaja
selembar kertas terjatuh dari dalam novel. Aku ambil selembar kertas itu dan
langsung membacanya.
Andai Aku berani untuk
mengungkapan semua ini, tanpa harus dengan sepucuk surat ini, tapi apa dayaku
Aku atak mampu mengungkapakan kejujuran ini.
Tak pernah kuduga cinta
akan seperti ini, tak bisa Aku mengatur cinta. Aku tak menduga semua akan
berubah secepat ini, kenapa tak bisa Aku terima kenyataan ini. Entah apa yang
sekarang Aku inginkan Akupun semakin tak mengerti. Perasaan bersalah semakin
mengusikku. Aku inginkan dirinya sedang Aku adalah milikmu.
Aku tahu mungkin Kakak
kecewa, Kakak boleh membenciku ataupun merasa benci pada diriku sendiri. Cinta
seakan hanya permainan dan percobaan, sungguh Aku tak terbayang akan begini
jadinya. Ini menyakitkan buatku, semakin Kakak mengalah untukku semakin perih
hatiku. Betapa jahatnya kau yang tak bisa menerima ketulusan cinta Kakak. Aku
tak ingin terus dan terus membuat Kakak kecewa.
|
48
|
Aku sadar Aku tak
pantas menuntut cinta. Sejak dulu Aku selalu mencoba menghindari cinta yang
sebenarnya Aku inginkan, karna kau sudah tau cinta itu akan sesakit ini tapi
cinta tak bisa disalahkan. Aku tak menyesali semua ini, karna Aku yakin ada hikmah
yang sangat besar dari cerita yang bagiku sulit ini. Aku sudah terlalu letih
menjalani ini. Biarkan Aku tenang, sendiri dulu.
Aku
terdiam membisu dihadapan secarik kertas. Rasa dingin yang datang langsung
menjelma kedalam sumsum, rasa hati perih. Hati yang utuh menjadi hancur seperti
daun yang berguguran. Perasaan hatiku begitu menyiksa batin, tak kuasa menerima
kenyataan yang telah terjadi. Arvina adalah perempuan yang benar-benarku cinta,
mengapa begitu tega membuatku menjadi seperti ini. Aku tak tahu lagi apa yang
harus kulakukan, yang ku tahu Aku butuh satu kepastian.
Aku
mengambil handphone.
“
Apa maksud semua ini Arvina? Apa Kakak
tidak pantas untukmu?”
Tak
selang berapa lama Arvina membalas.
“
Aku bukan yang terbaik buat Kakak. Aku takut
membuat Kakak kecewa. Maafkan Aku.”
Ku
timang handphone yang tergenggam di tangan kiriku. Aku meninggalkan sanggar
tanpa pamit, kegalauan menerpa hatiku. Sepeda motor ku pacu kencang. Menyalip setiap
kendaraan yang lewat.
Sampai
dirumah Aku langsung masuk kamar. Pintu ku tutup rapat. Tak ada lagi rasa dalam
hatiku, Aku berada didalam ujung kehampaan. Yang terfikirkan hanya Arvina dan Rudi,
orang yang begitu sangat Aku sayangi. Perlahan ku ambil handphone didalam saku.
Ku beranikan diri menghubungi Rudi,”Assalammualaikum,”
“
Waalaikum salam.”
“
Rudi….”
“
Ada apa kak?”
“
Kamu sekarang dimana Rud..?” Aku
berharap bisa menemuinya.
“
Maaf kak Aku lagi sibuk!” suara
langsung terputus. Tak berapa lama satu pesan masuk dari Rudi.
“
Assalammualaikum. Sebelumnya Aku minta
maaf Kak, Aku lelah dengan semua ini, sekarang Aku dan Arvina sudah
kembali merajut tali kasih sayang dan ku
harap Kakak mengerti akan semua ini. terserah Kakak mau menganggapku apa, tapi
Aku masih menganggapmu sebagai sahabat dan juga Kakakku. Terima kasih untuk
semuanya Kak, sekali lagi Aku minta maaf.”
Ku
lepaskan handphone dalam genggaman, jatuh diatas lantai. Aku tersungkur
direlung tangis, ku keluarkan air mata yang selama ini tertahan. Walau tak
pantas seorang lelaki menangis tapi perihnya hati yang terasa menghancurkan
bendungan air mata itu, mengalir membasahi pipi. Tubuhku bergetar mengikuti
petikan dawai kesedihan. Hati terus merintih. Ku merasa menjalani hidup tiada
arti. Rasa senang sedikit terselip dihati melihat orang yang disayang bahagia,
tapi rasa perih didada tak bisa terus tertutupi.
Tanpa
sadar aku telah tertidur dan terbangun pukul 2 dini hari. Pikiranku masih
terpusat pada Rudi dan Arvina. Aku beranjak dari tempat tidur, dan teringat
pesan dari Pak RT lagi yang selalu mengingatkan, jika terbangun dari tidur
dimalam hari cobalah untuk mendirikan tahajjud.
Akupun
mengarahkan langkah kekamar mandi, membasuh muka, tangan dan kaki untuk
berwudhu. Ku bentangkan sajadah kecil berwarna merah pemberian dari Rudi saat
ulang tahunku. Ku membaca niat untuk sholat tahajud.
“ USHALLIISUNNATATTAHAJJUDI
RAK'ATAINI LILLAAHI TA'AALAA ” .
Selesai
sholat, air mataku terjatuh kembali. Aku masih mengingat Rudi dan Arvina. Tak
mau menahan kesedihan lebih lama Aku beranjak dari kamar dan keluar rumah.
Kuhidupkan kendaraan bermotor ditengah kesunyian malam. Mencoba mencari sedikit
ketenangan diluar sana. Rudi pun keluar dari kamar mendengar suara motor yang Aku hidupkan. Sambil mengucek
kedua matanya ia mendekatiku.
“
Kakak ngapain pagi-pagi buta begini hidupin nih motor”.
Aku
hanya diam, tak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari Rudi.
“
Kakak Marah dengan Aku Kak?” Rudi kembali bertanya dengan nada lirih.
“
Pikirkan saja sendiri Rud”. Jawabku cetus sambil menaiki sepeda motor yang
sejak tadi kuhidupkan.
“
Kakak Mau kemana? Maafkan Aku Kak”. Rudi mencoba untuk mencegah.
“
Mencari Kehidupan, yah sudah Kakak maafkan Rud”. Jawabku singkat dan sambil
menarik gas kendaraan bermotor, meninggalkan Rudi didepan halaman Rumah.
Sepeda
motor kukendarai dengan begitu cepat, situasi jalan sepi hanya ada beberapa
kendaraan yang lewat. sepeda motor ku tambah kecepatan, menyalip kendaraan yang
lewat. Kemana arah yang kutuju Aku tak tahu yang jelas sepeda motor yang
kukendarai terus kutambah kecepatan.
Pikirankupun
masih terbayang soal Rudi dan Arvina, semuanya masih begitu jelas tersimpan
dalam memori otak. Kecepatan semakin kutambah,kecepatannyaya melebihi lari sang
jaguar, dan tanpa sadar motor yang kukendarai hilang keseimbangan, terus
mengarah kesisi kiri jalan hingga menabrak trotoar jalan. Aku terpental sejauh
lima meter. Tak ada lagi yang bisa kurasa. Darah merah segar mengalir dari
hidung. Kepala terasa pusing dan seluruh badan terasa remuk. Beberapa orang
mngerumuni dan berusaha menolongku. Mataku mulai kabur, berkunang-kunang hingga
semua menjadi gelap.
*****

Komentar
Posting Komentar